
Mama Natasha terlihat tidak suka mendengar ucapan Stela barusan, ia menatap Leta lalu brrlaij pada Stela.
"Stela! Kenapa kamu berbicara seperti itu? Bagaimana pun juga, Leta adalah calon istri putra tante sekaligus calon menantu tante, kamu tidak boleh merendahkannya seperti itu. Tante tidak pernah membedakan status siapa pun, asalkan putra tante bahagia dengan pilihannya, maka tante pun ikut bahagia." Ucap Natasha membuat Ken tersenyum senang, sementara Stela terlihat terdiam dengan tangan yang ia kepalkan di bawah sana. Stela tidak menyangka jika Natasha akan berkata demikian, sangat jauh dengan apa yang ia harapkan.
"Maafin aku tante, aku tidak bermaksud untuk merendahkannya, tetapi aku hanya khawatir terhadap tante, aku tidak mau kalau tante harus menanggung malu karena memiliki menantu yang hanya seorang pelayan." Sahut Stela sambil memperlihatkan raut wajahnya yang terlihat merasa bersalah. Padahal, dalam hati ia benar-benar merasa sangat kesal karena Natasha sama sekali tidak terpancing oleh ucapannya.
"Sudahlah Stela, kamu tidak perlu meminta maaf sama tante, tapi lain kali kamu harus menjaga sikap dan ucapanmu terhadap Leta, dan kamu juga harus meminta kepada Leta karena kamu sudah berkata yang tidak menyenangkan terhadapnya." Ucap Natasha semakin membuat Stela di selimuti amarahnya. Namun, Stela masih bisa mengontrol emosinya dan memperlihatkan wajahnya yang terlihat merasa bersalah itu.
"Iya tante, lain kali aku akan menjaga sikap dan ucapanku terhadap Leta." Sahut Stela dengan tangan yang masih terkepal kuat di bawah sana.
"Leta, gue minta maaf atas ucapan gue tadi, gue harap lo tidak memasukannya ke dalam hati ya." Ucap Stela kepada Leta.
"Ya, tidak apa-apa, dan aku tidak pernah memasukan ucapanmu ke dalam hati. Karena bagiku ucapanmu itu sama sekali tidak penting." Sahut Stela seraya memperlihatkan senyumannya yang manis kepada Stela. Sementara Stela hanya membalasnya dengan senyuman palsu.
"Sayang, kamu gadis yang baik, Ken tidak salah memilih kamu sebagai calon istrinya. Kamu memiliki hati yang sangat lembut, meskipun tante baru pertama kali melihatmu, tapi tante sangat yakin jika kamu memang wanita yang sangat baik. Ken benar-benar beruntung bisa memiliki calon istri seperti kamu, nak." Ucap Natasha sambil mengusap punggung tangan calon menantunya tersebut.
Leta yang mendengar ucapan mama Natasha pun tersenyum, entah mengapa ucapan mama Natasha membuat Leta merasa tersentuh, mungkin karena hanya mama Natasha lah yang memujinya seperti itu.
"Betulkan Ken apa yang mama ucapkan." Tanya mama Natasha kepada putranya yang sedari merasa sangat geram dengan apa yang di ucapkan oleh Stela.
"Iya, mah. Aku memang sangat-sangat beruntung bisa memiliki calon istri seperti Leta, jadi siapapun yang berani menghina ataupun merendahkan Leta, aku tidak akan pernah membiarkannya begitu saja." Sahut Ken dengan sangat lembut, dan sekilas melirik ke arah Stela yang sudah membuatnya geram itu.
"Jangankan kamu, Ken. Mama pun tidak akan membiarkan calon menantu mama di hina apalagi di rendahkan." Ucap mama Natasha sengaja menyindir Stela, putri sahabatnya itu.
"Ternyata mulut laki-laki ini bisa lembut sekali jika berbicara dengan mamanya, aku pikir dia akan berbicara dengan nada yang dingin sama seperti kepada orang lain. Ternyata aku salah, dan sepertinya dia sangat-sangat menghormati mamanya." Batin Leta sembari menatap Ken.
__ADS_1
"Tuh dengarkan sayang, Ken itu sangat-sangat beruntung memiliki calon istri sepertimu, dan itu artinya dia sangat mencintai kamu. Jadi, tante berharap kamu juga bisa membalas cintanya Ken dengan tulus." Ucap Natasha seraya menatap calon menantunya tersebut.
"Iya tante, aku,,,, aku pasti akan mencintai Ken dengan tulus seperti yang tante inginkan." Sahut Leta membuat senyuman di wajah Ken mengembang seketika, termasuk mama Natasha. Sementara Stela, sudah jangan di tanya lagi, tentunya kalian bisa menebaknya sendiri.
"Tuh dengarkan, mah. Leta itu juga akan mencintaiku dengan tulus, jadi mama tenang saja ya, jangan mengkhawatirkan hubungan kita berdua." Ucap Ken masih dengan nada suaranya yang lembut. Bahkan senyumannya pun masih terpancar dari raut wajahnya.
"Iya, Ken. Mama tidak akan merasa khawatirnlagi, karena mama sudah mendengar sendiri dari mulut calon istrimu itu." Sahut mama Natasha, kembali mengusap punggung tangan calon menantunya tersebut.
"Sialan kalian semua, bahagia di atas penderitaanku. Aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Dan kamu perempuan rendahan, lihat saja bagaimana aku akan memberimu pelajaran, karena kamu sudah merebut Ken dariku." Batin Stela sambil menatap sinis ke arah Leta.
"Permisi, nyonya, tuan. Ini jus alpukatnya." Tiba-tiba si bibi datang dengan sebuah nampan yang berisikan dua gelas jus alpukat dan juga dua gelas jus apel. Si bibi langsung meletakan jus alpukat itu di atas meja. "Silahkan di minum." Sambung si bibi ramah.
"Terima kasih ya bi." Ucap mama Natasha lembut.
"Sama-sama, nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit si bibi yang mendapat anggukkan kepala dari mama Natasha dan juga Leta. Lalu setelah itu, si bibi pun langsung berbalik dan melangkahkan kedua kakinya menuju belakang.
"Terima kasih tante, aku memang kebetulan haus banget." Jawab Leta seraya mengambil jus miliknya. "Aku minum ya tante jusnya." Sambung Leta yang mendapat anggukkan kepala dari Natasha.
"Aku gak di suruh minum juga mah." Protes Ken seperti bocah kecil saja.
"Kamu kan bukan tamu Ken, jadi tidak perlu di suruh minum." Sahut mama Natasha sekilas melirik ke arah putranya tersebut.
"Leta juga bukan tamu mah, dia calon istri aku, dan itu artinya dia juga keluarga mama juga kan." Ucap Ken membuat sang mama menghela nafasnya.
"Meskipun Leta calon istrimu, tapi dia tetap tamunya mama, karena dia baru pertama kali datang kesini dan bertemu sama mama. Kamu ini udah kayak anak kecil aja, selalu protes." Ujar sang mama sambil menatap Ken.
__ADS_1
"Tapi mah... "
"Jangan protes lagi, nanti mama jewer telinga kamu." Sela sang mama membuat Ken langsung terdiam sementara Leta, terlihat menyunggingka senyumannya. Baru kali ini ia melihat Ken bertingkah seperti bocah, apakah itu karena dia berhadapan dengan sang mama tercintanya?
"Stela, kamu sedang memikirkan apa? Kenapa daritadi diam saja." Tanya mama Natasha menatap Stela yang hanya terdiam.
"Aku tidak memikirkan apa-apa tante, aku hanya merasa sedikit iri saja melihat tante yang begitu perhatian terhadap Leta. Padahal kalian baru ketemu sekarang." Ucap Stela sambil tersenyum palsu.
"Wajar dong Stel, tante perhatian sama calon menantu tante sendiri, masa tante harus jutek gitu. Kamu ini ada-ada saja." Sahut mama Natasha seraya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Stela barusan.
"Daripada kamu merasa iri terhadap calon menantu tante, lebih baik kamu minum jus apelnya, mumpung masih segar." Sambung mama Natasha seraya mengambil jus apel miliknya.
"Aku masih belum haus tante, lagian tadi aku juga sudah menghabiskan jusku yang pertama." Sahut Stela masih memperlihatkan senyuman palsu di wajahnya itu.
"Ah ya sudah kalau begitu tante saja deh yang minum, kebetulan tante lagi haus." Ucap mama Natasha sebelum ia meminum jus apelnya. Stelah hanya menganggukkan kepalanya saja, dan sesekali ia melirik Ken yang sedari tadi hanya menatap Leta dalam.
Sementara itu, Leta mulai meletakan jus alpukatnya di atas meja, namun belum satu detik jus itu menempel di atas meja, dengan cepat Ken pun mengambil jus itu dan meminumnya hingga habis tak tersisa.
"Ken itukan jus Leta, kenapa kamu malah meminumnya." Ucap mama Natasha sambil menatap putranya tersebut.
"Tidak apa-apa, mah. Sama saja kok." Sahut Ken seraya meletakan gelas yang sudah kosong itu di atas meja.
"Dasar nyebelin! Kenapa kamu meminum jus milikku." Protes Leta sedikit berbisik di telinga Ken.
"Karena aku suka meminum bekas bibir manismu sayang." Bisik Ken membuat wajah cantik Leta memerah seketika.
__ADS_1
Bersambung.....