
Ken berjalan dengan hati-hati, karena bagaimanapun juga, tubuh Leta tidak terlalu ringan, walaupun terlihat kecil namun berisi.
"Ternyata kamu berat juga, sayang ." Ucap Ken membuat Leta mendengus kesal.
"Kalau berat turunkan saja. Lagian kamu sendiri yang ingin menggendongku." Sahut Leta sambil memperlihatkan wajahnya yang kesal itu.
"Aku hanya becanda, sayang. Kamu ini kenapa cepat sekali marahnya." Ucap Ken di iringi dengan kekehannya.
"Lagian siapa suruh mengataiku berat, padahalkan aku tidak berat sama sekali. Mungkin tenagamu saja yang kecil. Dasar payah." Sahut Leta masih kesal.
"Hey kamu bilang apa barusan? Tenagaku kecil? Aku payah? Sepertinya kamu ingin mendapatkan hukuman dariku, sayang." Ucap Ken sambil memperlihatkan senyuman yang menurut Leta sangat menyeramkan.
"Kamu selalu saja ingin memberiku hukuman, dasar nyebelin." Gerutu Leta pelan.
"Salahmu sendiri yang mengataiku payah dan tenagaku kecil, jadi kamu harus menerima hukuman dariku." Ucap Ken tanpa menghentikan langkah kakinya menuju lift.
"Ish emang pada dasarnya kamu payah, nyebelin." Gerutu Leta sangat pelan.
"Aku masih bisa mendengarnya, sayang. Tunggu sampai malam pertama kita, akan aku buktikan kepadamu, seberapa hebatnya calon suamimu ini." Bisik Ken membuat Leta merinding.
"Dasar otak mesum." Seru Leta seraya memukul dada bidang milik calon suaminya tersebut.
Ken tersenyum, kemudian ia pun segera masuk ke dalam lift itu.
"Aku tidak mengatakan apapun sayang, kenapa kamu mengatakan kalau aku ini mesum? Jangan-jangan kamu sedang berpikiran..." Ucapan Ken tercekat di tenggorokkannya.
"Tidak,,,, aku sama sekali tidak memikirkan apapun, berhenti untuk menggodaku seperti ini, Ken. Aku tidak suka dan ini sama sekali tidak lucu." Ucap Leta menyela ucapan calon suaminya tersebut.
Ken tertawa pelan, ia benar-benar merasa sangat gemas ketika melihat wajah calon istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Rasanya ia ingin sekali.menciumnya saat itu juga.
Ken melangkahkan kedua kakinya keluar ketika pintu lift itu terbuka lebar, ia terus berjalan menuju parkiran mobilnya tanpa mau menjawab ucapan calon istrinya tersebut.
"Seth, buka pintu mobilnya cepat." Perintah Ken berpikir jika asistennya itu berada di belakang dirinya.
"Asistenmu tidak ada, Ken." Ucap Leta ketika ia melihat ke arah belakang calon suaminya itu.
"Ckk.. Kenapa dia belum sampai? Apakah dia tertidur di lift tadi." Ken bertanya-tanya sendirian.
"Mungkin dia masih di ruanganmu." Ucap Leta karena seingatnya ketika memasuki lift itu hanya dirinya bersama Ken saja.
"Di dalam ruanganku, tidak mungkin sayang. Jelas-jelas tadi dia mengikutiku dari belakang." Sahut Ken merasa yakin jika asistennya itu mengikuti dirinya.
__ADS_1
"Entahlah, aku tidak yakin kalau dia mengikutimu. Sebaiknya kamu turunkan aku dulu, aku malu di lihatin orang-orang yang lewat." Ucap Leta seraya menyembunyika wajahnya di dada bidang calon suaminya tersebut.
"Tidak apa-apa, sayang. Kamu tidak perlu malu, toh kita tidak melakukan apapun, bukan." Sahut Ken tanpa berniat untuk menurunkan Leta dari gendongannya.
"Ish nyebelin banget sih." Gerutu Leta namun tidak di tanggapi oleh Ken.
"Astaga... Kemana dia sebenarnya? Kenapa belum datang juga?" Gerutu Ken sambil menatap pintu perusahaannya dengan kesal menunggu asistennya tersebut.
Tidak lama kemudian, Seth pun datang dengan langkah kakinya yang lebar. Ken yang melihat kedatangan Seth pun langsung memberikan tatapan matanya yang tajam.
"Astaga Seth. Kamu kemana saja? Kenapa wajahmu berkeringat seperti itu, seperti habis lari maraton saja." Ucap Ken dengan kesal.
"Maafkan saya, bos. Saya terpaksa melewati tangga karena anda tidak membiarkan saya masuk ke dalam lift tadi." Sahut Seth tak kalah kesalnya.
"Maksudmu apa, aku tidak membiarkanmu masuk? Bukankah kamu tadi masuk bersamaku?" Tanya Ken terlihat sedikit bingung.
"Apanya yang masuk? Anda saja sibuk menggoda calon istri anda dan tidak menyadari keberadaanku. Sungguh menyebalkan." Batin Seth sangat amat kesal, namun ia tidak berani menunjukkan kekesalannya itu kepada Ken, atau dia akan kehilangan bonusnya.
"Bos becanda, saya tadi baru mau masuk, tetapi anda sudah menekan tombol liftnya. Dan saya panggil anda, tetapi anda sama sekali tidak mendengarkan saya." Sahut Seth seraya tertawa kesal.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak naik lift satunya lagi?" Tanya Ken datar.
"Astaga.. Kenapa kalian malah berdebat? Aku sudah malu daritadi jadi tontonan ornag-orang. Apakah kalian bisa berhenti dulu dan membiarkan aku masuk ke dalam mobil?" Ucap Leta setengah berteriak agar kedua mahluk itu sadar kehadiran dirinya.
"Astaga sayang, kamu tidak perlu berteriak seperti itu. Bicara pelanpun aku masih bisa mendengarnya." Sahut Ken sedikit terkejut mendengar teriakan calon istrinya tersebut.
"Sudahlah, Seth cepat bukakan pintu mobilnya, tanganku sudah keram." Perintah Ken kepada asistennya tersebut.
"Baik bos." Sahut Seth seraya membukakan pintu mobil untuk bosnya tersebut.
Setelah pintu mobil itu terbuka lebar, Ken pun langsung meletakkan Leta di kursinya, lalu setelah itu ia pun masuk dan duduk, kemudian menutup pintu mobilnya kembali. Setelah bos dan juga calon istri bosnya masuk, Seth pun segera melangkahkan kedua kakinya menuju pintu mobil bagian kemudi. Seth langsung membuka pintu itu, lalu ia pun masuk dan duduk di kursi kemudinya tak lupa ia juga menutup kembali pintu mobil tersebut, lalu memasang seatbeltnya. Perlahan Seth pun mulai melajukan kendaraan roda empat itu meninggalkan perusahaan Kendrick Group.
"Seth kita ke kediaman Georgy dulu." Perintah Ken datar.
"Baik, bos." Sahut Seth sambil tetap fokus dengan setir kemudinya.
"Masih sakit, sayang?" tanya Ken kepada calon istrinya dengan lembut.
"Tidak, Ken." Sahut Leta pelan.
"Ingat! Ini adalah terakhir kalinya kamu terluka, tidak ada lain kali lagi, ok." Ucap Ken dengan tegas.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau terluka lagu, lagian kalau tahu bakalan begini, aku tidak akan mau datang ke perusahaanmu itu." Sahut Leta mulai kesal.
"Dasar aneh! Emangnya dia pikir aku mau terluka seperti ini? Menyebalkan." Batin Leta seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil itu.
"Kamu yang terlalu bodoh, sayang. Kenapa bisa kamu tidak tahu jika di dalam sepatumu ada pecahan beling itu, padahal pas pertama kakimu masuk, pasti sudah terasa." Ucap Ken terlihat kesal ketika ia mengingat kejadian tadi.
Leta seketika menatap Ken kembali. "Kenapa kamu bahas ini lagi? Sudahlah aku malas berdebat denganmu." Seru Leta semakin kesal.
"Dasar laki-laki aneh, tadi lembut sekali perlakuannya, sekarang berubah lagi. Apa dia itu seekor bunglon?" Batin Leta kembali memalingkan wajahnya ke jendela mobil itu.
Maafkan aku sayang, aku terlalu mengkhawatirkanmu, aku tidak ingin kamu terluka lagi. Cukup ini yang terakhir kalinya kamu terluka." Ucap Ken kembali dengan nada suaranya yang begitu lembut. Bahkan Ken pun meraih tangan Leta dan mengecupnya mesra.
Mendengar Ken meminta maaf, seketika membuat Leta diam mematung, ini adalah kali pertamanya ia mendengar kata maaf yang keluar dari mulut manis Ken itu. Apakah Ken sebegitu mengkhawatirkan dirinya? Rasanya sangat aneh sekali.
"Kamu harus janji kepadaku, kalau kamu tidak akan terluka lagi. Mengerti, sayang." Sambung Ken seraya mendekatkan wajahnya dengan Leta menatap Leta dari jarak yang sangat dekat membuat Leta salah tingkah.
"Ya aku janji, aku tidak akan terluka lagi. Jadi, tolong jauhkan wajahmu dariku, ok." Pinta Leta gugup.
"Kenapa kamu gugup sekali, sayang? Apakah kamu malu?" Tanya Ken sembari memperlihatkan senyuman di wajahnya yang tampan itu.
"Tidak! Untuk apa aku malu. Aku hanya merasa kepanasan saja. Jadi, sebakinya kamu menjauh dariku." Sahut Leta tanpa berani menatap kedua bola mata Ken yang kini sedang menatapnya lekat.
"Kepanasan? Alasan macam apa itu? Dasar gadis bodoh!" Batin Ken seraya mengangkat kedua alisnya.
"Dasar gadis bodoh." Hanya itu yang di ucapkan oleh Ken kepada Leta, lalu setelah itu Ken pun menjauhkan wajahnya dari Leta.
"Kamu yang bodoh! Baru juga minta maaf sudah membuatku kesal lagi. Dasar bunglon." Gerutu Leta seraya memonyongkan bibirnya kesal.
"Kamu bilang apa barusan, bunglon? Siapa yang kamu sebut bunglon?" Tanya Ken kesal.
"Masih mendengar saja, tahu begitu aku akan mengatainya dalam hati saja. Malas sekali berdebat dengannya lagi." Batin Leta seraya memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Siapa yang mengataimu bunglon? Kamu salah dengar Ken, mungkin asistenmu itu yang kamu sebut bunglon." Ucap Leta sambil melirik ke arah Seth yang sedari tadi hanya fokus dengan setir kemudinya saja.
"Astaga.. Kenapa malah bawa-bawa aku nona. Sungguh anda tidak punya perasaan." Batin Seth sekilas melirik Leta melalui kaca spion mobilnya.
"Kenapa kamu bawa-bawa Seth? Dia itu bukan bunglon, tapi dia itu ayam jago yang tidak memiliki jengger." Ucap Ken kesal.
".....???????????." Kepala Seth penuh dengan tanda tanya, sementara Leta terlihat tertawa.
Bersambung.
__ADS_1