
Mama Natasha, Leta dan juga Ken sudah berada di ruang tamu, di sana terlihar Stela sedang duduk manis sambil menatap kedatangan Ken dengan seulas senyuman yang manis. Namun, senyuman itu seketika menghilang ketika ia melihat mama Natasha menggenggam tangan Leta.
"Tante, siapa perempuan yang bersama tante itu?" Tanya Stela dengan tidak sabaran.
"Ini Leta, calon istrinya Ken yang pernah tante ceritain waktu itu. Leta perkenalkan ini Stela putri sahabat tante yang dulu selalu mengikuti calon suamimu waktu kecil." Ucap mama Natasha sembari melirik ke arah calon menantunya itu.
"Apa calon istri Ken? Jadi, Ken benar-benar akan menikah dan calon istrinya gadis kampung ini? Aaarghh sialan! Ken pasti sengaja membawa dia kesini." Batin Stelan sambil menahan amarah dalam dirinya dan menatap Leta dengan sinis, sementara Leta menatapnya dengan tatapan biasa saja, bahkan Leta memperlihatkan senyumannya kepada Stela meskipun Stela memberikan tatapan yang tidak menyenangkan.
"Ekhmm... Hallo gue Stela teman masa kecilnya Ken." Dengan cepat Stela pun mengubah pandangannya dan mengulurnya tangannya kepada Leta.
"Aku Leta." Jawab Leta dengan singkat dan padat seraya membalas uluran tangan Stela.
"Cihhh... Jika calon istrinya seperti dirimu, maka aku akan lebih mudah mendapatkan Ken. Lihat saja nanti." Batin Stela kembali menatap Leta dengan sinis sembari melepaskan jabatan tangannya.
"Ayo kita duduk, sayang." Ajak Natasha kepada Leta. Leta hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, lalu setelah itu ia pun duduk di samping mama Natasha, sementara Ken, duduk di ujung kursi sofa dekat sang mama, Stela pun kembali duduk di tempatnya tadi.
"Kamu mau minum apa sayang?" Tanya mama Natasha dengan lembut menatap calon menantunya itu.
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot tante, air putih saja." Sahut Leta merasa tidak enak hati. Namun jujur saja ia merasa sangat kehausan saat ini.
"Suruh bi Ani untuk buatkan jus alpukat saja mah, Leta paling suka jus alpukat." Ken menyahut dengan lembut sembari menatap calon istrinya itu dengan hangat.
"Baiklah, sayang." Ucap sang mama sambil menatap putranya itu. "Kamu sendiri mau minum apa, Ken?" Tanya Natasha lembut.
"Samain saja mah, jus alpukat." Sahut Ken masih dengan nada suaranya yang lembut itu.
"Yasudah kalau begitu, mama pergi panggil bi Ani dulu ya, kalian mengobrol lah, jangan lupa ajak Stela mengobrol." Ucap Natasha yang mendapat anggukkan kepala dari Leta, Ken dan juga Stela. Setelah itu mama Natasha pun mulai bangkit dari atas kursi sofa itu, kemudian ia berjalan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Ken, Leta dan juga Stela.
"Hmm jadi dia calon istrimu, Ken? Tidak ada yang istimewa sama sekali." Stela mulai mengeluarkan suaranya ketika mama Natasha sudah pergi dari ruangan itu.
"Menurutmu dia tidak istimewa, tetapi bagiku, dia sangat-sangat istimewa." Sahut Ken sembari berdiri dari atas kursi sofa dan berjalan, lalu duduk di samping calon istrinya itu. Stela yang mendengar ucapan Ken pun terlihat sangat kesal sekaligus marah. Namun, ia tetap bisa menahan amarahnya agar tidak di ketahui oleh Ken.
"Apanya yang istimewa? Dia hanya seorang gadis kampung saja, penampilannya saja seperti itu, apakah Ken sudah buta? Jika di bandingkan dengan aku, jelas-jelas dia tidak ada apa-apanya. Aku jauh lebih cantik dari dia, bahkan tubuhku pun sangat seksi. Tapi, kenapa Ken mau menikahi gadis kampung itu? Sialan! Kenapa juga aku bisa kalah dari dia, sungguh menyebalkan." Batin Stela sambil menelisik penampilan Leta yang menurutnya sangat kampungan dan tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan dirinya yang berpakaian modis dan seksi. Padahal pakaian Leta terkesan biasa saja dan tidak kampungan sama sekali, mungkin karena rasa cemburu, membuat Stela menilai Leta sebagai gadis kampungan.
"Kamu bekerja di perusahaan mana?" Tanya Stela dengan angkuh dan ingin mencari tahu tentang pekerjaan calon istri dari laki-laki yang sudah menolaknya itu.
__ADS_1
"Bukan urusan kamu, Stela. Jadi, sebaiknya kamu tidak perlu... " Ucapan Ken tercekat di tenggorokan ketika tangannya di genggam oleh Leta.
"Dia ingin tahu pekerjaanku, Ken. Jadi biarkan aku memberitahu dia." Ucap Leta sambil memperlihatkan senyumannya yang manis membuat Ken seketika terdiam dengan degup jantung yang berpacu dengan sangat cepat. Baru kali ini Leta berbicara sangat lembut seperti itu. Apakah gadis ini sengaja ingin memperlihatkannya kepada Stela? Ya mungkin saja memang itu tujuan Leta.
"Aku kerja di restaurant Samudera sebagai pelayan." Ucap Leta kepada Stela.
"What? Hanya seorang pelayan di restaurant? Apakah aku tidak salah dengar!" Seru Stela sambil tersenyum mengejek.
"Hah, hanya seorang pelayan. Pantas saja kampungan." Batin Stela tersenyum sinis.
"Ya, aku memang bekerja sebagai pelayan, apakah ada yang salah dengan pekerjaanku?" Tanya Leta sembari menatap Stela dengan kesal. Orang kaya memang kebanyakan angkuh dan sombong, mereka selalu merendahkan orang lain, dan merasa jika mereka tidak bisa di bandingkan dengan kaum jelata.
"Tidak ada yang salah pekerjaanmu, sayang. Kamu tidak perlu meladeni wanita itu, ok." Ucap Ken sambil mengusap lembut pucuk kepala Leta, dengan satu tangan yang menggenggam hangat tangan calon istrinya itu.
"Sialan! Bahkan dia hanya seorang pelayan rendahan saja, Ken terlihat begitu mencintainya. Aku tidak bisa terima semua ini. Aku harus merebut hati Ken. Kamu pelayan rendahan sama sekali tidak pantas menikah dengan Ken. Yang pantas menikah dengan Ken itu hanya aku, Stela." Batin Stela sembari menatap sinis Leta.
Perlakuan manis Ken, ketika ia mencium kening Leta🤗🤗🤗
__ADS_1
Bersambung.