
Pagi hari dan tidak seperti biasanya, Nania tidak bersuara dan hanya melaksanakan kegiatan sebagai ibu rumah tangga.
Sarapan pagi sudah tersedia, dan kedua orangtuanya Dewa sudah duduk di meja makan.
Bersama suami dan kedua mertuanya, hanya Dewa yang terlihat melahap makanannya. sementara Nania dan kedua mertuanya terlihat tidak selera makan.
"Tuan muda! ini obatnya dan untuk terakhir, karena tuan muda sudah dinyatakan pulih," Ucap mbak Yuni seraya memberikan obat herbal tersebut kepada Dewa.
Dewa berhenti mengunyah makanannya, karena melihat ekspresi dari Nania. sementara asisten rumah tangganya memberikan teh herbal untuk kedua orangtuanya.
Berbeda dari biasanya, karena baru kali ini mbak Yuni yang menyajikan obat untuk Dewa dan teh herbal untuk kedua orangtuanya.
"Nania! bisa kita menemui profesor Dadang hari ini?" tanya Dewa dengan tatapannya yang penuh harap.
"Baik, mudah-mudahan saja profesor Dadang masih bisa melanjutkan proyeknya." jawab Nania.
"Syukurlah kalau Nania bersedia menemaniku, mudah-mudahan sa..saja," ucap yang berhenti bicara karena Geisya sudah tiba di rumah di ruang makan.
Nania menatap suaminya dengan tatapannya yang tajam dan matanya kembali berkaca-kaca.
"Geisya, akan ikut bersama kita. Geisya mengetahui kelemahan profesor Dadang, dan kita nanti memanfaatkan profesor Dadang dengan kelemahan." ucap Dewa seraya menatap Geisya dengan penuh harap.
"Benar kata mas Dewa. dengan kelemahan profesor Dadang, pasti beliau akan mau melanjutkan proyeknya."
Begitu yakinnya Geisya dengan strateginya yang baru, yaitu memanfaatkan kelemahan profesor Dadang.
"Nania! mau kemana?" tanya Dewa yang terlihat emosi.
Nania tidak menggubris perkataan suaminya, dan melanjutkan langkah kakinya. Dewa di cegah papa nya ketika hendak mengejar Nania.
"Duduk, papa mau bicara," ucap papanya dengan nada yang lirih.
Dari wajah papanya Dewa, tergambarkan kekecewaan yang dalam. begitu juga dengan dengan mama nya.
"Geisya...!" ucap papanya Dewa.
"Iya, Om," Geisya menjawabnya dengan refleks.
"Aku ngak perduli, apapun caranya. kembalikan profesor Dadang, agar melanjutkan proyeknya." ucap papanya Dewa.
"Okey...! jika Geisya, berhasil. apa imbalannya?" tanya Geisya dengan begitu semangatnya.
__ADS_1
"Kamu, berhak mendapatkan saham milik Nania. sekaligus berhak mendekati, bahkan menikah dengan Dewa. karena, Om. sudah memberi restu pada Nania untuk bercerai dari Dewa." ucap papanya Dewa, tapi sorot matanya mengatakan berbeda.
"Okey...! Tantangan diterima," ucap Geisya dengan penuh percaya diri.
Lantas Geisya langsung meraih lengan tangan Dewa, kemudian melangkahkan keluar dari ruangan tersebut.
"Apa, maksud Papa?" tanya istinya yaitu mama nya Dewa.
"Nania, adalah perempuan yang baik. Papa ngak rela jika Dewa. terus menerus menyakiti Nania.
Nania, berhak bahagia. terlepas dia mau menikah lagi atau tidak karena pengorbanan Nania sungguh besar.
Nania yang mengungkapkan kecurangan dan kejahatan dalam tubuh Jaguar group, serta menyelematkan Dewa dan menghangatkan kembali keluarga ini." ucap papanya Dewa seraya menyeka air matanya.
"Tapi, pah!" kata istrinya.
"Apa Nania, harus mati ditangan Dewa? kita masih bersyukur kalau Nania tidak melaporkan kekerasan yang diterimanya dari Dewa.
Nania keguguran karena kekerasan yang dilakukan Dewa, bahkan ibu. sampai meninggal dunia karena mengetahui hal itu, dan bahkan papa hampir menyerah karena mama ngak kunjung siuman." jelas papa nya Dewa.
Mereka berdua hanya berpelukan, dan sepertinya berat pernyataan papa nya Dewa. sementara dari pojok sana, terlihat mbak Yuni dan pak Sanusi yang menangis.
"Pak Sanusi, tolong susul Nania." pinta papa nya Dewa.
"Butik Melati, ya pasti butik itu." ujar pak Sanusi seraya terus berjalan.
Pak Sanusi sudah mengendari mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Beberapa saat kemudian pak Sanusi, sudah tiba di butik Melati, pria paru baya langsung tersenyum ketika melihat Nania di dalam butik tersebut.
"Pak Sanusi...!" ucap Nania.
"Iya, Ndok. hari ini, bapak. akan selalu menemani mu, Ndok." sanggah pak Sanusi.
Nania tidak berkata apa-apa lagi, dan kemudian menyajikan teh kemasan kepada pak Sanusi.
"Mau photo prewedding, Ya?" tanya pak Sanusi yang mencoba mencairkan suasana.
"Ngak, Pak. Sahabatku ini masih memegang tradisi yang baik, tidak bersentuhan sebelum sah menjadi suami istri." jawab Nania seraya tersenyum.
"Ngak, loh! bukan gitu, Nania. biar jangan ribet saja. ntar pas resepsi kami, akan melakukan sesi foto dan berikut dengan para keluarga nantinya." ucap Susi.
__ADS_1
Sepertinya mereka enggan atau tidak ingin mengungkit permasalahan Nania, seperti yang pernah di katakan Susi.
Kalau Nania, selalu menyimpan cerita hidupnya sendirian. hanya kebahagiaan yang selalu di pancarkan olehnya.
"Nak, Indra. beli pakaian di mana?" tanya pak Sanusi lagi.
"Tenang, Pak e! semua itu sudah diatur oleh bapak mertua. tapi khusus yang laki-laki ya, kalau kami yang perempuan dari butik dan itu sudah termasuk, ibu dan adek." ucap Nania.
"Kami, juga dapat pakaian?" Tanya pak Sanusi dengan pelan.
"Iya... iya... lah, Pak! kita kan, keluarga. kemarin itu, ibu. yaitu istrinya bapak dan adek, sudah mengukur badan disini.
Kalau bapak mah gampang, karena bapak dan bapak mertua satu ukuran." jawab Nania dengan jelas.
"Ndok, tahu aja!" Ungkap pak Sanusi.
Seperti biasa kalau Nania, tidak menunjukkan ekspresi wajah yang sedih ataupun sakit hati. istri dari Dewa itu, seolah-olah tidak punya masalah apapun.
"Ndok, tadi tuan muda. pergi bersama perempuan itu." ujar pak Sanusi dengan begitu pelan.
"Ngak usah di bahas pak, karena sahabat dan juga saudara sedang berbahagia. Pokoknya hari ini, Nania. akan bersama Susi, untuk melengkapi semua keperluan nya." ucap Nania.
Terlihat semangat yang membara dari Nania, tentu hal itu di sambut oleh Susi dan juga adiknya.
Terlihat Susi, memberikan kedipan mata kepada pak Sanusi, maksudnya agar tidak menceritakan tentang permasalahan keluarganya saat ini.
"Melati, sudah ada tas pesanan kakak itu?" tanya Susi ke adiknya.
"Ada dong." jawab Melati.
Kemudian membuka kotak yang cantik, dan ternyata isinya adalah tas kecil yang sangat cantik nan indah.
"Kak, Nania! berhubung kakak ada disini, yuk kita cobain gaun kakak. untuk memastikan kalau ukuran sudah sesuai untuk kakak." ucap Melati.
Lalu mereka bertiga masuk ke ruangan Melati, sesampainya di ruangan kerja Melati dan langsung memberikan gaun untuk di coba oleh Nania.
"Sudah pas kok, tapi gaun untuk Susi mana?" tanya Nania.
"Gaun pengantinnya besok baru bisa di coba, tapi kalau untuk gaun acara akadnya sudah siap.
Sisanya nanti sewa pakaian adat kok, jadi tidak terlalu ribet, Kak." jelas Melati.
__ADS_1
Sebenarnya Nania, diajak ke ruangan itu. agar Nania menceritakan masalahnya, tapi tidak kunjung ada cerita apapun dari Nania.