CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Sebuah Kisah dari masa lalu.


__ADS_3

Kegilaan Geisya tidak hanya sampai disana, jika Nania, didekati cowok dan pastinya Geisya akan merebutnya dari Nania.


Begitu lulus SMK keperawatan dan Nania bekerja di sebuah klinik yang lumayan besar sebagai asisten perawat.


Kemudian mendapatkan beasiswa dan melanjutkan studinya ke diploma tiga keperawatan dan tetap bekerja sebagai asisten perawat di klinik.


Saat menjalani diploma tiga keperawatan, Nania bertemu dengan Susi, yang kebetulan satu angkatan dengannya.


Sebenarnya Susi dan Nania, satu kelas waktu SMP tapi berpisah karena Nania memilih SMK keperawatan.


Berhubung Nania sudah memiliki pengalaman bekerja di klinik sebagai asisten perawat, dan begitu lulus akademi keperawatan langsung diterima kerja di sebuah panti jompo yang lumayan elite.


Sementara Susi terus melanjutkan pendidikan profesi keperawatan.


Nania tetap bekerja sebagai asisten perawat di panti jompo, sebab belum menyelesaikan pendidikan profesinya.


"Bagiamana kerja di panti jompo?" tanya Papa nya Nania kepadanya.


Nania tersenyum menanggapi pertanyaan itu, pertanyaan yang tiba-tiba dari ayah angkatnya setelah Nania pulang kerja.


"Seru banget Pa, kelakuan para lansia yang terkadang seperti anak-anak dan lucu yang membuat Nania tersenyum selalu." jawab Nania.


"Kenapa ngak melamar pekerjaan di klinik atau di rumah sakit?" tanya Papa nya lagi.


"Pertama, Nania ingin mencari pengalaman terlebih dahulu. salah satunya di panti jompo, biar Nania, belajar menghadapi lansia.


Kelak nantinya agar Nania sabar menghadapi Papa dan mama di kala usia tuanya." jawab Nania.


Hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' suara tawa papanya.'


"Nania, ada-ada saja deh. emangnya nanti mau menempatkan papa dan mama di panti jompo?" tanya papanya lagi di sela-sela tawanya.


"Ngak, karena Nania akan mengurus Papa dan mama di rumah ini kelak nantinya. makanya Nania memilih kerja di panti jompo itu. biar kenalan sama orang tua yang lanjut usia dan segala keusilannya.


Karena seseorang jika semakin tua, maka akan seperti anak-anak tingkahnya. karena itulah yang harus Nania pelajari.


Nantinya akan Nania praktekkan di masa tuanya Papa dan mama." ungkap Nania dengan lembut tapi tegas.


Sejenak papanya terdiam, tapi tatapannya sangat teduh dan kemudian memeluknya Nania dengan penuh haru.


Papanya melepaskan pelukannya dan kemudian menatap wajah Nania, lalu memberikan kartu debit berikut dengan pin yang ditulis di kertas kecil.


"Papa rasa sudah lebih dari cukup isi rekening itu, untuk biaya profesi mu. Nania putri papa yang paling terbaik." ucap papanya dengan haru.

__ADS_1


Lantas Nania memeluknya, terlihat Nania meneteskan air matanya.


"Nania, masih bisa bekerja di panti jompo?" tanya Nania yang masih memeluk papa nya.


Nania melepaskan pelukannya seraya menghapus air matanya yang mengalir.


"Boleh, daripada nganggur seperti Geisya. sekaligus tempat belajar mu juga. ngak apa-apa bergaji kecil, karena pengalaman adalah hal yang paling berharga.


Ntar kalau sudah selesai pendidikan profesi mu, nanti Papa. akan meminta rekan Papa untuk memasukkan Nania ke rumah sakitnya." ungkap Papanya.


"Ngak perlu, ntar biar Nania saja yang mencarinya. kan, Nania sudah punya pengalaman kerja!" sanggah Nania.


Papanya memeluknya lagi dengan haru, kemudian mereka berhenti pelukan karena mamanya sudah tiba bersama Geisya.


Kantong belanjaan dari berbagai brand terkenal, Geisya dan mamanya seperti menikmati itu semua.


"Tunggu Nania!" ujar Geisya.


Nania yang hendak ke kamarnya, di cegah oleh Geisya, karena mau menyuruh Nania untuk membawa barang-barang belanjaannya.


Nania nurut saja, dan mereka berdua langsung menuju kamar pribadi Geisya.


Sesampainya di kamar Geisya, langsung membongkar isi lemarinya.


"Terimakasih, Ya." ucap Nania.


Lalu Nania mengutip pakaian yang berserakan di lantai dan kemudian merapikan pakaian tersebut.


Kemudian Nania menata kembali pakaian yang baru di beli oleh Geisya.


Saat Nania membuka paper bag yang berisi sepatu kets dan hendak menyimpannya ke lemari khusus sepatu dan Geisya mencegahnya.


"Sepatu itu untukmu, sebagai imbalan karena telah membantu ku untuk mengerjakan tugas sekolah." ujar Geisya dengan sombongnya.


Terlihat Nania, sangat menyukai sepatu kets yang berwarna hitam putih itu dan langsung memasukkan ke plastik yang berisi pakaian bekas dari Geisya.


"Nania...! Nania...! Nania...!" suara mamanya memanggil Nania.


"Iya, mah...!" jawab Nania dengan setengah berteriak.


Nania langsung keluar dari kamar Geisya seraya membawa plastik besar yang berisi pakaian bekas dari Geisya.


Karena suara mamanya yang kuat dan terdengar heboh, dan Geisya mengikuti Nania keluar dari kamar.

__ADS_1


Nania meletakkan barang-barangnya di samping anak tangga paling bawah dan saat itu mamanya menghampiri Nania dan Geisya yang baru turun dari langit dua rumah mewah tersebut.


"Ngapain di kamar Geisya?" tanya mama nya dengan cetus.


"Mengambil hadiah dari Geisya, kenapa mama, memanggil Nania." ucap Nania seraya bertanya.


"Tuh, ada tamu yang nyariin kamu. katanya dari panti jompo." jawab mamanya.


"Ada apa, Ya. perasaan Nania ngak ada buat kesalahan." ungkap Nania yang terlihat cemas.


Tapi Geisya menarik tangan Nania untuk segera menemui tamu itu.


Sesampainya di ruang tamu, Geisya langsung terpesona melihat ketampanan seorang pria yang datang bersama seorang perempuan lanjut usia.


"Ratu kesayangan ku...! apa gerangan sehingga sang ratu sampai mencari dayang Nania sampai kemari."


hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' suara tawa perempuan lansia itu.'


Sepertinya Nania sangat dekat dengan perempuan lanjut usia itu, sehingga langsung duduk disampaikannya seraya memegang tangannya.


Pria tampan yang datang bersamanya, tidak henti-hentinya menatap wajah Nania seraya tersenyum dan Geisya terlihat demikian yang memperhatikan ketampanan pria tersebut.


"Ratu datang kemari untuk membawa pangeran tampan untukmu adinda, semoga kalian berjodoh." ucap perempuan lanjut usia tersebut.


Kemudian meraih tangan Nania dan juga tangan pria tampan itu dan menyatukan kedua tangan dua insan tersebut.


"Apakah adinda, menyukai pangeran tampan yang ratu bawa ini?" tanya perempuan itu lagi.


Nania tertawa menanggapi pertanyaan itu, lalu melepaskan tangannya dari pria tampan itu dan memeluk perempuan lanjut usia itu.


"Lihatlah, kau di tolak lagi. ayo perkenalkan dirimu dan buat ratu cantik untuk tertarik kepadamu." perintah dari perempuan lanjut usia itu.


Tak henti-hentinya Nania tertawa dan setelah berusaha menenangkan dirinya barulah Nania tersenyum.


"Maaf ya, mbak Nania. karena kami berdua sudah menggangu istrihat mbak.


Oh, Iya. kenalkan, namaku Fikri. saya cucunya Oma Eni." ucap pria tampan yang bernama Fikri itu.


Nania dan Fikri bersalaman tapi tatapan Fikri sangat dalam menatap Nania.


"Namaku, Geisya!" ujar Geisya yang menepis tangan Nania.


Walaupun Fikri bersalaman dengan Geisya, tapi tatapannya masih kepada Nania yang kembali duduk bersama perempuan lanjut usia yang di panggil oma Eni.

__ADS_1


__ADS_2