
Plaaaak...
Dengan emosi yang semakin memuncak, Ken pun berjalan dan menghampiri Ana, lalu memberikan Ana sebuah tamparan yang sangat keras membuat Ana sangat terkejut dan langsung terjatuh di atas lantai.
Ken menatap Ana dengan tatapan matanya yang begitu tajam, bahkan lebih tajam dari sebelumnya. "Berani-beraninya kamu memfitnah calon istriku. Apa kamu pikir aku ini bodoh dan dengan mudah mempercayai ucapanmu begitu saja! Ok baiklah, kalau kamu tidak mau menjawab pertanyaanku, kamu keluar dari perusahaanku dan aku pastikan tidak ada perusahaan manapun yang mau menerimamu bekerja." Ucap Ken terdengar sangat menakutkan di gendang telinga Ana.
Ana benar-benar terlihat sangat ketakutan sekarang, ia tidak menyangka jika perbuatannya itu benar-benar sudah memancing singa yang sedang tidur. Ana berpikir Ken hanya memiliki sikap dingin saja, tapi ternyata pikirannya salah itu besar. Bahkan Ken tidak segan-segan menamparnya hanya karena beberapa kata yang ia lontarkan tadi.
Dengan rasa sakit sekaligus kecewa, Ana pun menatap Ken dengan nanar. "Iya, memang aku yang melakukannya. Aku tidak suka dengannya, karena dia sama sekali tidak cocok untukmu, Ken. Dia hanya seorang perempuan murahan yang hanya menggodamu saja. Apakah kamu sadar akan hal itu, bahkan aku yang setiap hari selalu memperhatikanmu saja, kamu sama sekali tidak menganggapku. Tapi, kenapa dia bisa menjadi calon istrimu, jelas-jelas aku lebih baik saripada dia." Sahut Meta dengan air mata yang mulai mengalir membasahi wajahnya yang cantik itu.
Ken tersenyum dingin dengan tatapan matanya yang masih tajam menatap Ana yang masih terduduk di atas lantai yang dingin itu. Ia menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan guna menahan emosinya agar ia tidak lagi memukul wanita satu ini.
"Siapa kau berani menghina calon istriku? Dan siapa kau berani sekali bersikap kurang ajar kepadaku? Dan satu hal yang harus kamu tahu, dia bukanlah wanita murahan, dan jika di bandingkan denganmu jelas dia jauh lebih baik daripada dirimu. Kamu seharusnya intropeksi diri dulu sebelum kamu menghina calon istriku. Terlebih lagi di mataku kamu tidak lebih dari seorang ****** yang berusaha untuk menghancurkan hubungan bos dengan calon istrinya. Apakah kamu tahu kenapa dia bisa menjadi calon istriku?" Ken menjeda ucapannya sejenak, ia menarik nafasnya dan mengeluarkannya perlahan.
"Karena dia wanita yang paling spesial di dunia ini, dan aku adalah laki-laki yang paling beruntung karena bisa memiliki dia dalam hidupku. Jadi, jika ada orang yang berani menyakiti atau menghinanya, maka orang itu akan berurusan denganku. Termasuk kau!" Sambung Ken dengan nada suaranya yang tidak berubah.
Ana yang mendengar ucapan Ken pun nampak terdiam seribu bahasa, kini rasa kecewa, sakit hati, dan juga amarahnya semakin menyelimuti dirinya. Ana benar-benar tidak bisa terima jika laki-laki yang ia incar selama ini mengatainya seorang ******.
"Segera keluar dan bereskan barang-barangmu, jangan sampai aku melihatmu lagi di perusahaanku." Usir Ken dengan sambil berbalik dan berjalan menuju kursi kebesarannya.
Ana segera bangkit dari atas lantai itu, lalu ia menatap Ken dengan tangan yang terkepal kuat. "Sialan! Kamu tunggu saja Ken, aku pasti akan membalas perbuatanmu ini." Ucap Ana dalam hati.
Perlahan Ana pun mulai melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan ruangan Ken dengan membawa amarah serta kebenciannya terhadap Leta, wanita yang sudah membuat Ken mengusirnya.
Setelah kepergian Ana, Ken nampak menghela nafasnya kasar, amarah dalam dirinya masih jelas terlihat. Ia tidak habis pikir kenapa bisa Ana melakukan hal yang melukai calon istri kesayangannya itu? Jujur saja jika bukan karena Ana seorang wanita, sudah pasti Ken akan memukulnya hingga babak belur.
"Aarghh sialan! Bisa-bisanya dia melukai dan menghina calon istriku. Apakah dia sudah bosan hidup di dunia ini." Geram Ken seraya menggebrak meja kerjanya dengan cukup keras guna melampiaskan sedikit amarah dalam dirinya.
"Tenangkan dirimu Ken, jangan terbawa emosi seperti ini, sebaiknya kamu bekerja sambil menunggu kedatangan Leta." Ken mengelus pelan dada bidangnya berusaha untuk menenangkan dirinya yang masih di selimut i oleh amarahnya. Ia pun dengan perlahan meraih berkas dan mulai memeriksanya.
__ADS_1
Dua jam kemudian...
Setelah dua jam berlalu, akhirnya yang di tunggu-tunggu pun telah tiba. Seth datang bersama Leta, wanita yang mampu membuat amarah dalam diri Ken seketika menghilang.
Ken menatap kedatangan Leta dengan intens, wajahnya yang tadinya dingin seketika berubah menjadi hangat, bahkan tatapan matanya itu mampu membuat detak jantung Leta tidak sehat.
"Astaga tatapan macam apa itu? Kenapa bisa membuat jantungku seperti ini?" Batin Leta seraya melangkahkan kedua kakinya menghampiri Ken.
"Permisi, bos. Nona Leta sudah datang." Ucap. Seth sopan.
"Hmm, kau boleh keluar Seth." Perintah Ken dengan tatapan matanya yang tak lepas dari wajah cantik Leta.
"Baik, bos. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Seth sedikit membungkuk, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan bosnya tersebut.
Setelah kepergian asistennya tersebut, perlahan Ken pun bangkit dari kursi kebesarannya, lalu berjalan mendekati Leta, Leta pun secara perlahan melangkah mundur ke belakang hingga akhirnya ia pun menabrak batas dinding yang berada di dalam ruangan itu.
"Ada apa? Kenapa kamu malah mundur? Apakah kamu takut kepadaku?" Tanya Ken sangat lembut dengan tatapan matanya yang semakin dalam, membuat Leta tidak berani membalas tatapan matanya yang sudah membuat jantungnya tidak sehat itu.
"Tidak mau, kamu,,,, kamu terlalu menakutkan." Sahut Leta membuat Ken langsung mengernyitkan keningnya bingung.
"Menakutkan sampai-sampai membuat jantungku tidak sehat seperti ini." Sambung Leta yang tentunya dalam hati dengan wajah yang masih menunduk menatap lantai ruanganku.
"Sayang, apa yang kamu ucapkan barusan? Aku terlalu menakutkan? Memangnya aku melakukan apa, sampai-sampai membuatmu ketakutan seperti itu?" Tanya Ken penuh dengan intimidasi.
"A,,, aku tidak bicara seperti itu, mungkin kamu hanya salah dengar saja." Sahut Leta gugup. Kenapa pula ia harus gugup seperti itu? Bukankah biasanya juga ia bersikap biasa saja?
"Dasar gadis bodoh! Sekarang angkat kepalamu, dan tatap kedua mataku, sayang." Pinta Ken seraya meraih dagu Leta dengan lembut agar gadis itu mau mengangkat kepalanya dan menatap langsung kedua bola matanya.
"Apakah kamu tahu kalau kamu itu sudah melakukan kesalahan, sayang?" Tanya Ken tanpa mengubah nada suaranya yang sangat lembut itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ken. Sungguh aku tidak bisa jika aku berada di dalam rumah seharian. Itu akan sangat membosankan bagiku, maka dari itu aku memutuskan untuk pergi bekerja. Lagian kaki ku juga sudah tidak sakit lagi." Ucap Leta mulai lancar bicaranya.
"Oh, iya. Bukankah kamu memang sengaja ingin mencari perhatian sama laki-laki itu agar kamu bisa dekat-dekat dengannya?" Nada suara Ken mulai berubah sedikit dingin, namun tatapan matanya tetap hangat seperti sebelumnya.
"Maksudmu apa, Ken? Aku tidak mengerti sama sekali." Tanya Leta sambil menatap Ken bingung.
"Kamu terlalu naif, Letashia. Bukankah laki-laki itu masih muda dan tampan?" Ken berbalik nanya dengan nada suaranya yang mulai kesal.
"Siapa yang kamu maksud?" Tanya Leta masih bingung.
"Laki-laki yang sudah membantumu tadi ketika kamu memasuki restaurant tempat kamu bekerja itu." Sahut Ken membuat Leta langsung mengingat manegernya dan terlihat terkejut.
"Astaga bahkan dia tahu kalau Sam memapahku hingga masuk ke dalam restaurant. Fiks dia seorang cenayang." Batin Leta.
"Maksudmu Sam, managerku?" Tanya Leta yang mendapat dengusan serta anggukan dari Ken.
"Oh iya dia memang masih muda dan sangat tampan, lalu apa masalahnya, Ken? Jangan berbelit-belit seperti ini, katakan saja maksudmu apa?" Tanya Leta lagi.
"Kamu!!! Kamu mengakui kalau managermu itu sangat tampan? Lalu, kenapa kamu tidak menggodanya saja?" Ucap Ken dengan tangan terkepal kuat menahan rasa cemburunya.
"Untuk apa aku menggodanya? Aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Astaga.. Sebenarnya apa yang mau kamu katakan, katakan saja langsung dengan jelas tidak usah berbelit-belit seperti ini." Seru Leta mulai kesal.
"Kalau kamu tidak tertarik, lalu mengapa kamu membiarkan dia menyentuhmu dan membantumu tadi?" Tanya Ken kesal.
"Dia hanya sekedar membantuku saja, Ken. Tidak mungkin aku menolaknya." Sahut Leta pelan.
"Walaupun dia hanya sekedar membantumu, tetapi aku tetap tidak suka. Dan satu lagi kamu harus berhenti bekerja dari sana, mengerti." Ucap Ken membuat Leta terkejut.
"Aku tidak mau, aku masih ingin bekerja di sana. Dan kamu tidak berhak menyuruhku untuk berhenti bekerja." Sahut Leta terlihat semakin kesal.
__ADS_1
"Kalau aku bilang berhenti, berarti kamu harus berhenti, aku tidak menerima penolakkan, mengerti." Ucap Ken dengan tatapan matanya yang mulai menajam.
Bersambung.