
Untuk kesekian kalinya mamanya Dewa memeluk ibu dari cucunya itu, tangisan haru dan pelukan.
Adanya harapan kalau Nania bisa menjadi menantunya lagi, seperti yang di inginkan olehnya untuk memiliki dua menantu yang hebat.
Yaitu Susi, istri dari anak angkatnya dan Nania yaitu istri dari putra kandungannya.
"Dimana kalian berdua tinggal?" mamanya Dewa bertanya seraya menghapus air matanya.
"Nania membeli kembali rumah lama kami, yang terpaksa di jual untuk menutupi hutang Ankarbaya group.
Rumah singgah itu adalah rumah kedua kami dan itu dibangun oleh profesor Dadang dan dibawah naungan Dania group.
Untuk menampung anak-anak yang malang seperti Nania di masa kecil, sebagai tempat berteduh anak jalanan yang tidak punya harapan di masa depan.
Mudah-mudahan rumah singgah itu, bisa menjadi panti asuhan. agar bisa menaungi anak-anak yang tidak beruntung dalam hidup ini." ujar Nania yang terdengar lembut.
"Bunda...bunda...!" Brian memanggil Nania yang berlari dari arah dapur.
Brian langsung lari ke pelukan bundanya, dan senyuman itu membuat oma nya sangat geram.
"Ayo kita pulang bunda, karena Brian mau mengerjakan tugas sekolah." ujar Brian.
"Ayah antar, Iya!" Dewa menawarkan diri.
"Ngak usah, bunda sama Brian bisa pulang sendiri." ucap Brian dengan cetusnya.
Terlihat jelas Dewa sangat kecewa karena penolakan dari anaknya, tapi sepertinya Ia tidak habis akal.
"Brian...! Ayah mau mengajak Brian dan bunda ke toko mainan, disana banyak mainan yang sangat bagus." Dewa berusaha membujuk anaknya.
"Ngak usah, Brian sudah punya banyak mainan di rumah." sang anak menjawabnya dengan cetus.
"Kalau ngak kita ke taman saja, ayah tahu tempat yang sangat bagus untuk main."
"Taman bermain, ayo kalau begitu." sahut Brian.
Akhirnya Dewa bisa membujuknya, dan mereka langsung bergerak.
Akan tetapi Dewa masih seperti orang asing bagi Brian, bocah itu masih memegang tangan mamanya dan enggan memegang tangan ayahnya.
Dewa seperti supir pribadi mereka berdua, karena Brian dan bundanya duduk dibelakang kemudi.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba disebuah taman yang sangat luas, Brian langsung menarik tangan bundanya tanpa memperdulikan Dewa.
Dewa hanya berjalan dibelakang mereka berdua, dan hanya Nania yang memperhatikannya.
__ADS_1
Beberapa saat bermain dan Nania hendak ke toilet dan menitipkan Brian ke ayahnya.
Ayah dan anak itu duduk di bangku taman seraya memakan ice cream.
"Bunda dan Brian sangat membenci mu, jangan harap masuk ke dalam hidup kami. Karena kami berdua tidak membutuhkan mu."
Dewa begitu terkejut mendengar ucapan dari anaknya sendiri, ucapan itu sudah seperti ucapan orang dewasa.
"Brian...! apa yang membuat mu membenci ayah mu ini?" Dewa memberanikan diri untuk bertanya.
"Karena ayah sangat kasar sama bunda, Brian tidak membiarkan siapapun yang menyakiti bunda." ujar Brian dengan santai tapi tegas.
"Ayah ngak menyakiti bunda mu, tapi untuk menyelamatkan bunda mu dan keluarga besar kita.
Ayah cinta dan sayang sama bunda, Brian adalah buah cinta ayah dan bunda mu. tolong berikan ayah kesempatan.
Kesempatan agar kita bisa bersama-sama kembali dan hidup bahagia, ayah menyayangi kalian berdua."
Ucapan dari sang ayah, membuat Brian terdiam dan membuang ice cream. lalu berlari ke arah bunda yang baru tiba.
"Kita pulang saja, Bun. Brian sudah bosan mainnya." pinta Brian ke mamanya.
"Ngak usah ajak ayah, kita berdua saja pulang." sanggah Brian lagi.
Akhirnya Nania dan anaknya pulang menggunakan taksi, tapi Dewa mengikuti mereka dari belakang.
Sepertinya Dewa pantang menyerah, Dewa masih tetap di teras rumah itu.
Duduk di kursi itu dan memainkan handphone-nya, akan tetapi Dewa tidak mengetuk pintu rumah.
Satu jam telah berlalu dan sudah jam tiga sore, tapi Dewa masih berada di teras rumah mereka.
Bahkan sampai jam tujuh malam, Dewa masih tetap di teras rumah itu. berharap Brian dan bundanya membuka pintu untuknya.
Dewa masih berada di teras rumah, sementara Nania dan Brian sudah di ranjang sang anak.
"Bunda masih sayang sama ayah?" pertanyaan yang tiba-tiba dari Brian.
"Bunda masih sayang sama ayah mu, tapi jika Brian menolaknya maka bunda tidak mau bersama ayah mu lagi.
Karena Brian adalah anakku yang menemani bunda selama ini." jawab Nania dengan lembut.
"Bunda yakin akan menolak ayah jika Brian menolaknya?" tanya Brian lagi.
"Iya...! bunda akan melakukan apapun untuk Brian, karena bunda menyayangi mu."
__ADS_1
plasss.... ' bunyi guruh yang tiba-tiba saja membuat Nania berhenti bicara.'
Lalu turunlah hujan yang amat deras dan Dewa masih berada di teras rumah.
Mungkin karena kelelahan dan Nania yang tertidur, tapi tidak dengan Brian.
Anak itu keluar dari ranjang secara perlahan dan kemudian keluar dari kamar menuju pintu masuk rumah.
Kreak... ' suara pintu yang terbuka '
Brian membuka pintu itu, dan Dewa yang sudah kedinginan langsung berdiri dan tersenyum ke arah Brian.
"Apa ada jaminan kalau ayah tidak menyakiti bunda ku lagi?" Brian bertanya layaknya seorang laki-laki dewasa yang melindungi sang ibundanya.
"Apapun akan ayah lakukan, demi kalian berdua." ucap Dewa dengan tegas.
"Kalau Brian meminta seluruh harta kekayaan ayah, apakah ayah memberikan untuk bunda dan Brian."
"Tentu Brian, karena kalian berdua adalah tujuan hidupku.
Ayah bersalah karena pernah menyia-nyiakan bunda mu dan juga kamu Brian, ayah berusaha menjadi ayah yang terbaik." ujar Dewa.
"Iya sudah, ayah pulang saja. ngapain nginap di teras orang lain." ucap Brian dengan ketus.
"Bukan rumah orang lain, tapi rumah anakku dan bundanya.
Ngak masalah jika ayah harus tidur di teras, anggap saja ini hukuman buat ayah karena menjadi bodoh dan egois." sanggah Dewa pada anaknya.
"Ayah masuk sajalah, nanti Oma dan opa repot lagi mengurus ayah sakit karena tidur di teras rumah." ucap Brian dan kemudian menarik tangan ayahnya masuk ke dalam rumah.
Dewa tersenyum karena pada akhirnya anaknya menarik tangan untuk masuk ke dalam rumah.
"Ayah duduk disini, jangan berani-berani masuk ke kamar bunda." ucap Brian dengan tegas.
"Iya anakku...!" jawab Dewa dengan begitu lembut dan kemudian tersenyum.
Brian berjalan ke arah kamarnya dimana bundanya sedang tidur, sesampainya di kamarnya dan ternyata sang bunda sudah bangun.
"Bunda sudah bangun?" Brian bertanya pada bundanya.
"Iya sayang, karena bunda mendengar Brian bicara dengan seseorang." Nania menyahutnya.
"Ayah belum pulang ke rumahnya, malah mau nginap di teras rumah kita. kasian nanti opa dan Oma merawatnya kalau sakit.
Brian menyuruh ayah masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu." sanggah Brian.
__ADS_1
Nania tersenyum kepada anaknya dan senyuman itu bersambut, sepertinya mereka berdua ingin melakukan sesuatu pada Dewa.