
Di tempat lain.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Ray mulai menghentikan pekerjaannya, ia berdiri lalu meregangkan otot-oto tangannya. Setelah itu ia pun merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celananya, berharap ada pesan dari mantan kekasihnya, Leta. Namun sayangnya, ia harus kecewa karena tidak ada satu pesan pun dari wanita yang di cintainya itu. Ray menghela nafasnya kasar, ia sadar seharusnya ia tidak menunggu pesan ataupun panggilan telpon dari Leta, karena dengan keadaannya sekarang ini, Leta pasti selalu di awasi oleh Ken, dan pastinya Ken tidak mungkin membiarkan Leta untuk menghubungi Ray.
Ray kembali menghela nafasnya kasar, ia terlihat emosi ketika membayangkan jika gadis yang di cintainya itu kini berada di bawah pengawasan calon suaminya tersebut. Namun Ray tidak bisa berbuat apa-apa, karena posisinya saat ini sangat tidak memungkinkan jika dirinya dapat mengalahkan Ken dan merebut mantan kekasihnya kembali.
"Leta, aku sangat merindukanmu, apakah kamu juga merindukan aku?" Lirih Ray seraya menatap photo Leta yang terpampang di layar ponselnya.
"Tunggu aku, Leta. Aku pasti bisa merebutmu kembali darinya." Batin Ray penuh keyakinan.
Ray perlahan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruangan kerjanya tersebut dan bergegas menuju kamarnya.
***
Kediaman Ken.
Keesokan harinya.
Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi, Ken sudah bangun dari tidurnya, ia pun segera bergegas menuju kamar mand untuk membersihkan dirinya.
Setelah beberapa menit berlalu, Ken pun sudah menyelesaikan ritual mandi paginya, ia pun keluar dari dalam kamar mandi itu dan berjalan menuju walk in closet, lalu mengambil setelan kerjanya dan memakainya di tempat.
Setelah selesai memakai setelan kerjanya, Ken pun keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga.
"Selamat pagi, tuan Ken. Sarapannya sudah siap, silahkan tuan." Sapa si bibi yang baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk Ken.
"Hmm terima kasih." Ucap Ken seraya menghentikan langkah kakinya. Lalu setelah itu ia pun kembali melangkahkan kedua kakinya menuju ruang makan. Ken segera menarik kursi meja makan, lalu duduk dan mulai menyantap sarapannya. Setelah beberapa menit, akhirnya Ken pun sudah selesai memakan sarapannya. Dengan segera Ken pun bangkit dari kursi itu, lalu berjalan meninggalkan ruang makan tersebut.
"Selamat pagi, bos." Sapa Seth ketika Ken sudah tiba di depan pintu mobil berwarna hitam itu.
"Hmm.. Ayo kita berangkat." Ucap Ken sebelum ia masuk ke dalam mobil tersebut. Seth menganggukkan kepalanya pelan, lalu setelah itu ia pun berjalan dan masuk ke dalam mobil itu. Dengan perlahan Seth pun melajukan kendaraan roda empat itu meninggalkan kediaman bosnya tersebut.
Di tempat lain.
__ADS_1
Leta terlihat sudah siap untuk pergi menuju tempat kerjanya. Meskipun kakinya terasa sedikit sakit, namun ia tetap memutuskan untuk pergi bekerja. Dengan perlahan Leta pun melangkahkan kedua kakinya menuju pintu utama. Pak Antonius yang melihatnya pun segera menghampirinya.
"Leta, kamu mau kemana? Bukankah kakimu masih sakit?" Tanya pak Antonius membuat Leta langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap pamannya tersebut.
"Mau pergi bekerja, paman. Kakiku juga sudah mendingan kok." Sahut Leta seraya memperlihatkan senyuman yang manis di bibirnya.
"Bagaimana kalau kamu berangkat bareng sama Emily, kebetulan Emily juga mau pergi dan sepertinya kalian searah." Ucap pak Antonius seraya melirik ke arah putrinya, Emily.
"Aku tidak bisa, pah. Aku berangkat jam sembilan nanti." Sahut Emily dengan ketus.
"Loh bukannya tadi kamu bilang berangkatnya jam setengah delapan, kenapa jadi jam sembilan?" Tanya pak Antonius sembari menatap putrinya tersebut.
"Ya di undur pah." Sahut Emily beralasan. Pada kenyataannya ia tidak ingin satu mobil dengan adik sepupunya itu.
"Emily, jangan berbohong sama papa, papa tidak suka. Lagian apa kamu tidak kasihan kepada adik sepupumu sendiri. Kakinya sedang sakit...."
"Tidak apa-apa, paman. Aku bisa naik taxi online kok." Ucap Leta menyela ucapan sang paman seraya memperlihatkan senyuman manis di wajahnya yang cantik itu.
"Aku berangkat dulu, paman." Pamit Leta kembali memperlihatkan senyumannya.
***
Leta merogoh ponsel yang berada di dalam tas miliknya, ia pun segera memanggil taxi online agar lebih cepat tiba di tempat ia bekerja. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya taxi online itu pun tiba. Leta tersenyum, kemudian ia pun langsung membuka pintu taxi itu lalu duduk di kursi penumpang.
"Sesuai peta ya, pak." Ucap Leta ramah.
"Siap neng." Sahut si pak supir mulai melajukan kendaraan roda empatnya.
Di dalam mobil, Leta nampak menatap luar jendela taxi itu, pikirannya kini mulai melayang pada hari pernikahannya yang tersisa lima hari lagi.
Leta tersenyum kecut, di iringi dengan helaan nafasnya. "Lima hari lagi aku akan menikah dengan Ken. Apakah ini memang sudah takdirku dari Tuhan? Lalu bagaimana dengan perasaanku terhadap Ray? Mungkinkah dengan seiring berjalannya waktu, aku bisa melupakan, Raymond? Atau malah sebaliknya. Ray, aku merindukanmu." Batin Leta di iringi dengan helaan nafasnya yang panjang.
Beberapa menit kemudian akhirnya taxi itupun tiba di restaurant Samudera tempat di mana Leta bekerja. Si pak supir itu langsung menghentikan laju kendaraannya, dan melirik Leta. "Sudah sampai neng." Ucap si pak supir itu ramah.
__ADS_1
"Iya, pak. Terima kasih ya." Sahut Leta seraya memberikan uang untuk membayar ongkos taxi tersebut.
"Iya neng, ini kembaliannya." Si pak supir memberikan uang kembalian kepada Leta, namun gadis itu menolaknya.
"Tidak perlu, pak. Kembaliannya buat bapak saja." Ucap Leta seraya meraih pintu mobil taxi itu.
"Wah beneran, neng. Terima kasih ya neng, moga rezeki neng semakin banyak." Tutur si pak supir terlihat senang.
"Sama-sama, pak. Aaamiin." Ucap Leta yang kemudian turun dari mobil taxi itu. Setelah itu taxi itupun kembali melaju meninggalkan restaurant tersebut.
Leta berjalan memasuki restaurant itu dengan hati-hati, karena telapak kakinya masih terasa sakit. Sam yang tidak sengaja melihatnya pun langsung berjalan menghampiri Leta.
"Leta, ada apa dengan kakimu?" Tanya Sam lembut.
"Ini, aku tidak sengaja menginjak pecahan piring kemarin, pak Sam." Sahut Leta seraya memperlihatkan senyuman yang manis di bibirnya.
"Astaga... Kenapa kamu sangat ceroboh sekali, Leta. Sini biar aku bantu kamu." Ucap Sam seraya kenapah Leta untuk berjalan.
"Terima kasih, Sam. Karena sudah mau membantuku. Maaf sudah merepotkanmu." Ucap Leta ketika ia sudah tiba di dalam restaurant itu.
"Sudah seharusnya aku membantumu, Leta. Karena kamu adalah pegawaiku." Sahut Sam sambil tersenyum tipis.
"Yasudah kalau begitu aku ke ruanganku dulu ya. Jika kakimu masih sakit, lebih baik kamu tidak usah bekerja dulu, ok." Sambung Sam dengan nada suaranya yang lembut.
"Terima kasih atas perhatiannya, Sam. Tapi aku masih bisa bekerja kok, jadi kamu tidak perlu khawatir." Ucap Leta dengan penuh semangat.
"Dasar kamu ini, benar-benar keras kepala." Omel Sam sambil berjalan pergi meninggalkan Leta yang masih tersenyum.
Sepeninggal Sam, Leta berniat untuk menaruh tasnya ke dalam loker, namun niatnya terhenti ketika ponselnya berdering menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang.
Dengan malas Leta pun merogoh ponsel itu dari dalam tas miliknya.
"Nomor tidak di kenal, siapa ya?" Gumam Leta sebelum ia menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan ponsel itu di telinganya.
__ADS_1
Bersambung.