CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Keputusan Terakhir.


__ADS_3

Profesor Dadang dan Sapri, membiarkan Nania menangis. sesekali Sapri memberikan tissue kepada Nania.


Akhirnya Nania sudah mengakhiri tangisannya, lalu profesor Dadang menuangkan air minum di gelasnya yang sudah kosong.


"Saat pertama kita bertemu dan itulah pertama kalinya aku melihat menangis, hari ini aku melihat mu menangis.


Apakah seberat itu Nania? " Sapri bertanya dengan suara yang sangat pelan.


Lalu Nania merogoh tasnya dan kemudian mengambil handphone miliknya.


Nania menunjukkan video rekaman asusila, antara Dewa dan Geisya. memang hanya di awal saja.


Sepertinya rekaman itu gagal, tapi Dewa dan Geisya sudah tidak memakai sehelai benangpun alias telanjang.


"Kiriman video dari Geisya, akhirnya dia berhasil tidur dengan Dewa." ujar Nania dengan di iringi suara tangisannya.


"Apa yang akan kamu lakukan Nania?" profesor Dadang bertanya dan terlihat kedua bola matanya berkaca-kaca.


"Bercerai dengan Dewa, lalu Nania akan pergi dari kehidupan Dewa. Untuk menetap di tempat persembunyian Papa." jawab Nania dengan lirih.


Sejenak mereka terdiam setalah mendengar jawaban dari Nania, tangisan Nania yang menyayat hati membuat profesor itu meneteskan air matanya.


"Pa...! Nania mohon, tolong Papa lanjutan proyek di rumah sakit Jawara. kedua mertua ku itu sangat baik.


Inilah permohonan terakhir ku, Nania berharap papa bersedia mengabulkan permohonan ini." ucap Nania dengan lirih disela-sela tangisannya.


Profesor Dadang di panggil Nania dengan panggilan Papa, dan profesor itu hanya mengangguk setuju.


"Setelah selesai resepsi pernikahan sahabat ku, yaitu Susi. maka Nania akan terbang." ujar Nania yang sudah terlihat jauh lebih tenang.


Nania memberikan dokumen serta flashdisk kepada Sapri, dan dengan pelan tapi pasti, Sapri membaca dokumen tersebut.


"Jika Geisya mengutarakan fitnah kepada Papa kita, sangkal dengan hasil uji tes DNA itu.


Flashdisk itu berisi video rekaman asusila Geisya dengan pria yang berbeda-beda, termasuk pengusaha terkenal yang bernama Fikri.


Lalu ada video asusila Dewa dengan Geisya, tapi hanya sepenggal tapi itu sudah menghebohkan.


Dalam dokumen itu sudah ada foto copy surat kuasa kepengurusan perceraian ku dengan Dewa.


Tolong kamu urus ya, aku tidak mau lagi berurusan dengan Dewa. aku sudah benar-benar muak dengannya." kata Nania dengan tegas.


Kemudian Nania memberikan dokumen yang berbeda kepada profesor Dadang.


"Pah...! Nania sudah negoisasi dengan jajaran rumah sakit Jawara, mulai dari pemegang saham sampai perwakilan staf.

__ADS_1


Jika ada penambahan tim dari yang kita sepakati, papa bisa membatalkannya dan meminta denda.


Nania sudah menghapus namaku dari anggota tim, dan Nania akan menunggu Papa." ungkap Nania.


Profesor Dadang langsung memeluk anak angkatnya itu dengan pelakunya yang erat dan rasa haru yang dalam.


"Papa mendukung mu, papa ngak sanggup melihat melihat mu menderita karena pria brengsek itu." kata profesor Dadang.


Kemudian Sapri memeluk dua orang yang disayanginya itu, mereka hanyut dalam susana yang sedih.


"Maaf ya Nania, aku ngak bisa menemanimu nantinya. setelah selesai semua ini, aku langsung pergi ke suatu tempat bersama calon istriku.


Sebelum kamu pergi, aku harap Nania. bisa bertemu dengan calon istriku." ujar Sapri yang memeluk dua orang yang disayanginya.


Mereka akhirnya mengakhiri kesedihan itu dengan makan bersama dan bercanda lagi dan tertawa lagi.


"Ada satu hal yang membuat ku mengagumi Nania, kamu mampu tersenyum dikala beban mu yang berat." ucap Sapri yang melihat kembali senyuman dari Nania.


"Tahu sendiri gurunya siapa!" sanggah Nania seraya melirik profesor Dadang.


Profesor Dadang menepuk dada dengan tangan yang kepalnya.


"Saya gurunya, ada masalah dengan mu wahai wartawan?" ujar profesor.


"Papa ku sekaligus guru ku yang luar biasa yaitu profesor yang aneh dan juga sahabatku dan saudara ku yaitu Sapri.


Nania mengundang untuk pernikahan sahabat ku yaitu Susi bersama calonnya yang bernama Indra." ucap Nania sambil berdiri.


"Duduklah, akan papa pastikan. wartawan kampret ini akan datang." sanggah profesor Dadang.


hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' suara tawa yang menggelar. '


Mereka bertiga tertawa lagi, sejenak Nania melupakan semua pergumulan hidupnya saat ini yang membebani hidupnya.


"Nania sangat bahagia sekali, bahagia saat bisa makan bersama dengan keluarga ku seperti ini.


Semua beban terasa terhempas dari pikiran ku saat ini, ternyata keluarga mampu meredam semua beban yang sangat berat ini." ungkap Nania dengan keteguhan hatinya.


Berhubung hari sudah semakin sore dan saatnya Nania pulang ke rumah.


Sebelum berakhir pertemuan tersebut, mereka bertiga berpelukan kembalikan yang menciptakan suasana haru.


"Pantas saja ya, profesor mendapatkan julukan profesor aneh." kata Sapri disela-sela pelukan mereka.


Hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' suara tawa mereka lagi.'

__ADS_1


Lalu mereka mengakhiri pelukan itu dan profesor Dadang menatap tajam ke arah Sapri yang mengatainya barusan.


"Bukan cuman tapi biasa disebut profesor gila juga. puas, Kan!" ujar profesor Dadang.


Mereka bertiga hanya bisa tertawa menanggapi hal tersebut.


Pada akhirnya mereka bubar, dan Nania tidak menyangka bahwa pak Sanusi masih menunggunya di parkiran.


"Apa pak Sanusi mengikuti Nania sampai ke Kafe?" tanya Nania yang terlihat masih terkejut.


"Ngak, Ndok. karena itu privasi mu, tapi bapak tahu apa yang sedang kamu alami.


Apapun keputusan mu, bapak mendukungnya. karena Nania berhak untuk bahagia." Jawab pak Sanusi yang sudah meneteskan air matanya.


Pak Sanusi akhirnya mengaku kalau mengikuti Nania hingga ke kafe tempat pertemuan itu.


Tapi hanya sampai mengikutinya, pak Sanusi hanya penasaran.


Jika pak Sanusi langsung pulang ke rumah, nantinya akan dipertanyakan oleh Dewa. tentunya hal itu akan membuatnya bingung harus menjawab apa.


Jika pak Sanusi pulang bersama Nania, tentunya Dewa tidak akan bertanya kepadanya.


Pak Sanusi memastikan bahwa pertemuan ini tidak akan bocor kemanapun.


Akhirnya mereka pulang bersama, karena jalanan agak macet dan membuat mereka baru di tiba di rumah jam delapan malam.


"Nania...!" seorang pria memanggil nama Nania setalah tiba di depan rumah.


Ternyata itu adalah Govin, mantan kekasihnya yang melakukan hubungan asusila dengan Geisya.


Nania dengan tenang menemui Govin yang tersenyum, lalu Nania membalasnya dengan senyuman.


"Masih ingat dengan kejadian di gudang rumah sakit waktu itu? satu lagi, kamar hotel kelas melati itu?


Jika sikapmu sebelum kehancuran mu tiba, bukan hanya kamu yang hancur tapi saudara perempuan mu itu.


Berikut dengan usaha ipar mu dan kamu membayangkan apa yang terjadi dengan mama mu.


Pikirkan baik-baik anak muda, sayangilah perjuangan mu selama ini." Ujar Nania dan kemudian tersenyum sinis.


"Itu semua rekayasa Nania." Govin menyangkalnya.


"Nanti akan di cek oleh netizen." sanggah Nania dan kemudian pergi meninggalkan Govin yang bengong.


Govin hanya bengong dan terlihat syok akan penuturan Nania barusan, dirinya hanya mampu melihat Nania berlalu.

__ADS_1


__ADS_2