
Perusahaan Kendrick Group
Ken terlihat begitu geilsah, ia sedari tadi terus berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya menunggu kedatangan Leta yang tak kunjung datang juga.
"Kenapa dia lama sekali? Apakah dia tidak tahu jika perutku sudah keroncongan begini." Gerutu Ken yang kemudian duduk di atas sofa yang berada di dalam ruangannya itu.
Ken memang belum makan siang sedikitpun, ia sengaja menunggu Leta agar dirinya bisa makan siang bersama gadis pujaannya itu.
Tidak lama kemudian pintu ruangannya pun di ketuk oleh seseorang, dengan segera Ken pun menyuruh seseorang itu masuk ke dalam ruangannya.
"Masuk." Perintah Ken datar.
Sesorang yang mengetuk pintu itupun segera masuk ke dalam, mereka berjalan menghampiri Ken yang kini sedang menampilkan wajahnya yang dingin itu.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Ken dingin.
"Maafkan saya bos, di jalan sedikit macet." Sahut Seth sedikit menundukkan kepalanya.
"Alasan saja!" Seru Ken masih dengan nada suaranya yang dingin membuat Leta kesal.
"Tuan Ken yang terhormat! Apakah kamu tahu jarak tempat kerjaku dengan perusahaanmu itu lumayan nauh, belum lagi di jalan tadi macet, jadi wajar saja jika kita lama. Aneh-aneh saja." Ucap Leta sambil memperlihatkan wajahnya yang kesal.
"Sudahlah, ayo cepat kira makan, aku sudah sangat lapar." Ajak Ken tanpa mau berdebat dengan Leta, karena perutnya sudah terasa sangat lapar.
"Kalau begitu saya permisi dulu, bos." Seth berpamitan seraya membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Kenapa tidak makan bareng dulu, pasti kamu juga belum makan siang kan?" Tawar Leta tanpa memperdulikan tatapan Ken yang terlihat tajam itu.
"Tidak perlu, nona. Saya sudah makan tadi. Kalau begitu saya permisi dulu." Seth segera melangkahkan kedua kakinya pergi sebelum si singa jantan itu memakannya hidup-hidup.
Leta hanya menatapnya dengan bingung, namun ia juga tidak ingin mencegah asisten calon suaminya tersebut.
"Cepat kesini, kamu sudah membuatku kelaparan!" Perintah Ken dengan kesal.
"Kalau kamu mau makan, ya makan saja sendiri. Tidak perlu menungguku, karena aku sudah makan siang tadi, jadi kamu jangan menyalahkanku." Sahut Leta sambil menatap Ken dengan tatapan matanya yang tak kalah kesalnya dari Ken.
"Terserah! Sekarang, kamu duduk temani aku makan siang. Mengerti." Ucap Ken dengan tegas.
__ADS_1
Leta memutar kedua bola matanya malas, ia pun mulai duduk di kursi sofa yang berada di dekat Ken. "Aku sudah duduk, kamu makanlah." Titah Leta seraya meletakkan tas kecilnya di sampingnya.
"Kamu juga makan lagi, aku tidak mau makan sendirian." Perintah Ken seraya memberikan sepiring makanan kepada Leta.
"Aku sudah bilang, kalau aku sudah makan siang dan aku masih kenyang." Ucap Leta seraya menatap Ken semakin kesal.
"Aku tidak perduli, makan atau aku akan memakanmu sekarang." Perintah Ken dengan tegas.
"Kamu!!! Dasar menyebalkan, selalu saja memaksaku." Omel Leta seraya mengambil sepiring makanan itu dari Ken.
Ken yang mendengarnya pun terkekeh pelan, namun ia tidak berniat untuk menjawab ucapan calon istrinya tersebut, karena saat ini perutnya lebih penting.
Ken pun mulai memakan makanannya, sementara Leta, ia justru melirik ke arah jam dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
"Ini sudah jam tiga sore, kenapa kamu baru makan siang?" Tanya Leta sebelum ia memasukan makanannya ke dalam mulutnya.
"Karena aku baru menyelesaikan pekerjaanku, jadi aku tidak sempat makan siang." Sahut Ken yang kembali menyantap makanannya.
"Kenapa kamu tidak menunda pekerjaanmu dulu, apakah kamu seorang gila kerja sampai harus melewatkan makan siangmu itu?" Tanya Leta sedikit melembutkan nada suaranya dan menatap Ken penasaran.
"Ya, aku memang gila kerja, dan aku tidak bisa menundak pekerjaanku, tapi sebenarnya aku sudah menyelesaikan pekerjaanku dari tadi sekitar pukul dua siang." Ucap Ken sembari membalas tatapan mata Leta.
"Karena aku ingin makan siang di temanin sama kamu, makannya aku sengaja menyuruh Seth untuk menjemputmu." Sahut Ken sambil memperlihatkan senyuman di wajahnya yang tampan itu.
"Astaga... Apakah dia sudah gila? Kenapa dia harus menahan rasa laparnya hanya karena ingin di temani makan siang olehku? Aku benar-benar tidak habis pikir." Batin Leta seraya menatap Ken dengan tidak percaya.
"Jangan menatapku seperti itu, baby. Nanti aku bisa khilap." Ucap Ken seraya memperlihatkan kedipan nakalnya membuat Leta mendengus kesal.
"Kamu masih bisa becanda di saat kamu sedang kelaparan!" Seru Leta seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku sedang tidak becanda, baby. Bahkan aku bisa menahan rasa laparku sampai satu minggu jika itu demi kamu." Sahut Ken sangat tidak masuk akal.
"Kamu itu sudah gila, Ken. Bagaimana mungkin kamu membiarkan dirimu sendiri kelaparan hanya karena ingin di temani makan olehku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan pikiranmu, Ken." Ucap Leta dengan raut wajah yang mulai berubah.
"Ya! Kamu memang tidak akan pernah mengerti, Leteshia. Bahkan kamu tidak akan mengerti tentang perasaanku terhadapmu." Sahut Ken sambil menatap Leta dengan lekat membuat Leta sedikit salah tingkah.
"Astaga... Kenapa aku menjadi gugup seperti ini? Dan kenapa dia terus menatapku dengan tatapan yang seperti itu? Sangat menyebalkan." Batin Leta berusaha untuk tetap bersikap normal seperti biasanya.
__ADS_1
"Jangan menatapku terus, cepat habiskan makananmu." Titah Leta setelah beberapa detik.
"Kamu sangat cantik, sampai-sampai aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari wajahmu." Sahut Ken dengan nada suaranya yang begitu lembut berbeda dari sebelumnya.
Ken terus menatap Leta seraya memperlihatkan senyuman di wajahnya, membuat Leta semakin gugup. Namun tiba-tiba saja senyuman di wajah Ken menghilang ketika Ken tidak sengaja melihat pergelangan tangan Leta sedikit memerah.
"Kenapa dengan pergelangan tangamu?" Tanya Ken sembari meletakkan makananya dan meraih pergelangan tangan Leta.
"Tidak apa-apa, ini hanya bekas,,,, bekas jam tangan. Ya, bekas jam tangan saja." Sahut Leta seraya menarik kembali pergelangan tangannya.
"Ah kenapa bekas cengkraman pelanggan gila itu masih belum hilanh juga? Padahal ini sudah lama, tapi masih saja ada." Batin Leta.
"Kamu sedang membohongiku? Jawab jujur Leteshia, aku paling tidak suka di bohongi." Ucap Ken sambil menatap Leta tajam.
"Iya aku memang berbohong, ini adalah bekas cengkraman pelanggan gila di tempatku bekerja, puas." Sahut Leta malas. Malas karena ia harus membahas kejadian yang menimpahnya tadi siang.
"Pelanggan gila?" Tanya Ken memastikan.
"Iya, pelanggan gila yang memaksaku untuk menemaninya makan, tetapi aku menolaknya dan dia tidak senang, lalu mencengkram tanganku. Untung saja pada saat itu ada manegerku di sana, jadi pelanggan gila itu pergi." Ucap Leta menjelaskan.
Ken mulai mengepalkan tangannya kuat, ia tidak terima jika calon istri yang amat di cintainya itu di sentuh oleh orang lain, apalagi sampai meninggalkan bekas memerah seperti itu.
"Sialan! Siapa yang berani mengganggu calon istriku, apakah dia sudah bosan hidup? Aku harus mencari tahu dia dan memberinya pelajaran." Batin Ken sambil menahan emosi dalam dirinya.
"Aku akan memberinya pelajaran. Berani sekali dia mengganggumu. Dia pasti sudah bosan hidup." Seru Ken sembari mengusap pergelangan tangan calon istrinya dengan lembut.
"Sudahlah, Ken. Kamu tidak perlu memberinya pelajaran, lagian aku juga tidak terlukakan?"
"Apanya yang tidak terluka? Kamu tidak lihat pergelangan tanganmu sampai memerah seperti ini! Jika aku tidak memberinya pelajaran, dia pasti akan kembali lagi dan mengganggumu lagi." Ucap Ken dengan nada suaranya yang kembali lembut.
"Terserah kamu saja. Lagian kamu juga tidak tahu wajah pelanggan gila itu seperti apa. Jadi, bagaimana kamu bisa memberinya pelajaran?"
"Bukankah di restaurantmu ada CCTV?"
"Aku lupa." Sahut Leta tersenyum kaku.
"Sudahlah, ayo selesaikan makan kita dulu." Ucap Ken sembari mengusap pucuk kepala Leta lembut, tak lupa dengan senyuman yang mengembang dari sudut bibirnya.
__ADS_1
Bersambung....