CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Ancaman Fikri.


__ADS_3

Geisya merasa seperti haus perhatian dan selalu berusaha untuk lebih menonjol dari yang lainnya.


Jika ada cewek yang memakai pakaian keluaran terbaru atau apapun itu, Geisya harus mendapatkan hal tersebut.


Terlalu percaya diri, egois dan arogan. tiada hari tanpa ke salon dan mall. penampilan adalah nomor satu dan nihil etika.


Dalam dunia medis, kondisi tersebut disebut sebagai Narcissistic Personality Disorder (NPD).


Suatu gangguan mental kepribadian atau biasa disebut sebagai orang yang sangat Narsis atau Narsistik.


Kebanyakan di alami kaum hawa tapi ada beberapa kasus di alami oleh kaum adam, karena tidak bisa mengendalikan emosi dan sikapnya yang berlebihan akan suatu hal.*


Pagi hari setelah melakukan berbagai aktivitas di panti jompo, Nania di panggil atasnya untuk menghadapnya.


Atasan Nania bernama dokter Abraham, dan dokter paru baya itu terlihat sangat lemas ketika Nania masuk ke ruangannya.


"Apa yang bisa Nania bantu, Dok!" tanya Nania kepada dokter Abraham.


Seketika dokter Abraham menghela napasnya dan kemudian menatap Nania dengan tatapan yang lirih.


"Apa yang kamu lakukan kepada Fikri?" tanya dokter Abraham.


"Maksudnya gimana, Dok?" tanya Nania lagi yang terlihat kebingungan.


"Fikri menginginkan Nania, di pecat dari panti jompo ini. sebenarnya apa yang terjadi?" tanya dokter Abraham lagi.


Tatapannya begitu sayu, sepertinya dokter itu tidak menginginkan pemecatan Nania dari panti jompo tersebut.


"Seingat Nania, Ngak ada. Dok. tapi Nania menolak ajakannya untuk menikah, emangnya salah kalau aku menolaknya?" ujar Nania yang masih sangat penasaran.


"Sebenarnya itu hak mu untuk menolaknya, ta... tapi!" ucap dokter Abraham dan berhenti bicara.


"Ngak apa-apa dokter, Nania juga sudah mengetahui akan konsekuensinya seperti ini. kalau begitu, Nania. pamit ya, Dok!


Semua sudah Nania siapkan dan hanya perlu serah terima ke rekan kerja yang lain." kata Nania dengan tegas.


"Kamu itu idola para lansia disini, aku jawab apa akan pertanyaan fans mu itu Nania?" tanya dokter Abraham yang terlihat sangat lemas.


"Manalah Nania tahu dokter, gini saja dokter. jika para fans ku bertanya, dokter sampaikan saja kalau Nania sedang mengambil spesialis keperawatan di luar negeri." jawab Nania dengan terkekeh.


"Nania...!" sanggah dokter Abraham yang terlihat keberatan kalau Nania tidak bekerja lagi di panti jompo ini.

__ADS_1


Karena tidak ada lagi yang mau di bahas, lalu Nania beranjak keluar dari ruangan dokter Abraham.


Nania menemui rekan kerjanya dan melakukan serah terima pekerjaan kepada rekannya yang lain.


Kemudian Nania keluar dari panti jompo tersebut dan akan menemui Fikri di suatu tempat.


Hal itu karena ancaman dari Fikri melalui hubungan telepon tadi pagi.


Dengan naik taksi, Nania langsung menuju tempat pertemuan yang merupakan hotel.


Hotel yang dimaksud tidaklah jauh dari panti jompo, hanya butuh waktu tempuh sekitar lima belas menit.


Sesampainya di hotel, Nania. langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan kamar Fikri.


Sebagaimana hotel pada umumnya, tidak akan memberitahu nomor kamar tamunya. tapi Nania tidak habis akal.


Nania meminta kepada resepsionis untuk menghubungi Fikri agar menemui nya di ruang tunggu lobi hotel.


"Maaf mbak, pak Fikri nya meminta mbak Nania untuk segera masuk ke kamarnya." ucap resepsionis itu.


"Saya ngak bersedia, suruh dia kemari atau ngak akan ku buat dia hancur berikut dengan seluruh usaha keluarganya." kata Nania dengan tegas.


"Mbak Nania, mari saya antar ke restoran naratama hotel ini. karena pak Fikri, akan menunggu mbak disana." ucap resepsionis dengan begitu ramahnya.


Naratama atau biasa disebut VVIP (very very important personal), jika disebut restoran naratama berarti restoran yang sangat khusus atau restoran VVIP.


Hanya orang-orang kaya raya dan para sultan yang bisa menikmati makanan dan minuman di restoran naratama.


Karena itulah Nania terlihat keberatan jika harus menemui Fikri di restoran naratama tersebut.


"Maaf ya, Mbak. saya hanya sebagai perawat, mana sanggup membayar makanan dan minuman di restoran naratama seperti itu." ungkap Nania dengan suaranya yang memelas.


Resepsionis itu tersenyum dan kemudian menjelaskan bahwa hotel ini adalah milik keluarga Fikri.


Kalau ada tamu nya Fikri, menikmati makanan dan minuman di restoran naratama hotel. maka tagihannya akan dibayar oleh Fikri.


Akhirnya Nania bersedia menunggu Fikri, direstoran naratama yang dimaksud.


Melalui lift khusus, resepsionis membawa Nania ke restoran naratama hotel dan sesampainya di restoran naratama tersebut.


Nania mengagumi kecantikan dan keindahan akan dekorasi restoran naratama yang indah.

__ADS_1


"Mohon tunggu disini ya mbak, Nania." ujar resepsionis tadi.


Lalu resepsionis itu memanggil rekan kerjanya yang bertugas di restoran naratama, lalu resepsionis itu membisikkan sesuatu.


Resepsionis itu sudah pergi dan Nania langsung dilayani oleh pelayan restoran naratama.


"Aku hanya menunggu Fikri disini dan bukan untuk makan." ujar Nania yang terlihat bingung karena pelayan cantik itu menaruh serbet putih di pahanya.


"Tamu dari pak Fikri, harus kami layani dengan sebaik mungkin. tolong jangan di tolak ya, mbak." ucap pelayan cantik itu seraya memohon.


Nania tersenyum menanggapi permohonan pelayan cantik itu, dan kemudian menyetujuinya karena Nania sendiri juga pekerja sama seperti pelayan itu hanya saja berbeda profesi.


Hanya menunggu beberapa saat dan sudah terhidang berbagai makanan yang lezat dan juga minuman.


Tanpa basa-basi, Nania. langsung melahapnya dan terlihat menikmati makanan yang tersaji.


Beberapa saat kemudian Fikri, sudah menghampirinya seraya tersenyum dan Nania masih tetap makan.


"Berikan email mu kepadaku," ucap Nania, seraya memberikan pulpen dan juga secarik kertas.


Dengan kebingungan Fikri, langsung mencatat email di kertas tersebut lalu diberikannya kepada Nania.


Nania berhenti makan lalu meminum air mineral yang tersedia, kemudian meriah notebook dari tasnya.


Seketika itu juga Nania, langsung mengoperasikan notebook dan beberapa saat kemudian Nania kembali melipat notebook itu.


"Makanan disini sangat enak, pantas mahal." kata Nania dan kemudian tersenyum ke arah Fikri.


"Semua ini akan jadi milik mu, jika kamu menjadi istri ku." sanggah Fikri dengan penuh percaya diri.


"Kalau aku menolak!" ucap Nania dengan santai.


"Nania...! kamu bukan hanya kehilangan pekerjaan seperti saat ini, tapi tidak pernah mendapatkan pekerjaan di manapun juga." jawab Fikri yang menunjukkan sifat aslinya yang sombong nan angkuh.


"Sudah aku kirimkan sesuatu pada email mu, silahkan buka. kali saja anda tertarik melihatnya dan kalau tidak tertarik, maka aku akan membuat anda untuk tertarik melihatnya." sanggah Nania dan kemudian tersenyum lagi.


Handphone keluaran terbaru dan itulah yang keluar dari saku jas Fikri yang mewah.


"Non aktifkan dulu volume handphone mu, nanti kamu sendiri yang malu." ucap Nania.


Fikri melakukan perintah itu, dan memulai untuk membuka handphonenya setelah menonaktifkan suaranya.

__ADS_1


__ADS_2