
Setelah pelanggan gila itu pergi, Sam pun segera menghampiri Leta.
"Leta, kamu tidak apa-apakan?" Tanya Sam terlihat khawatir.
Leta tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak apa-apa, Sam. Untung saja tadi ada kamu." Sahut Leta pelan.
"Syukurlah, kalau kamu tidak apa-apa. Aku tadi kebetulan memang mau keluar, tapi saat aku mau keluar aku tidak sengaja mendengar keributan, makannya aku samperin kamu. Lain kali kalau ada pelanggan gila itu, kamu pukul saja dia pake kursi, ok." Ucap Sam membuat Leta terkekeh pelan.
"Nanti aku bisa masuk penjara lagi." Sahut Leta di iringi dengan kekehannya.
"Tidak akan, karena aku yang menjamin. Oh iya Leta, maaf sepertinya aku harus segera pergi sekarang, ibuku memintaku untuk menemuinya." Ucap Sam sembari melirik jam mewah yang melingkar di tangan kirinya.
"Iya, tidak apa-apa, Sam. Pergilah dan sekali lagi terima kasih karena sudah menolongku tadi." Sahut Leta selalu menampilkan senyumannya yang manis membuat Sam tidak dapat mengalihkan pandangan dari wajah cantiknya itu.
Sam terdiam sejenak, tatapan matanya yang tak lepas dari wajah cantik Leta, membuat Leta sedikit tidak nyaman.
"Sam, kenapa kamu menatapku terus? Bukankah kamu harus pergi sekarang?" Tanya Leta seraya melambaikan satu tangannya di depan wajah manegernya tersebut.
Seketika Sam tersadar dari lamunannya, ia pun menghela nafasnya pelan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ah iya, habisnya senyumanmu sangat manis, membuatku terpesona. Yasudah aku pergi dulu, ya. Kamu hati-hati kerjanya, ok." Ucap Sam membuat Leta kembali sedikit salah tingkah. Baru kali ini Sam terang-terangan memuji senyumannya yang manis itu, sungguh aneh bukan.
"Iya, Sam. Kamu juga hati-hati ya di jalan." Sahut Leta yang mendapat anggukkan kepala dari Sam. Setelah itu Sam pun langsung berbalik dan berjalan melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan Leta.
Setelah kepergian Sam, Leta pun kembali menghela nafasnya. "Untung saja ada Sam tadi, kalau tidak ada dia, mungkin pelanggan gila itu sudah mengobrak abrik restaurant ini. Dan untungnya pelanggan hari ini tidak terlalu banyak." Gumam Leta sembari berbalik dan berniat untuk pergi. Namun, niatnya terhenti ketika suara sahabatnya, Arsha masuk ke indera pendengarannya.
"Letashia, mau kemana lo?" Tanya Arsha seraya mencekal lengan sahabatnya tersebut.
"Gue mau ke belakang. Lo kemana saja sih, Sha. Lo tahu tidak, tadi ada pelanggan gila yang gangguin gue, lihatkan tanganku sampai merah begini." Ucap Leta seraya memperlihatkan lengannya yang memerah karena cekalan pelanggan gila tadi.
"Astaga Leta, lo serius? Sorry tadi gue lagi di toilet, jadi gue tidak tahu." Sahut Arsha sembari memeriksa lengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Seriuslah, Arsha. Kalau gak serius masa iya tangan gue merah begini. Untung saja ada Sam tadi, jadi si pelanggan gila itu pergi. Tapi, gue takut pelanggan gila itu balik lagi ke sini, Sha." Ucap Leta sembari menatap sahabatnya itu.
"Lo tenang saja, Ta. Kalau pelanggan gila itu datang lagi, gue akan menghajarnya sampai babak belur." Sahut Arsha dengan penuh percaya diri.
"Emangnya, lo berani Sha?" Tanya Leta melihat Arsha dengan ragu.
Arsha tertawa pelan, ia pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. "Tentu saja gue tidak berani." Ucap Arsha yang mendapat cubitan gemas dari Leta.
"Sudah gue duga, kalau lo tidak berani, tidak usah ngomong, Arshavina." Seru Leta terlihat sedikit kesal.
"Gue kan cuma becanda, Letashia. Tapi lo tenang saja di depan kan ada mang Udin, biar dia saja yang jadi pengawal lo, meskipun badannya kurus kerempeng tapi si mang Udin wajahnya lumayan menyeramkan menurut gue. Jadi, gue yakin pelanggan gila itu pasti akan takut sama si mang Udin. Ide gue cemerlangkan." Ucap Arsha sembari memperlihatkan senyuman di wajahnya.
"Ya, ide lo sungguh sangat cemerlang, Sha. Kalau perlu tuh si mang Udin lo jadiin suami lo sekalian, itu akan lebih bagus lagi. Gimana ide gue lebih cemerlangkan." Sahut Leta membuat Arsha kesal.
"Leta mang Udin itu kan sudah tua, dia itu tidak cocok sama gue, apalagi tubuhnya yang sudah kurus kerempeng seperti itu mana bisa dia jadi suami gue. Nanti gimana kalau kita malam pertana, masa iya gue yang harus gendong si mang Udin, ih tidak mauuuuu. Membayangkannya saja sudah bikin gue merinding." Seru Arsha dengan wajah polosnya.
"Dasar polos. Sudahlah gue mau ke belakang dulu, gue udah kebelet." Ucap Leta berniat untuk pergi, namun niatnya terhenti lagi ketika tatapan matanya tertuju pada sebuah mobil yang baru saja datang ke restaurannya.
Tidak lama kemudian, keluarlah seorang laki-laki dari dalam mobil itu, dan ternyata laki-laki itu adalah Seth, asisten pribadi Ken calon suami Leta.
"Pantas saja tidak asing, ternyata dia asistennya Ken." Batin Leta di iringi dengan helaan nafasnya.
Seth berjalan memasuki restaurant tersebut, dan menghampiri Leta.
"Permisi, nona. Silahkan nona ikut dengan saya sekarang." Ucap Seth tanpa basa basi.
"Astaga, mau apa lagi dia menyuruhku ikut dengannya? Pasti Ken yang menyuruhnya." Batin Leta kesal.
"Maafkan saya tuan, sepertinya saya tidak bisa ikut dengan anda, karena saya harus BEKERJA." Sahut Leta menekankan kata kerja di belakangnya.
"Tidka apa-apa, nona. Karena saya sudah meminta izin kepada maneger anda, jadi nona bisa ikut dengan saya dan ini adalah perintah dari bos saya, calon suami anda." Ucap Seth dengan tegas.
__ADS_1
"Anda jangan becanda, tuan. Manager saya sudah pergi tadi, tidak mungkin anda bertemu dengan manager saya untuk meminta izin."
"Saya menelponnya tadi. Jadi, silahkan nona ikut dengan saya, tidak ada lagi penolakkan!" Sahut Seth tak terbantahkan.
"Aish kenapa dia sangat menyebalkan sekali sih?" Batin Leta sembari menatap Seth dengan kesal.
"Baiklah, saya ambil tas saya dulu." Akhirnya Leta pun pasrah.
"Kalau begitu saya tunggu di depan, nona." Ucap Seth yang hanya di anggukki kepala oleh Leta. Setelah itu Seth pun berbalik dan melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan Leta.
"Ta sepertinya gue pernah melihat laki-laki itu, api dimana ya?" Ucap Arsha yang sedari tadi hanya menjadi pendengar antara Leta dengan Seth.
"Jelaslah lo pernah melihatnya, Sha. Dia itu asistennya Ken, laki-laki yang memaksa gue untuk menikah dengannya, dan sekaligus pemilik mobil yang gue tabrak waktu itu." Sahut Leta sambil memperlihatkan wajahnya yang kesal.
"Hmm pantas saja wajahnya tidak asing. Tapi dia ternyata ganteng juga, bagaimana kalau lo comblangin gue sama dia, Ta."
"Iya nanti gue tanyain dulu sama orangnya, ok. Sekarang gue harus ambil tas gue dulu terus pergi." Sahut Leta sembari berjalan menuju tempat penyimpanan tas miliknya.
Setelah itu Leta pun pergi melangkahkan kedua kakinya menuju pintu restauran tersebut.
"Jangan lupa ya, Ta." Teriak Arsha sambil tersenyum senang. Leta hanya mengangkat satu tangannya dengan jari yang membentuk hurup o, lalu setelah itu Leta pun segera menghampiri mobil Seth.
"Silahkan masuk, nona." Ucap Seth setelah ia membukakan pintu mobil untuk calon istri bosnya tersebut.
"Terima kasih." Sahut Leta sebelum ia masuk ke dalam mobil itu.
Seth hanya mengangguk pelan, lalu setelah itu Leta pun masuk ke dalam mobil tersebut, tak lupa ia juga langsung menutup pintu mobilnya. Sementara Seth, ia berjalan menuju pintu mobil bagian kemudi.
Seth segera masuk ke dalam mobil itu, lalu memasang seatbeltnya, kemudian ia pun langsung melajukan kendaraan roda empatnya meninggalkan restaurant tersebut.
Bersambung.
__ADS_1