Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Bab57.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Leta sudah siap dengan tas kecil yang selalu ia bawa ke tempat kerjanya. Ia pun segera melangkahkan kedua kakinya menuruni anak tangga, dan berjalan menghampiri pamannya yang kini sudah duduk di atas kursi meja makannya.


"Paman, aku berangkat dulu ya." Pamit Leta membuat pak Antonius langsung menoleh ke arahnya.


"Tidak sarapan dulu?" Tanya pak Antonius yang mendapat gelengan kepala dari Leta.


"Sebaiknya kamu sarapan dulu, Leta. Jangan sampai kamu sakit." Ucap pak Antonius lembut.


"Tidak perlu, paman. Biar nanti saja sarapannya di tempat kerja." Jawab Leta selalu memperlihatkan senyumannya yang manis.


"Oh yasudah, kalau begitu kamu hati-hati ya di jalan, jangan kebut-kebutan bawa motornya. Ingat! Keselamatan adalah hal yang utama." Nasehat pak Antonius membuat Leta kembali tersenyum.


"Iya, paman. Aku tahu kok. Yasudah, aku berangkat dulu paman." Pamit Leta yang mendapat anggukkan kepala dari pamannya itu.


Setelah berpamitan, Leta pun langsung melangkahkan kedua kakinya menuju tempat dimana ia memarkirkan kendaraan roda duanya itu. Sementara pak Antonius kembali menyantap sarapannya.


***

__ADS_1


Restaurant.


Arsha sudah berada di tempat kerjanya. Ia nampak sedang celingukan mencari keberadaan sahabatnya Leta yang tak kunjung datang juga.


"Nih anak kenapa belum datang sih? Apa dia tidak masuk kerja lagi?" Ucap Arsha pelan sambil menatap pintu restaurant tempat ia bekerja menunggu kedatangan sahabatnya, Leta.


"Nah tuh dia." Ucap Arsha ketika melihat sahabatnya memasuki restaurant tersebut.


"Ahh akhirnya lo datang juga. Gue kira lo tidak masuk kerja lagi."Ucap Arsha ketika Leta sudah berada di hadapannya.


"Kenapa emang? Lo kangen sama gue? Baru satu hari saja gue tidak masuk, lo udah heboh." Sahut Leta sambil meletakkan tas kecil miliknya di atas meja.


"Dasar sahabat tidak punya hati, apa susahnya bilang kangen, biar gue senang dikit. Ini mah malah jujur banget." Seru Leta sambil menoyor kepala Arsha pelan membuat gadis itu terkekeh pelan.


"Iya deh iya, gue kangen sama lo. Puas." Ucap Arsha diirngi dengan tawanya.


"Udah basi, Arshavina." Seru Leta sambip memutar kedua bola matanya malas.


"Tinggal di angetin sih, kalau udah basi mah." Ucap Arsha sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


"Oh iya lo kemarin kemana aja, Ta? Kok tumben gak bilang sama gue kalau lo tidak masuk kerja. Biasanya kan lo selalu bilang sama gue." Tanya Arsha mulai kepo.


"Gue kemarin pas mau berangkat kerja ketemu sama Ray, dia sengaja menunggu gue dan meminta waktu gue berbicara. Dia masih tidak bisa menerima kalau gue sebentar lagi akan menikah dengan laki-laki lain." Leta menghela nafasnya kasar sebelum ia melanjutkan lagi ceritanya.


"Sialanya, laki-laki yang akan menjadi suami gue, melihat gue sama Ray. Dia marah dan tidak terima, lalu dia membawa gue pergi ke perusahaannya." Sambung Leta terdengar kesal.


"Dan itulah alasannya kenapa gue tidak masuk kerja kemarin." Imbuhnya lagi.


"Tapi calon suami lo tidak memukuli si Ray, kan Ta?" Tanya Arsha yang mendapat gelengan kepala dari Leta.


"Lalu, bagaimana selanjutnya? Lo tidak di apa-apain kan sama calon suami lo itu?" Tanya Arsha semakin penasaran.


"Tidak, Arshavina. Kalau dia berani apa-apain gue, gue pasti akan menendang senjatanya." Jawab Leta yang mendapat pelototan dari Arsha.


"What, lo gila apa. Nanti kalau lo tendang senjatanya, terus senjatanya tidak bisa bangun lagi, lo juga kan yang rugi." Ucap Arsha yang mendapat cubitan gemas dari Leta.


"Dasar sialan. Pikiran lo mesum banget soh, Arshavina. Sudahlah sebaiknya kita sarapan dulu, nanti keburu masuk kerja lagi." Seru Leta sambil pergi melangkahkan kedua kakinya.


"Gue cuma becanda, Leteshia. Tungguin gue dong." Ucap Arsha setengah berteriak karena Leta sudah berjalan cepat meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2