
Perusahaan Kendrick Group.
Ken mengepalkan tangannya kuat menahan amarah yang ada dalam dirinya. Ia baru saja mendapat kabar bahwa kekasih calon istrinya sudah kembali kemarin siang, dan saat ini mereka sedang pergi menuju suatu tempat yang Ken sendiri tidak mengetahuinya.
Ken melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya, ia menatap Seth dengan begitu dingin dan juga sangat amat tajam membuat Seth sedikit menciut, untuk yang pertama kalinya ia mendapat tatapan seperti dari bosnya tersebut.
"Katakan kemana mereka pergi, Seth?" Tanya Ken begitu dingin, sedingin es yang berada di kutub utara.
"Menurut anak buah saya, mereka pergi ke arah pantai, bos." Jawab Seth sebisa mungkin berusaha untuk tetap tenang menghadapi singa yang terlihat sangat kelaparan itu.
"Pantai? suruh anak buahmu untuk tetap terus awasi mereka. Mengerti." Perintah Ken tanpa mengubah intonasinya yang tinggi dan juga dingin.
"Baik bos, apa perlu anak buah saya, membawa nona Leta kemari?" Tanya Seth sambil menatap sang bos yang kini sudah mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Tidak perlu, karena ini akan menjadi pertemuan terakhir bagi mereka berdua." Ucap Ken setelah ia membuang nafasnya kasar. "Kau hanya perlu memerintahkan anak buahmu untuk mengawasi calon istriku dengan laki-laki itu, mengerti." Sambung Ken dengan tegas.
"Saya mengerti, bos. Kalau begitu saya permisi dulu, bos." Ucap Seth sedikit membungkukkan tubuhnya.
Ken hanya menganggukkan kepalanya pelan, dengan tatapan mata lurus ke depan. Seth langsung berbalik, ia mulai melangkahkan kedua kakinya dengan perasaan lega, karena dapat terbebas dari bos dinginnya itu.
"Jika dia sedang cemburu, sungguh sangat menyeramkan." Batin Seth sambil mempercepat langkah kakinya meninggalkan ruangan bosnya yang terasa sangat amat dingin itu.
Setelah Seth keluar dari dalam ruangannya, Ken mulai menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Mengingat saat ini calon istrinya sedang bersama laki-laki lain, tentu saja membuat hatinya panas. Apalagi laki-laki itu adalah kekasih calon istrinya sendiri, semakin menambah api cemburu dalam dirinya.
"Leteshia. Aku pastikan ini adalah terakhir kalinya kamu bertemu dengan kekasihmu itu. Aku tidak perduli, bagaimanapun caranya, kamu harus menjadi milikku secepatnya." Batin Ken sambil mengepalkan kedua tangannya kuat. Tatapan matanya kembali menajam membuat siapapun akan langsung bergidik ngeri.
Ken memang sengaja meminta Seth untuk menyuruh anak buahnya selalu mengawasi Leta. Ia tida ingin calon istrinya itu kabur dan membatalkan pernikahan dengan dirinya.
__ADS_1
"Nikmatilah waktu kalian berdua, karena setelah ini, tidak akan aku biarkan calon istriku menemui laki-laki lain selain diriku." Ken kembali membatin, tangannya masih terkepal dengan kuat guna menahan api cemburu dalam dirinya.
Sementara itu di tempat lain, Leta dan juga Ray sudah tiba di sebuah pantai, tempat yang sudah di siapkan oleh anak buah Ray, untuk memberikan kejutan special kepada kekasih hatinya itu.
"Ray! Apa kita sudah sampai?" Tanya Leta yang saat ini kedua matanya di tutup oleh kain penutup mata.
"Sudah, sayang. Sebentar ya, aku buka dulu penutup matamu." Ucap Ray yang mendapat anggukkan dari sang kekasih.
Ray mulai meraih kain penutup mata yang menghalangi pandangan kekasih hatinya itu, lalu membukanya secara perlahan, membuat Leta dapat melihat langsung pemandangan yang sungguh luar biasa indah yang sudah di siapkan oleh kekasihnya itu.
"Apa kamu menyukainya, sayang?" Tanya Ray saat ia melihat sang kekasih terdiam dengan tatapan takjub.
"Sangat menyukainya. Pemandangan ini benar-benar sangat indah." Sahut Leta tanpa mengalihkan pandangannya dari pantai yang sudah di sulap begitu indah dan romantis.
"Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu sudah mempersiapkan semua ini untukku. Terima kasih, Ray." Sambung Leta sambil menatap kekasihnya itu dengan bahagia.
Ray tersenyum, ia memberikan kecupan hangatnya di kening sang kekasih membuat wajah sang kekasih merah merona.
"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu." Ray kembali berucap dengan sangat lembut, ia tidak pernah sekalipun mengalihkan tatapannya dari wajah sang kekasih.
"Apa, Ray?" Tanya Leta sangat penasaran.
"Pejamkan dulu matamu, sayang." Ucap Ray sambil mengelus lembut wajah cantik sang kekasih.
"Baiklah." Jawab Leta sembari memejamkan kedua matanya secara perlahan.
Ray tersenyum, ia mulai mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sangat indah dari saku celananya.
__ADS_1
Ray mulai berjongkok, layaknya seseorang yang sedang melamar sang pujaan hatinya. "Sayang, sekarang kamu sudah boleh membuka matamu." Ucap Ray membuat Leta kembali membuka kedua matanya secara perlahan.
"Edrea Leta Leteshia. Maukah kamu menikah denganku, menemaniku sepanjang waktu, hidup berdua denganku hingga akhir waktuku?"
Deg....
Detak jantung Leta berdetak dengan sangat cepat, ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu selama ini, hari dimana sang kekasih akan melamarnya dengan sangat romantis, dan dia tentunya akan menerima lamaran sang kekasih dengan sepenuh hati.
Namun sayangnya, hari yang ia tunggu-tunggu selama ini, tidak mungkin menjadi hari yang paling bahagia dalam hidupnya, justru akan menjadi hari yang paling menyedihkan untuk dirinya dan juga, Ray.
Leta berusaha untuk menahan kristal bening yang mulai mengembang di sudut matanya. Ia menatap sang kekasih yang sedang menyunggingkan senyumannya menantikan sebuah jawaban darinya.
"Maafkan aku, Ray. Aku,,, aku aku tidak bisa menerima lamaranmu." Jawab Leta membuat senyuman di wajah Ray menghilang seketika.
"Sayang, jangan becanda. Ini tidak lucu sama sekali." Ucap Ray berusaha untuk meyakikan dirinya bahwa penolakkan sang kekasih hanyalah candaan semata.
"Aku serius, Ray. Aku benar-benar tidak bisa menerima lamaranmu." Seru Leta sambil menatap wajah sang kekasih dengan sendu.
"Apa alasannya, sayang? Apakah aku terlalu mendadak melamarmu? Kalau memang itu alasannya, aku bisa memberimu waktu untuk berpikir." Ucap Ray sambil berdiri dan menatap lekat wajah sang kekasih.
"Kita tidak akan pernah bisa bersama, Ray. Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bersatu." Sahut Leta membuat Ray langsung terdiam dengan berbagai kecemasannya.
"Jadi, mari kita akhiri semuanya sampai di sini saja." Sambung Leta dengan air mata yang mulai membasahi wajah cantiknya.
"Sayang, kamu sedang ngeprank aku kan? Ayolah sayang, ini sama sekali tidak lucu." Ucap Ray sambil menangkup wajah cantik sang kekasih yang kini sudah di banjiri oleh air mata.
"Ray, aku tidak ngeprank kamu, aku serius. Kita memang tidak akan pernah bisa bersama selamanya." Jawab Leta sendu.
__ADS_1
"Tapi, apa alasannya, Leteshia. Kenapa kita tidak bisa bersama? Bukankah kita saling mencintai satu sama lain? Bukankah kita selalu menjaga cinta dan kesetiaan kita selama ini? Lantas! Mengapa kamu berkata bahwa kita tidak akan pernah bisa bersama selamanya? Ku mohon, beri aku alasan yang tepat, Leteshia." Ucap Ray terlihat begitu frustasi mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh sang pujaan hatinya itu.
Bersambung.