
Selesai rapat dadakan tersebut, bersama kedua mertuanya Nania, mereka pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah dan hanya mbak Yuni, yang berada disana, sementara Dewa. belum tiba di rumah.
Nania langsung masuk ke kamarnya dan kemudian membersihkan tubuh lalu istrihat. tapi Nania, malah memilih tidur di sofa.*
Pagi harinya sekitar pukul setengah enam, Nania mendapati dirinya tidur di ranjang bersama suaminya.
Lalu perlahan beranjak dari ranjang agar tidak menggangu suaminya yang sedang tertidur pulas.
Selayaknya ibu rumah tangga, yang langsung menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk keluarga tercinta.
Demikian juga Nania, yang selalu memasak untuk keluarganya yang di bantu oleh mbak Yuni.
Makanan dan minuman sudah tersaji di meja makan, dan selanjutnya membersihkan dan merapikan tempat masak.
Selesai beres-beres dan Nania kembali ke kamarnya, dan kemudian membangunkan suaminya.
"Mas...! bangun mas," ujar Nania dengan lembut.
Dewa akhirnya bangun dan tersenyum melihat istrinya, tapi tidak ditanggapi oleh Nania.
Nania meminta suaminya untuk segera mandi, sementara dirinya menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Sang suami sudah keluar dari kamar mandi, dan terus menerus memperhatikan istrinya yang berbeda dari biasanya.
Tanpa berkata apapun, Nania memberikan pakaian untuk dikenakan oleh suaminya dan kemudian berlalu ke kamar mandi.
Sepertinya Dewa, menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. lagi-lagi istrinya seperti orang yang berbeda.
Nania sudah memakai pakaian yang rapi dari dalam kamar mandi, bahkan rambutnya sudah tertata rapi.
"Ayo, Makan!" ucap Nania.
Nada yang datar dan tanpa menoleh suaminya dan keluar begitu saja dari kamar, lalu di ikuti oleh Dewa.
Dimeja makan, Nania. tetap melayani suami dan juga kedua mertuanya. tapi ekspresinya datar dan tanpa suara.
Tidak seperti dulu, penuh dengan keceriaan dan selalu ngomel.
Papanya Dewa menambah nasi di pulau piringnya dan Nania tidak ngomel, biasanya Nania langsung ngomel dan hanya memberikan sedikit nasi tambah untuk bapak mertuanya.
Suasana meja makan yang beda, semuanya diam membisu.
Beberapa saat kemudian, mereka telah selesai makan dan Nania langsung membereskan meja makan.
__ADS_1
"Pah...Mah...! Dewa berangkat kerja dulu ya." ucap Dewa, di kala istrinya berada di dapur.
Tapi kedua orangtuanya tidak menjawabnya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Dewa yang bengong.
Nania, kembali ke meja makan. untuk merapikan kembali meja tersebut.
"Nania, apa yang terjadi? kenapa Papa dan mama hanya terdiam?" tanya Dewa.
Akan tetapi pertanyaan itu tidak dijawab oleh Nania, dan hanya melangkahkan kakinya ke arah kamar.
Nania yang beranjak ke arah kamar, dan diikuti oleh Dewa dan tangan istrinya ditarik olehnya.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Dewa yang terlihat kesal karena di cuekin.
"Ceraikan Nania," jawab Nania.
Jawaban yang tidak diinginkan oleh Dewa, dan kemudian melepaskan tangan istirnya dan pergi begitu saja.
Tinggal Nania di dalam kamar dan terlihat sibuk mengumpulkan berkas-berkasnya dan kemudian mengumpulkannya dalam satu tas yang cukup besar.
Kemudian Nania, mengambil tas kecilnya, lalu beranjak keluar dari kamarnya.
"Mau kemana, Ndok?" tanya pak Sanusi yang menunggunya di ruang tamu.
"Mau ke perpustakaan kota." jawab Nania.
Baru saja jalan, pak Sanusi menepi dan mengangkat handphonenya yang berdering. sepertinya itu dari Dewa, karena pak Sanusi memanggilnya dengan panggilan tuan muda.
"Ndok, tuan muda memintak ketemuan," ucap pak Sanusi setelah selesai menerima telepon.
"Baik, Pak!" jelas Nania.
Lalu pak Sanusi berbelok dan melanjutkan perjalanannya, berhubung jalanan tidak terlalu macet sehingga mereka sudah tiba di sebuah hotel.
Dari palet parkir, Nania bersama pak Sanusi langsung menuju sebuah restoran mewah di dalam hotel tersebut.
"Perempuan itu lagi, perempuan itu lagi," ucap pak Sanusi.
Ekspresi pak Sanusi terlihat begitu kesal, sementara Nania hanya tersenyum menanggapi ucapan pak Sanusi.
Dewa yang duduk disebuah kursi dan itu bersama Geisya.
Geisya melambaikan tangannya ke arah Nania dan terlihat sok akrab, akan tetapi Nania masih saja bersikap tenang.
"Kak, Nania. kakak sengaja membatalkan proyek profesor Dadang?" tanya Geisya.
__ADS_1
Tapi Nania tidak menggubrisnya, tapi tatapan terus mengarah kepada suaminya. sementara pak Sanusi tetap mengawasi Nania dari meja yang berbeda.
"Nania, apa kamu ngak bisa menjawab pertanyaan adik mu?" tanya Dewa yang terlihat emosi melihat Nania.
"Emangnya, Aku. punya kewajiban untuk menjawab pertanyaannya?" jawab Nania, yang masih menatap tajam ke arah suaminya.
"Kenapa proyek itu resmi di batalkan?" Dewa bertanya lagi.
"Untuk menyelematkan rumah sakit Jawara." jawab Nania dengan begitu singkat.
Dewa tersenyum sinis ke arah Nania, tapi tidak ditanggapi olehnya.
"Kamu takut, kalau ayah kandung mu itu malu? kamu, sengaja menyembunyikan identitasnya.
Kamu anak haram dari profesor gila itu kan? ngak usah malu mengakuinya," ungkap Dewa tapi istrinya masih terlihat santai.
"Anak haram atau anak halal, itu bukan urusan mu. jika hanya ingin bertanya mengenai proyek profesor Dadang. silahkan pertanyakan kepada bapak dan ibu." jawab Nania.
"Kak, Nania! ngak perlu kwatir. kalau kakak itu sudah anak haram dari profesor Dadang. tapi...! ucap Geisya dengan sengaja memenggal ucapannya.
Lalu Nania beranjak dari tempat duduk, kemudian menghampiri Geisya.
"Geisya, terserah kamu mau ngomong apapun. karena ucapan orang seperti mu, hanyalah angin lalu yang berbau busuk.
Kamu dan mama mu itu, penyebab kebangkrutan keluarga Ankarbaya. kamu kira kamu akan hidup tenang setelah ini? ngak akan Geisya.
Tapi...! Kamu nikmati saja dulu kemenangan mu, kemenangan semu yang membuat berada diatas awan." kata Nania kepada Geisya.
Lalu melangkahkan kakinya ke arah Dewa, dan tatapannya yang begitu penuh makna yang sulit untuk di terjemahkan.
"Masih banyak perempuan cantik selain tong sampah itu, tapi setidaknya ceraikan aku. terlebih dahulu. jangan sampai kamu di cap sebagai laki-laki biadab." ungkap Nania.
Mungkin karena ucapan Nania, yang terlalu kasar dan akhirnya Dewa berdiri.
"Kamu, yang memulainya Nania dan kamu yang mengakhirinya. Sekarang kamu bisa menang, karena sudah berhasil mendepak ku menjadi CEO.
Kamu, tidak tahu berhadapan dengan siapa. Apapun yang kamu lakukan sekarang ini, dan aku membuat mu, membayar dengan lunas." ucap Dewa, tapi sepertinya istrinya tidak memahami kalimat itu.
"Terserah, kamu atur saja." sanggah Nania.
Lalu hendak beranjak dari tempat tersebut, tapi langsung di hadang oleh Nania.
"Kamu ikhlas kalau ayah kandung mu itu, yaitu profesor Dadang, terbongkar aibnya. jika tidak, maka. kau, harus membujuk profesor Dadang untuk melanjutkan proyeknya.
Kamu dan Profesor Dadang, akan malu seumur hidup mu." ujar Geisya.
__ADS_1
"Atur ajalah," sanggah Nania, lalu mendorong tubuh Geisya.
Nania sudah pergi yang diikuti oleh pak Sanusi dan mereka bersama-sama pergi dari restoran mewah itu.