
Hanya tersenyum melihat Susi dan kemudian berterimakasih karena sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya.
"maaf ya Susi, karena sudah merepotkan mu."
"sebagai tenaga medis dan pantang menolak pertolongan pasien, Susi ngak merasa direpotkan.
hanya kesal aja pak, karena semuanya jadi sia-sia dan seharusnya masih bisa menggunakan obat itu tiga atau empat hari ke depan.
Tapi bentar deh, sahabat itu biasanya menyimpan persediaan.
Nania bukan tipe orang ceroboh, dia itu ya selalu ada perencanaan lain yang lebih baik.
Maaf ni ya, bisa ngak aku menggeledah kamarnya? karena Susi yakin kalau sahabat itu pasti ada persediaan."
Dewa mengedipkan matanya ke arah Papa nya dan itu artinya Susi bisa masuk ke kamar mereka untuk mencari persediaan yang barangkali masih ada.
Susi bersama Indra dan ditemani oleh mbak Yuni, langsung pergi ke kamar pribadi Dewa dan istrinya.
Tidak susah mencarinya dan Susi tersenyum setelah mendapatkan persediaan obat yang sudah di siapkan oleh Nania sahabatnya.
Dua plastik kresek berwarna putih dan masing-masing mungkin seberat lima kilogram dan langsung membawanya ke dapur.
"benar kan pak, kalau sahabat itu selalu punya persediaan. memang si bawel itu number one deh.
ini masih ada minyak oles, tapi rempah-rempah untuk pembalut nya ngak ada lagi deh.
Semua ini sudah lebih dari cukup, sembari menunggu Nania siuman.
mbak Yuni....
yuk bantuin Susi, untuk mempersiapkan semua ini."
Papa Dewa hanya bisa tersenyum dan mengelus dadanya, dikarenakan anaknya masih bisa mendapatkan obat.
Bukan hanya mbak Yuni yang ikut membantu, demikian juga dengan pak Sanusi.
Sudah selesai dan tinggal menunggu mendidih, lalu Susi menarik tangan Indra untuk duduk di dekat Dewa.
"mas Indra memakai celana pendek?"
"iya emangnya kenapa?"
"buka celana mu."
Seketika mereka yang ada di ruangan itu saling bertatapan satu sama lainnya, sementara Susi menuangkan minyak oles itu ke suatu wadah.
Terlihat Susi menambah beberapa obat herbal yang berbentuk rempah-rempah yang sudah kering dan kemudian mengaduknya dengan perlahan.
"hei.....
Ngak usah malu-malu gitu, saya sudah terbiasa melihat burung seperti itu di ruang operasi.
Buruan buka celana mu mas Indra.....
__ADS_1
Atau perlu Susi bantu? "
Papa Dewa mengerti maksud Susi dan meminta Indra untuk melaksanakan perintah dari Susi.
Indra yang mengenakan celana pendek berwarna ungu dan itu menjadi bahan tertawaan bagi Susi.
"emangnya ngak ada lagi warna yang lebih laki gitu ya?"
"gimana bilangan nya ya, asal ambil aja di lemari.
kecuali jika Susi mau jadi istriku dan mengatur semuanya untuk ku."
"ihhhhh.....
So sweet benar......"
"ahhhhhh......"
Indra mengerang kesakitan, karena paha nya di cubit oleh Susi.
"laki-laki itu sama aja semua ya. ngak tua sampai muda, selalu aja gombal.
Ngak mempan mas, rayuan seperti ini sudah sering aku dengar di rumah sakit."
Terlihat Indra sangat kecewa karena sanggahan dari Susi yang menganggapnya bercanda.
"pak Basil.....
Papa nya Dewa langsung mendekati Susi dan fokus melihat ke arah pahanya Indra.
"Kemarin itu mas Indra terpleset di rumah sakit, karena kecerobohannya sendiri. ditambah lagi bekas jahitan itu belum pulih seutuhnya.
Seperti ini cara mengoleskan minyak pada paha dan kaki untuk mas Dewa nantinya.
Setelah memakai celana pendek, lalu oleskan mulai dari paha seperti ini, sampai ke kaki hingga minyaknya merata.
Setelah semuanya rata, biarkan hingga meresap dan kering.
Digunakan setelah mandi dan tidak ada aktivitas lainnya, lebih tepatnya ketika mau istirahat di malam hari.
Pada botol minyak yang satu ini, sudah langsung Susi buat ramuan yang lainnya, jika habis tinggal isi ulang dari botol yang satunya lagi.
Biar burungnya ngak terbang, kita tutup mengenakan sarung dan jika tidak sarung pakai karung juga ngak apa-apa."
hahahaha hahahaha hahahaha haha haha hahahaha haha haha haha haha hahahaha....
Mereka malah tertawa karena ucapan Susi yang terakhir dan setelah puas tertawa mereka kemudian menatap Susi.
"kok sama seperti yang di lakukan Nania?"
Dewa yang sedari tadi terdiam, kini bertanya yang membuat mereka menoleh Dewa secara bersamaan dan kemudian menoleh Susi.
"apa tuan ngak ingat akan perkataan pria yang temui di depan klinik profesor Dadang?
__ADS_1
pria itu berkata kalau ada dua perawat gila nan cantik yang menjadi murid dari profesor itu?"
hahahaha haha hahahaha hahahaha hahahaha haha haha haha haha haha haha.....
Kali ini Susi yang tertawa mendengar ucapan pak Sanusi dan mereka serentak menoleh ke arah Susi.
"pria gondrong dan terlihat di wajahnya ada bekas luka ya pak?"
"iya neng..."
Haha hahahaha hahahaha haha haha haha haha haha hahahaha haha haha haha.....
Lagi-lagi Susi tertawa, lalu tawa itu menular dan mereka bersama-sama tertawa.
"Pria itu namanya Omar, dan itu dia pernah menjadi pasien kami.
Tangan dan paha sobek akan benda tajam karena berkelahi, ya wajarlah kan preman.
Saat di rumah sakit, dia marah-marah karena aku dan Nania yang menanganinya.
Dikiranya kami takut sama preman, sepertinya dia ngak tau kalau kehidupan kami jauh lebih seram dari preman itu."
Susi yang bicara dan mengatur napasnya karena tertawa lagi, tapi terlihat Dewa seperti kasihan atau apapun itu.
Mungkin karena Susi berkata, hidup Susi dan Nania yang jauh lebih seram dari preman tersebut.
"maksudnya hidup yang jauh lebih seram dari preman itu apa yang neng?"
Pak Sanusi bertanya kepada Susi dan sejenak Susi terduduk di samping Indra.
"antara nak Susi dan menantu ku, sudah lama saling kenal ya?"
Dengan hati-hati Papa nya Dewa bertanya dan Susi mengganguk.
"Umur Susi lebih tua setahun empat bulan dari Nania.
Nania itu mengikuti eksalarasi kelas, sehingga kami bisa bertemu di kelas lima SD dan kami sama-sama ikut olimpiade matematika.
Nania sebagai ketuanya dan saat itu kami menang juara satu, dan kami semakin akrab.
Bahkan waktu SMP saya eksalarasi kelas, karena bantuan Nania.
Lalu kami sama-sama masuk SMK perawatan, dan Susi akui kalau sahabat itu sangatlah cerdas, bijak dan ulet.
Nania selalu ada untuk sahabat di kala suka dan duka, pastinya lah Nania akan melakukannya terhadap keluarga Nya.
Kita bisa lihat sendiri, perjuangan Nania untuk pemulihan suaminya mas Dewa.
Nania mengumpulkan semua rekam medis mas Dewa, lalu mempelajarinya dan konsultasi ke beberapa profesor dan menurut Nania kalau metode pengobatan Profesor Dadang yang paling tepat.
Itu artinya harus berhadapan dengan profesor gila itu, butuh perjuangan agar bisa mendapatkan waktu profesor itu."
Susi menghela napasnya karena menyinggung tentang profesor Dadang, itu dikarenakan betapa susahnya membuat janji dengan profesor Dadang.
__ADS_1