
Dengan diterimanya hasil penelitian mereka, sehingga berkahir penelitian mereka di pulau seram itu.
"Rekan-rekan ku sekalian, Nania memohon maaf karena tidak bisa ikut dengan kalian ke Jakarta."
"Kenapa Nania?" Sarah bertanya yang terlihat penasaran begitu juga dengan yang lainnya.
"Berhubung pabriknya belum selesai di bangun, nantinya rekan-rekan sekalian akan kembali ke laboratorium profesor Dadang.
Sementara Nania akan tinggal di kota Ternate, dari sana aku mengurus bahan-bahan yang akan kita gunakan.
Untuk mengolah bahan mentah menjadi setengah jadi, lalu akan dikirimkan ke Jakarta.
Setelah semua disini beres, barulah Nania menyusul kalian ke Jakarta." jelas Nania yang terus menerus mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.
Rapat mereka berkahir dan kemudian beres-beres agar segera kembali ke Jakarta, sementara Nania akan menetap sementara waktu di kota Ternate.
Selesai rapat dan mereka bersama-sama menuju pemilik rumah yang mereka sewa dan mengembalikan kuncinya.
"Kami telah merapikan rumah bapak, jika ada kerusakan. mohon hubungi Nania, karena saya akan bertanggungjawab penuh." ucap Nania setelah menyerahkan kunci rumah tersebut.
Pemilik rumah itu sangat percaya kepada Nania dan timnya, kemudian berterimakasih kepada Nania dan timnya yang sudah membantu masyarakat setempat.
Para warga mengantar Nania dan tim hingga ke pelabuhan dan mengiring mereka sampai kapal tidak terlihat dari daratan.
Nampaknya kehadiran Nania dan tim menjadi suatu sejarah baru bagi warga sekitar, pelayan medis yang awalnya hanya dari perorangan.
Sekarang sudah memiliki puskesmas yang sangat-sangat layak dan memiliki fasilitas yang cukup baik.
Persahabatan Nania dan timnya pada warga sekitar, memuat kisah yang mengharukan.**
Setibanya di kota Ternate, Nania langsung dijemput oleh seorang pria yang merupakan penduduk setempat.
"Nona Nania, Kah." tanya pria tersebut.
"Iya, Bapak." jawab Nania dengan begitu sopan.
Nania langsung di suruh naik ke mobil taksinya dan membawa Nania ke sebuah perumahan yang cukup asri.
"Nona Nania akan tinggal di dekat puskesmas ini, untuk berjaga-jaga." ucap pria tersebut.
Lalu membantu Nania menurunkan barang-barangnya dari mobil, Nania langsung di sambut perempuan paru baya yang sudah menunggu Nania.
"Mari masuk...! ucap wanita paru baya itu.
Nania menggandeng tangan perempuan paru baya itu, dan kemudian melihat dinding rumah.
"Apakah ini rumah masa kecil profesor Dadang?" Nania bertanya.
"Iya, Nona. hanya orang-orang spesial yang di ijinkan oleh profesor untuk tinggal disini." ucap perempuan paru baya.
__ADS_1
Namanya mama Wadeh, orang yang bekerja di rumah profesor Dadang.
"Siapa anak laki-laki itu? wajahnya sangat familiar" Nania menunjuk ke arah sebuah foto.
"Anak kandung profesor Dadang." ucap mama Wadeh.
"Lah, bukannya..!" sanggah Nania yang terlihat kebingungan.
"Dulu waktu masa kuliah, profesor Dadang memiliki kekasih. Kekasihnya itu hamil tapi hubungan mereka berdua tidak di restaui oleh keluarga kekasihnya.
Kekasihnya itu menikah dengan anak konglomerat di Jakarta, dan profesor Dadang frustasi hingga mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil.
Pinggulnya yang cedera dan menyebabkan terjadinya kemandulan, alias tidak bisa hidup anunya." jelas mama Wadeh.
"Siapa nama kekasihnya itu? terus kenapa bisa ada foto anak itu disini?" pertanyaan dari Nania yang bertubi-tubi.
"Sebenarnya kekasihnya itu masih sangat mencintai profesor Dadang, sehingga tetap mengirimkan setiap tahunnya foto anak itu.
Profesor Dadang memajangnya disini, rumah masa kecilnya dan tempat usahanya yang pertama kali." ujar mama Wadeh.
Mama Wadeh membawa Nania ke kamarnya dan membantunya untuk beres-beres pakaian Nania.
"Sudah berapa bulan?" tanya mama Wadeh disela-sela merapikan pakaian Nania.
"Sudah enam bulan, mama." jawab Nania dan kemudian tersenyum.
"Besok pagi saja, sekalian kita belanja bulanan, karena Nania capek banget." ucap Nania.
Mama Wadeh berkata akan siap membantunya, seketika Nania penasaran akan mama Wadeh.
"Mama Wadeh...!" nampaknya Nania merasa segan untuk bertanya mengenai kehidupan pribadi mama Wadeh.
"Santai saja nona Nania, ngak usah merasa segan seperti itu.
Aku dan suami dulunya sangat bahagia, tapi kedua orangtuanya suamiku yang sejak tidak merestui kami dan akhirnya suamiku pergi di kala aku hamil.
Mungkin karena frustasi dan sakit hati, sehingga aku tidak merawat badan ku dan alhasil keguguran serta rahim ku diangkat karena komplikasi.
Sangat-sangat menyesal akan kebodohan ku itu, suatu kebodohan yang teramat bodoh.
Mama Wadeh harap, kalau nona Nania. tidak kebodohan lagi seperti yang mama lakukan." ungkap mama Wadeh.
Nania berdiri dan kemudian memeluk mama Wadeh.
"Tidak akan pernah mama, Nania akan selalu menjaganya." ucap Nania.
Nania melepaskan pelukannya dan kemudian tersenyum seraya memegang tangan mama Wadeh.
"Tadi di ruang tamu, nona Nania berkata kalau wajah anak profesor Dadang sangat familiar. itu maksudnya, Apa?"
__ADS_1
Nania tersenyum dan kemudian menuntun mama Wadeh duduk di kasur seperti semula.
"Dulu Nania punya tetangga yang konglomerat, namanya Gerol. kali itu sering Nania ajarin matematika.
Nania bukan anak konglomerat, tapi Nania di adopsi oleh keluarga konglomerat yang akhirnya bangkrut.
Anak yang bernama Gerol itu, pindah sekolah ke luar negeri dan sampai sekarang kami tidak pernah berhubungan lagi.
Berharap tidak pernah bertemu untuk selama-lamanya.
Mungkin itu hanya mirip saja, karena keluarga Gerol. kemungkinan besar masih di Jakarta." ucap Nania seraya merapikan pakaiannya.
Akhirnya selesai juga mereka beres-beres dan mama Wadeh meminta Nania untuk istirahat.**
Besok paginya Nania bersama mama Wadeh berangkat ke pasar tradisional untuk berbelanja keperluan rumah dan juga perlengkapan baby.
Ternyata barang belanjaan mereka sangatlah banyak sehingga harus menyewa pickup.
Berhubung mama Wadeh adalah warga sekitar, sehingga dengan mudah menyewa mobil pickup.
"Bagiamana nona, apakah lebih mahal atau lebih murah ketimbang di Jakarta?" tanya mama Wadeh.
"Untuk perlengkapan baby jauh lebih murah disini, tapi untuk keperluan dapurnya jauh lebih mahal disini.
Wajarlah karena pabrik nya di Jakarta sehingga butuh ongkos kemari dan itu agak lebih mahal.
Tapi masyarakat disini sangat-sangat ramah, sudah seperti keluarga walaupun baru kenal." ucap Nania.
"Namanya pedagang nona, harus ramah pada pembeli agar barang jualannya laku." sanggah pak supir pickup.
hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' suara tawa mereka bertiga.'
Sanggahan dari supir pickup itu membuat mereka tertawa, memang tidak ada yang salah.
Sebab penjual harus ramah, agar pembeli mau membeli barang jualannya.
Tidak berapa lama kemudian, mereka sudah tiba di rumah dan supir pickup membantu mengangkat barang-barangnya.
Bahkan pak supir itu membantu merapikan semua barang dan membereskan semuanya.
"Ayo minum teh herbal," pinta Nania yang mengajak supir untuk minum teh.
"Nona tidak takut, Kah. melihat wajah yang seram ini?" tanya supir pickup itu.
"Ngak...! saya itu perawat, Pak. mulai dari yang seram sampai yang lemah gemulai, sudah sering ku hadapi."
Jawaban Nania membuat mereka bertiga langsung tertawa, jawaban yang spontan dan seperti apa adanya.
Namanya juga perawat yang langsung berhubungan langsung dengan pasien dari berbagai latarbelakang dan juga pribadi yang berbeda-beda.
__ADS_1