
Pada akhirnya pak Sanusi dan Nania tiba disebuah hotel, dan langsung menuju parkiran.
Dari parkiran dan kemudian naik lift menuju lantai enam belas, dan ternyata Nania dan pak Sanusi sudah ditunggu oleh kedua orangtuanya Dewa disebuah kafe yang berada di hotel tersebut.
Tempat yang sangat privat, terdapat beberapa ruangan yang disekat oleh kaca yang tebal.
"Kalian, sudah makan?" tanya Papa Dewa.
"Nanti saja, Pak!" jawab Nania.
Lalu ibu mertua Nania, menuangkan teh untuk dua orang. yaitu untuk menantunya dan juga supir pribadi yang sudah dianggapnya keluarganya.
"Maksudnya, Nania. apa sayang?" tanya ibu mertuanya yang memulai obrolan.
"Bu...! Nania. ngak keberatan jika harus bercerai dengan mas Dewa, sekalipun mas Dewa, menikah dengan Geisya.
Karena, sejak awal menikah. mas Dewa, tidak pernah mengganggap Nania sebagai istrinya.
Rumah sakit Jawara, yang merupakan aset terbesar Jaguar group. akan diambang kehancuran jika mas Dewa ngotot menggunakan cara dari Geisya." ungkap Geisya dengan tenang.
Terlihat bapak ibu mertua, meminum teh yang tersaji. terlihat jelas kekwatiran dari raut wajah mereka berdua setelah mendengar penjelasan dari Nania.
"Emangnya apa kelemahan yang dimaksudkan itu, Nania?" tanya bapak mertua dengan raut wajahnya yang sangat serius.
"Nania, tidak tahu Pak! Nania sudah bekerjasama selama bertahun-tahun dengan profesor Dadang. bahkan sudah seperti ayah kandung Nania sendiri.
Tapi sedikitpun menemukan aib, atau kelemahan dari profesor Dadang.
Seperti yang Nania, jelaskan sebelumnya. bahwa pemerintah pernah bekerjasama dengan profesor Dadang, untuk membuat vaksin.
Tapi itu gagal, karena tiba-tiba masuk anggota baru dari yang sudah disepakati sebelumnya. persis seperti yang dilakukan oleh mas Dewa.
Tentunya sudah terbuang uang ratusan juta, dan pemerintah membujuk profesor Dadang untuk melanjutkan proyeknya.
Tapi gagal dan mereka membuat fitnah untuk mengancam profesor Dadang, agar mau melanjutkan proyeknya.
Namanya fitnah, akan hancur sendirinya. dan semua oknum itu di penjara dan fasilitas penelitian itu dinyatakan di tutup berikut dengan rumah sakit pemerintah itu.
Rumah sakit pemerintah bisa di tutup, konon rumah sakit Jawara. jangan hanya karena nafsu akan proyek itu, tapi kita mengobarkan rumah Jawara.
__ADS_1
Tidak apa-apa rugi beberapa milyar rupiah, dari harus kehilangan rumah sakit Jawara. sebab di rumah sakit Jawara adalah awal dari Jaguar group.
Banyak kenangan disana, serta banyak orang-orang yang menggantungkan nasibnya disana serta pelayanan dan peralatan medis bertaraf internasional." ungkap Nania dengan tegas.
"Menurut, Nak Nania! apa yang harus bapak lakukan?" tanya bapak mertuanya dengan suara yang pelan.
"Resmikan pembatalan proyek profesor Dadang, untuk sementara waktu. agar mas Dewa dan Geisya membatalkan rencana mereka.
Nantinya, Nania. akan berusaha membujuk profesor Dadang, untuk melanjutkan proyeknya.
Tapi nanti, setelah agak tenang dan pernikahan Susi dan Indra sudah terlaksana." ujar Nania dan kemudian menyeruput tehnya.
Terlihat bapak mertuanya melakukan panggilan telepon, dan di lakukan berkali-kali dan menghubungi orang-orang yang berbeda.
"Bapak, akan mengikuti saran mu. saat ini juga tim proyek akan segera kemari beserta dan juga para petinggi Jaguar group." kata bapak mertuanya dengan mantap.
Lalu Nania, menyarankan untuk mengganti ruangan yang lebih luas dan itu langsung dilaksanakan.
"Apakah mas Dewa, mengetahuinya?" tanya Nania dengan nada yang pelan.
"Ngak, selama suami mu itu masih nempel dengan perempuan itu, maka bapak akan mencabut status sebagai CEO Jaguar group." jawab ayah mertua Nania.
Lalu Nania, diminta bapak mertuanya untuk memulai rapat.
Meeting semi formal, dan berada di ruangan privasi dan itu tanpa Dewa sebagai CEO yang sudah di non aktifkan sementara waktu.
"Selamat malam, bapak-ibu sekalian. Nania, memohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah mengganggu jam istrihat bapak-ibu sekalian.
Hal ini menyangkut rumah sakit Jawara dan juga proyek Dadang." ucap Nania dan kemudian meneguk minumannya.
"Perkenalkan nama saya, Kasih. dari tim proyek dari bidang penelitian laboratorium. dulu Kasih, menjadi bagian proyek vaksin profesor Dadang.
Kasih, sudah sempat menyampaikan pada atasan Kasih, agar tidak melakukan hal yang menyeleweng seperti yang sudah di ketahui.
Kasih, juga tahu. kalau mbak Nania, adalah asisten profesor Dadang.
Niatnya, kami ingin melakukan pendekatan kepada mbak Nania, agar bisa membujuk profesor Dadang untuk melanjutkan proyek vaksin itu.
Kasih, sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu secara langsung dengan mbak Nania." Ungkap wanita cantik yang bernama Kasih itu.
__ADS_1
"Benar mbak Kasih, karena Nania. sudah menerima permohonan itu.
Karena itulah, Nania. menginginkan pertemuan ini. sebab taruhannya adalah rumah sakit Jawara." kata Nania.
Lalu Nania menjelaskan niatnya, untuk meresmikan pembatalan sementara waktu akan proyek profesor Dadang.
Setelah penjelasan dari Nania, dan hal itu di dukung oleh bapak mertua.
Penjelasan yang rinci dan begitu jelas dari Nania, membuat semua peserta rapat mudah memahami apa yang disampaikan oleh Nania.
"Baik, mbak Nania! saran dari mbak Nania, adalah yang terbaik. saya sebagai kepala laboratorium akan menyetujui pembatalan proyek profesor Dadang." ucap pria paru baya itu dengan tegas.
Lalu menandatangani dokumen pembatalan proyek profesor Dadang, dan disusul dengan yang lainnya.
Semua sudah sepakat untuk pembatalan proyek profesor Dadang dan dokumen sudah ditandatangani dan diakhiri oleh bapak mertuanya.
"Bapak-ibu sekalian, proyek profesor Dadang. bukan hanya menguntungkan bagi rumah sakit Jawara, akan tetapi sekaligus sebagai kemajuan pengobatan di bidang dunia medis.
Nania, akan berusaha membujuk profesor Dadang setelah agak tenang, karena profesor gila itu, susah di tebak.
Mohon untuk bersabar, dan akhir kata saya meminta maaf karena telah menyita waktu istirahat bapak-ibu sekalian." ujar Nania dan menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan.
Para peserta rapat menghargai dan mengekspresikan usaha dari Nania yang luar biasa.
Begitu juga dengan kedua mertuanya, yang hanya bisa memeluk Nania karena terharu dan kemudian mereka makan bersama-sama.
"Mbak, Kasih! apakah profesor Dadang, sudah gila sejak dulu?" tanya pria baru yang mengaku sebagai kepala laboratorium itu.
"Sudah, pak! Kasih bersama tim, sudah bersusah payah untuk membujuknya agar bisa bekerjasama untuk melakukan penelitian itu.
Tapi hancur hanya karena nepotisme dari atasan, yang hendak memasukkan anggota tim proyek akan orang-orang titipan yang belum kualifikasinya.
Mengingat hal itu, kesal rasanya. tapi apa boleh buat, Kasih hanyalah bawahan dan saking kecewanya Kasih, langsung mengundurkan diri sebagai pegawai negeri sipil.
Lalu memilih berkarir di rumah sakit Jawara, sebagai ahli laboratorium." ungkap Kasih.
Terlihat jelas kekecewaan dari jamannya, yang sempat terbawa sampai sekarang karena batalnya proyek yang baru dan batal dengan hal sama.
Yaitu karena memasukkan anggota tim titipan seseorang, yang dimaksudkan adalah masuknya Geisya dalam tim.
__ADS_1