CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Pengakuan Terhadap Brian.


__ADS_3

Pak Basil atau papanya Dewa langsung memeluk Brian dan meneteskan air matanya serta berulangkali mencium kening Brian.


"Mirip dengan Dewa waktu kecil," ucap Nania dan hal di benarkan oleh papanya Dewa.


"Kenapa Brian memanggil pria itu dengan ayah?" pak Basil bertanya dengan hati-hati pada Nania.


"Nama saya Gerol, anak kandung profesor Dadang. mamanya juga anak-anak, Pak. kadang di panggil ayah, Papa dan terakhir Om.


Kalau jadi papanya Brian, aku tidak keberatan dan malah akan bahagia dengan panggilan itu. karena aku menyukai Gerol dan juga bunda nya." ucap Gerol dan kemudian tersenyum.


Gerol yang menjawab pertanyaan dari papanya Dewa dengan santai dan seperti bercanda.


"Ngak usah di ambil hati, Pak. hanya Gerol anak pengusaha yang berhasil bertahan dari antara korbannya Geisya." sanggah Nania dan kemudian tersenyum.


Sejenak hening dan Dewa terlihat sangat ingin memeluk Brian.


"Brian...! itu ayah kandung mu, namanya Dewa."


"Sudah tahu bunda, Dewa Wisnu atau Dewa Brahmana?" ujar Brian dan bertanya.


"Dewa asmara yang sedang di mabuk rindu."


hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' suara tawa Brian karena jawaban dari Gerol.'


Tawa Brian di iringi tangisan dari pak Basil tapi para akhirnya ikut tertawa.


Kebahagiaan yang bercampur tangisan yang haru, demikian juga dengan Susi dan juga Indra.


"Brian kenal sama Keyla?" Susi bertanya seraya mendekati Brian.


"Baru kenal aunty, kami satu sekolah. tapi Oma nya Keyla memelukku." jawab Brian dengan begitu lucunya.


"Itu Oma Brian, tapi ngak bisa ikut karena menjaga Keyla di rumah." ujar Susi dan kemudian memeluk Brian.


Demikian juga Indra yang ikut memeluk Brian yang lucu, terlihat Dewa yang terus menerus meneteskan air matanya dan sangat ingin memeluk Brian.


"Bisakah ayah memeluk mu?" akhirnya Dewa buka suara.


Suaranya yang serak dan pelan karena menangis, lalu Susi dan Indra mengakhiri pelukan mereka.


Brian langsung memeluk Dewa, dan suara tangisan Dewa langsung pecah dan persis seperti anak kecil.


"Sakit kuping Brian," kata Brian yang meronta dan akhirnya lepas dari pelukan Dewa.


Tangisan Dewa yang pecah dan memekakkan telinga Brian.

__ADS_1


Indra berusaha menenangkan sepupunya, agar tidak menyakiti kuping Brian dengan tangisannya yang kuat.


Brian mendekati opa nya dan kemudian mencium tangannya.


"Opa...! tolong jangan pisahkan Brian sama bunda, Brian sangat menyayangi bunda."


"Kok Brian ngomong gitu?" tanya opa nya ke Brian.


"Kali saja opa mau memisahkan kami berdua, karena opa punya banyak uang dan mampu melakukan apapun." jawab Brian dengan raut wajahnya yang sedih.


Pak Basil memeluk cucunya dengan begitu erat dan kemudian memangku Brian.


"Tidak akan pernah opa pisahkan Brian dengan bunda mu, tapi dengan satu syarat. opa dan oma mu harus bisa bertemu dengan mu."


"Okey...! Gampang itu, nanti Brian sama Oma Wadeh tinggal ke rumah opa saja."


Jawaban dari Brian membuat opa nya tersenyum tapi air matanya menetes di pipinya yang sudah mulai keriput.


"Akhirnya bapak punya cucu, jikapun nanti bapak meninggal dunia dan bapak sudah ikhlas.


Karena sudah memiliki dua cucu, satu laki-laki yang tampan dan sehat serta satu cucu perempuan yang sangat luar biasa." ujar pak Basil yang masih menggendong Brian.


"Brian...! Yuk makan sayang."


"Yuk makan bareng saja, sama anak-anak yang lain." ucap Nania yang mengajak semuanya untuk makan bareng.


Brian juga mengajaknya opa nya dan mereka semua akhirnya ikut makan bersama dalam satu ruangan yang sangat luas bersama anak-anak lain di rumah singgah tersebut.


"Opa suapi, Iya!" ucap pak Basil ke cucunya.


"Brian sudah bisa makan sendiri Opa, tapi kalau Opa ngak keberatan Brian mau di suapi deh." ucap Brian.


Pak Basil langsung menyuapi cucunya, matanya berbinar-binar.


Dewa hanya melihat pemandangan itu, papanya yang menyuapi anaknya. berkali-kali Dewa menyeka air matanya.


"Om kok nangis? makanannya ngak terlalu pedas." ucap seorang anak laki-laki yang duduk disampingnya Dewa.


"Mata om kemasukan kuah sayur, air mata bisa mengurangi kepedihannya." sanggah Dewa.


Sejenak Nania memperhatikan Dewa yang berbohong, tapi acara makan harus berlanjut dan tidak ingin merusak momen.


Selesai makan dan anak-anak sudah kembali belajar seperti biasanya.


Nania mengajak Dewa dan keluarganya ke ruang tamu untuk menikmati teh herbal. sementara Brian sedang bermain dengan Opanya .

__ADS_1


Mama Wadeh mengajak Brian untuk mengerjakan tugas sekolahnya, bocah itu pamit pada Opanya dan kemudian mengikuti mama Wadeh.


Sementara Gerol sudah pulang untuk menjemput profesor Dadang.


"Bapak...! bapak telah berjanji akan membantu Nania untuk bercerai dari Dewa, tapi kenapa sampai saat ini perceraian kami tidak terlaksana?" ujar Nania dengan tatapannya yang teduh.


Susi langsung mendekati Nania dan kemudian meraih tangannya dengan lembut.


"Setiap laki-laki yang berhasil di goda oleh Geisya, dan itu artinya laki-laki itu sudah selesai di hati mu.


Susi bukannya membela Dewa, tapi ada yang salah dengan sasaran dari perempuan itu.


Video asusila Dewa bersama perempuan itu adalah rekayasa, itu sudah terbantahkan dengan penyelidikan forensik.


Dewa tidak terbukti melakukan perbuatan tercela itu.


Tujuan Susi ingin bertemu dengan mu, hanya karena sangat merindukanmu. sekaligus menyampaikan hal ini.


Tapi aku mendukung akan apapun yang menjadi keputusan mu, aku ingin kamu bahagia dengan pilihan mu.


Engkau adalah sahabat ku dan juga saudara ku yang paling aku cintai."


"Bapak sependapat dengan Susi, disini bapak hanya meluruskan akan permasalahan yang ada.


Seperti kata Susi yang sudah bapak anggap sebagai putriku demikian juga dengan Nania, bapak mendukung keputusan mu.


Tapi ijinkan bapak untuk bisa selalu bertemu dengan Brian.


Tidak ada keraguan dan alasan bapak untuk menyangkal Brian sebagai cucuku. saat pertama kali disini, darah ku terasa mengalir di sekujur tubuhku.


Mengenai hubungan Nania dan Dewa, biarlah itu menjadi urusan kalian berdua.


Bapak janji tidak akan mencampuri urusan kalian berdua dan tidak pernah merebut Brian dari pelukan Nania.


Bapak hanya meminta untuk bisa selalu bertemu dengan Brian, seperti bapak bertemu setiap hari dengan Keyla.


Bapak bersedia menjadi supir antar jemput Brian dan Keyla setiap harinya, karena inilah kebahagiaan bapak yang sesungguhnya." ujar pak Basil yang sependapat dengan Susi.


"Besok kita bicara lagi, berhubung sudah malam dan saatnya kami mau pulang ke rumah.


Karena besok Brian harus sekolah, kami juga sudah lelah beraktivitas seharian." sanggah Nania.


Mereka sepakat untuk melanjutkannya besok hari di rumahnya Dewa, akan tetapi Susi enggan berpisah dengan Nania.


Nania memastikan tidak akan kabur lagi dan akhirnya Susi bersedia pulang.

__ADS_1


__ADS_2