
"Kenapa kamu diam saja, sayang? Apakah kamu tahu dengan diamnya kamu seperti itu, membuatku ingin segera membawamu ke atas ranjangku." Ken kembali berucap dengan membisikkan dua kata di akhir kalimatnya. Dan tentu saja hal itu membuat Leta langsung melebarkan kedua bola matanya dengan sempurna, menatap Ken yang saat ini sedang tersenyum menggoda.
"Kamu!!! Jangan menggodaku seperti ini, dan aku tidak mau satu ranjang dengan laki-laki egois sepertimu yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja." Ucap Leta dengan raut wajah yang memerah menatap kesal calon suaminya tersebut.
Mendengar hal itu, tentu saja membuat Ken tersenyum, akhirnya gadis keras kepala itu mulai mengeluarkan rasa kesalnya yang sudah Ken tunggu sedari tadi.
"Walapun kamu tidak mau, tetapi kamu tetap tidak bisa menolaknya. Aku memang laki-laki egois yang hanya mementingkan diriku sendiri, jadi apapun yang aku inginkan, maka aku harus mendapatkannya, termasuk dirimu. Maka dari itu kamu tidak akan pernah bisa lepas dari laki-laki egois seperti aku ini." Jawab Ken tanpa melepaskan senyuman di wajahnya yang tampan itu.
"Ken, mungkin ini hanya obsesi sementara dirimu terhadapku. Aku harap kamu kembali memikirkannya dengan baik-baik." Ucap Leta sambil menatap dalam kedua bola mata calon suaminya tersebut.
"Aku yang lebih tahu semuanya tentang perasaanku terhadapmu, Leteshia. Obsesi ataupun cinta, aku sangat tahu betul itu." Ken menghela nafasnya, tatapan matanya sama sekali tidak beralih dari wajah cantik yang berada di hadapannya itu. "Jadi, pernikahan kita tetap akan di laksanakan besok. Dan kamu jangan membuang-buang energimu untuk memohon agar aku membatalkan pernikahan kita besok. Mengerti." Sambung Ken dengan tegas.
Leta kembali terdiam, dengan satu tangan yang terkepal kuat. "Ternyata memang benar apa yang di ucapkan oleh asistennya kepadaku. Hah sudahlah percuma saja aku ngomong dan memohon sama dia, toh dia tetap tidak akan mengubah keputusannya itu." Batin Leta mulai pasrah.
"Aku mengerti." Leta menjawab singkat dan padat membuat Ken kembali memperlihatkan senyumannya.
"Bagus kalau kamu sudah mengerti. Aku sudah menyiapkan gaun pernikahanmu dan Seth akan segera mengirimkannya ke kediaman pamanmu. Aku yakin kamu akan terlihat sangat cantik setelah memakai gaun itu." Ucap Ken seraya mengelus lembut wajah cantik Leta.
__ADS_1
"Terserah kamu saja, dan singkirkan tanganmu dari wajahku." Sahut Leta ketus seraya berusaha untuk menyingkirkan tangan calon suaminya dari wajahnya. Bukannya menyingkirkan tangannya, Ken justru mendekatkan wajahnya dengan Leta.
"Mau apa lagi dia? Jangan bilang kalau dia mau memaksaku untuk berciuman lagi? Oh tidak.... Aku tidak mau." Batin Leta dengan pikiran yang mulai berkelana pada malam di saat Ken memaksanya untuk berciuman.
"Aku sungguh sudah tidak sabar untuk memakanmu, sayang. Kamu adalah satu-satunya wanita yang sudah membuatku hilang kendali. Kamu harus bertanggung jawab sayang." Bisik Ken di telinga kanan Leta membuat gadis itu merinding seketika.
"Jauhkan tubuhmu dariku, Ken. Jangan berbuat macam-macam." Sahut Leta seraya berusaha untuk menjauhkan tubuhnya dari Ken.
"Baiklah sayang, untuk saat ini aku tidak akan berbuat macam-macam sama kamu. Tapi, kamu harus mempersiapkan tubuhmu untuk malam pertama kita nanti, mengerti." Ucap Ken dengan senyuman yang menurut Leta sangat aneh dan menakutkan.
"Ken, apakah aku boleh meminta sesuatu darimu?" Tanya Leta tanpa menghiraukan ucapan Ken barusan.
"Emm... Nanti saja aku ngomongnya." Ucap Leta membuat Ken langsung mengernyitkan keningnya.
"Kenapa?" Tanya Ken dengan tatapan matanya yang dalam.
"Tidak apa-apa." Jawab Leta cepat.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kamu tidak mau mengatakannya sekarang. Aku tidak akan memaksamu." Ucap Ken kembali memperlihatkan senyuman di wajahnya yang tampan itu. "Kalau begitu aku kembali kerja dulu, kamu tunggu aku di sini ya." Sambung Ken yang hanya mendapat anggukkan kepala dari Leta. Setelah itu Ken pun langsung berdiri dan berjalan menuju kursi kebesarannya. Ia mulai melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Tumben sekali dia tidak terlalu menakutkan seperti biasanya. Apakah laki-laki itu sudah berubah, dan tidak mesum lagi? Ya mudah-mudahan saja dia memang sudah berubah." Batin Leta sembari menatap Ken yang saat ini mulai fokus dengan pekerjaannya.
Leta mulai mengalihkan pandangannya ketika ia mendengar suara yang berasal dari ponsel miliknya. Dengan segera Leta pun merogoh ponsel itu, ia mulai membaca pesan yang di kirimkan oleh Raymond dan seketika itu pula dadanya terasa sesak.
Raymond.
Semua tak seperti yang diharapkan. Cinta hanya ada dalam mimpi, cinta hanya ada dalam hati, cinta hanya terungkap dari tulisan ini.
Kali ini pagi menceritakan tentang dingin malam, tentangku yang selalu merindukanmu
Hari kemarin atau esok sama saja dengan hari ini. Duka dan suka menjadi seirama lagu, matahari di luar, matahari dalam hati menyatu dalam kepiluan sukmaku.
Leta jika kamu membaca puisi yang ku tulis ini, aku yakin kamu akan merasakan hal yang sama denganku.
Begitulah isi pesan yang di kirimkan oleh Raymond yang membuat air mata Leta jatuh dengan tiba-tiba. Beruntunglah Ken tidak melihat dirinya menangis saat ini, kalau sampai laki-laki itu melihatnya menangis, entah apalah yang akan terjadi pada gadis itu, bisa-bisa ponsel gadis itu hancur oleh pria bucin satu itu. Leta segera menghapus air matanya, ia kembali menaruh ponsel itu ke dalam tas kecil miliknya, lalu setelah itu ia pun hanya terdiam memandang jendela yang memperlihatkan langit yang terlihat begitu cerah, namun tidak secerah hatinya.
__ADS_1
Bersambung.