CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Rencana Lain yang Lebih Dahsyat.


__ADS_3

POV Geisya.*


Geisya dan mama nya terlihat bahagia karena pada akhirnya papa nya sudah sadar, dan Geisya langsung memegang tangan Papanya.


"papa kenapa sih? kok bisa sampai sakit begini?"


Papanya menepis tangan Geisya dan kemudian berusaha untuk menaikkan ranjangnya.


Seketika itu juga mama nya Geisya langsung menekan tombol yang ada diatas ranjang tersebut.


Tidak berapa lama dokter bersama satu orang perawat mendatangi mereka di ruang rawat tersebut.


"kenapa masih disini? katanya sudah wawancara di rumah Jawara."


Ternyata dokter itu datang bersama Susi, akan tetapi Susi tidak menanggapinya dan fokus melihat dokumen yang dipegangnya.


Dokter itu langsung meriksa pasien, dan setelah memeriksa dan kemudian membisikkan sesuatu kepada Susi.


"baik dokter Sandro."


Hanya itu yang di ucapkan oleh Susi, dan kemudian pergi dari ruangan tersebut.


Lalu dokter yang dipanggil dokter Sandro itu memeriksa infus, dan tidak berapa lama kemudian Susi sudah datang dengan membawa infus yang lebih kecil.


Lalu memasangkan infus tersebut ke pasien, dan setelah selesai, dokter Sandro kembali mengecek hasil kinerja Susi.


"pasien sudah jauh lebih membaik, dan jika infus yang kecil sudah habis setengah. tolong tekan bel nya bu."


Mamanya Geisya hanya mengangguk dan kemudian dokter tersebut menuliskan sesuatu di dokumen yang dibawa Susi.


"Ners Susi, jika sudah bel berbunyi. nantinya tolong bawakan makanan untuk pasien ya."


"siap dokter."


Begitu singkat percakapan mereka, lalu pamit keluar dari ruangan tersebut.


Lalu mamanya Geisya mempertanyakan ulang akan pertanyaan Geisya terhadap dan Papa nya Geisya hanya menghela napasnya.


"Papa hanya menghitung sisa aset kita, karena pajak perusahaan yang pernah mama pangkas dan itu menjadi masalah baru.


Selain saham perusahaan berikut dengan tanah dan bangunan yang sudah lelang pemerintah, tiga vila kita akan disita bank."


"Papa tenang aja, karena Geisya akan membelinya kembali ketika sudah menjadi istri Dewa."


Papanya kembali menghela napasnya, dan terdengar lebih berat dari yang tadi.


Geisya sangat percaya diri mengatakan demikian, dan seolah-olah tidak ada beban di pikiran dan seenaknya dia bicara seperti itu.


"kalian pulang aja, dan semoga rencana kalian berdua berhasil.

__ADS_1


Papa sudah muak melihat kalian berdua yang tidak tahu malu dan bermuka tembok."


Mungkin karena sakit hati akan ucapan tersebut, Geisya dan mama nya pergi dari ruang rawat.


Tinggallah Papa nya di ruang rawat itu, dan hanya bisa merenung seraya meneteskan air matanya.**


Geisya dan mama nya sudah berada di parkiran mobil, kedua nya terlihat begitu kesal.


"Papa kok ngeselin gitu ya ma? Papa kenapa selalu membela Nania dan Nania.


Geisya benci sama Nania, anak haram itu selalu mendapatkan perhatian Papa."


"kan Papa mu ngak ada bahas tentang Nania."


"tapi papa selalu ngak suka dan tidak mendukung kalau Geisya mau merebut suami Nania."


"ngak usah pedulikan Papa mu, pokoknya kita fokus ke tujuan kita.


Kamu tenang aja, mama akan membuat Dewa itu menjadi suami mu dan setelah itu kita lanjutkan rencana berikutnya."


Geisya sedikit terhibur, dan melajukan mobilnya untuk segera pergi meninggalkan rumah sakit.****


Dari ruang rawat inap Papa nya Geisya, dokter dan perawat mendatanginya karena bel sudah di tekan.


"apakah ada rasa sakit ya lain pak? bagaimana perasaan bapak?"


"saya kenal dengan kalian berdua, terutama Ners Susi.


Kamu sahabat Nania kan?"


"iya pak, dulu Susi pernah main ke rumah bapak dan kami belajar bareng disana.


apa yang bisa aku bantu pak?"


"Nania tidak bisa bapak hubungi, bapak dengar Nania sedang sakit paska keguguran.


bapak kangen sama Nania, karena hanya Nania yang bisa memahami bapak.


Sejak Nania menikah dengan Dewa, bapak ngak pernah bisa menghubungi.


Bapak tahu kalau Nania itu tidak bahagia dengan pernikahannya, karena aku tahu bagiamana sifat asli Dewa.


Bapak benar-benar kangen sama Nania, biasanya kami selalu ngobrol disela-sela kesibukan kami masing-masing.


Membahas kerjaan, dan membahas yang tidak penting lainnya.


Ada hal penting yang ingin bapak sampaikan ke Nania.


Tolong lah nak Susi, tolong hubungi Nania untukku. bapak yakin kalau Susi bisa menghubungi Nania."

__ADS_1


Susi seperti tidak berdaya untuk menolak permintaan dari Brata Ankarbaya, terlihat Susi langsung mengeluarkan handphonenya dan melakukan panggilan.


Panggilan pertama gagal dan akhirnya panggilan kedua berhasil.


Ketika Susi mengabarkan kalau Papa nya sedang dirawat di rumah, hanya tangisan yang terdengar.


Lalu Susi menonaktifkan loudspeaker handphone tersebut, dan beberapa lama kemudian Susi sudah selesai menelpon, lalu menatap Brata Ankarbaya.


"Nania belum sepenuhnya pulih, dan belum bisa pergi jauh dari rumah sakit.


Nania menyarankan agar bapak di rawat di rumah sakit Jawara, agar mudah bagi Nania untuk bertemu bapak."


Tanpa berpikir panjang, Brata Ankarbaya langsung mintak dipindahkan ke rumah sakit tempat Nania di rawat.


Seketika itu juga Brata Ankarbaya langsung dipindahkan ke rumah sakit Jawara.


Hal itu tentunya tidak diketahui oleh Geisya dan mamanya, sebab mereka berdua tidak perduli dengan pasien.


Hampir satu jam persiapan untuk memindahkan pasien, dan akhirnya Brata Ankarbaya sudah berada di dalam ambulans.


Dokter dan perawat dari rumah Jawara sudah mendampingi Brata Ankarbaya di dalam ambulans.


Sementara dokter Sandro dan Susi tidak bisa mendampingi pasien karena masih bertugas di rumah sakit.


Asisten rumah tangga keluarga Ankarbaya yang sudah tiba di rumah sakit dan melihat tidak seorang pun di ruang rawat majikannya itu dan langsung bertanya ke pihak resepsionis.


Akhirnya sang asisten rumah langsung menyusul majikannya ke rumah sakit Jawara dengan menggunakan taksi online.


Brata Ankarbaya sudah sampai di rumah sakit Jawara dan langsung di tempatkan di ruang rawat VVIP.


Hal itu dikarenakan permintaan dari Nania, dan sudah mendapatkan penanganan dari dokter.


Beberapa saat kemudian asisten rumah sudah tiba dan kemudian langsung menemui majikannya di ruang rawat VVIP tersebut.


"neng......"


Asisten rumah tangga langsung memeluk Nania yang dibawa ke ruangan Brata Ankarbaya dengan menggunakan kursi roda.


Hanya tangisan yang terdengar, entah tangisan bahagia karena sudah bertemu setalah sekian lama ngak bertemu atau menangis karena melihat keadaan Nania yang duduk di kursi roda.


"ya Allah neng....


Apa yang terjadi? kenapa neng Nania bisa duduk di kursi roda ini?"


Asisten rumah tangga hanya menangis dan menangis seraya memeluk Nania.


"hanya bersifat sementara mbak, Nania hanya belum sanggup aja berdiri lama dan memilih memakai kursi roda ini untuk sementara."


Setelah penjelasan dari Nania, akhirnya asisten rumah tangga itu bisa terlihat lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2