
Ken sudah berada di dalam ruangannya bersama asistennya Seth. Ia segera memeriksa berkas-berkas yang di berikan oleh Seth tadi, namun sesaat kemudian, dia berhenti dari kegiatannya, lalu dia tertawa dengan sangat kencang, saat ia mengingat kejadian semalam, ketika dirinya melihat wajah terkejut Leta yang menurutnya sangat amat lucu itu.
"Astaga, kenapa aku kembali mengingat kejadian semalam? Argh dia sangat lucu sekali." Batin Ken masih dengan tawanya yang lepas membuat si asisten itu kembali terkejut setengah mati.
"Astaga ada apa lagi dengan si bos ini, kenapa dia tiba-tiba tertawa? Apakah di dalam berkasnya ada yang lucu?" Batin Seth sambil mengusap dadanya, dan menatap bingung bos dinginnya itu.
Ken masih tertawa, kali ini tangannya menggebrak-gebrak meja kerjanya, membuat Seth langsung berdiri dan mundur dua langkah. Tingkah laku sang bos semakin membuatnya tidak mengerti dan juga bergidik ngeri. Kenapa pula bosnya itu selalu tiba-tiba tertawa tidak jelas? Apakah jiwanya terganggu? Dengan memikirkannya saja membuat Seth pusing sendiri.
"Jangan keluar, Seth. Tahan, bagaimana pun juga, dia adalah bos kamu, kamu tidak boleh takut sama tingkah lakunya yang aneh itu." Seth kembali membatin sambil menatap bosnya. Sementara sang bos, malah semakin tertawa lebar tanpa hentinya. Sangat mengerikan.
Detik berikutnya.
Ken mulai menghentikan tawanya, ia menaruh berkas itu di atas meja kerjanya, lalu ia melepas jas yang sedari tadi menempel di tubuhnya, Ken bersiul dan bernyanyi, ia sama sekali tidak menyadari kehadiran sang asisten yang sedari tadi menatapnya dengan aneh dan juga takut.
"Tadi tertawa, sekarang bernyanyi! Astaga, apakah dia benar-benar bosku yang dingin itu?" Lagi-lagi Seth membatin sambil menggelengkan kepalanya bingung melihat tingkah aneh bosnya tersebut.
__ADS_1
"Ekhmmm." Seth berdehem pelan, berharap sang bos dapat menyadaru kehadirannya. Namun sayangnya, Ken sama sekali tidak Mendengarnya. Ia masih asik bernyanyi dan memeriksa berkas-berkasnya.
Peluk erat tubuhku, sentuhlah jemariku, rebahkan sayap-sayap patahmu.....
"Ekhemmm... Ekhemmm.." Seth kembali berdehem, kali ini dehemannya cukup keras membuat nyanyian Ken yang indah itu terhenti di tengah jalan.
Ken langsung menatap Seth, ia sedikit terkejut ketika mendapati Seth yang sedang menatapnya dengan senyuman kakunya.
"Bos! Anda tidak apa-apa?" Tanya Seth dengan wajah yang polos.
"Saya memang daritadi berada di sini, bos." Sahut Seth jujur.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu keluar tadi?" Ucap Ken membuat kening Seth berkerut.
"Anda becanda, bos. Anda sama sekali tidak menyuruh saya keluar." Sahut Seth dengan tawa menyebalkannya.
__ADS_1
Ken tidak lagi berkata, ia lebih memilih fokus dengan berkas-berkas tersebut, tanpa ada nyanyian yang indah seperti tadi.
Setelah selesai memeriksa dan menandatangani berkas-berkas tersebut, Ken pun langsung menyerahkannya kepada Seth.
"Sudah selesai, kau keluarlah." Ucap Ken sambil memberikan berkas-berkas itu kepada Seth.
"Baik bos, kalau begitu saya permisi dulu." Sahut Seth sembari mengambil berkas yang di berikan oleh Ken. Ken hanya menganggukkan kepalanya pelan, lalu setelah itu, Seth pun langsung berbalik dan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruangan bosnya.
"Argh sial. Dia pasti melihat dan mendengarku bernyanyi tadi. Argh kenapa aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya? Apakah ini yang di namakan cinta membutakan segalanya? Aish benar-benar memalukan." Gerutu Ken sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Babang mah begitu, kalau udah jatuh cinta, dunia terasa milik sendiri, si asisten anggap saja mahluk Ghoib.
Bersambung.
__ADS_1