
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, Ken menyudahi pekerjaannya yang menumpuk itu, ia langsung meraih gagang telpon yang berada di atas meja kerjanya, kemudian ia menghubungi Seth asisten pribadinya itu.
"Seth, ke ruanganku, sekarang." Perintah Ken selalu dengan nada suaranya yang datar.
"Baik, bos." Sahut Seth dari seberang telpon sana.
Setelah itu, Ken pun langsung memutuskan sambungan telponnya, dan menaruh kembali gagang telpon itu di atas meja kerjanya.
Tidak lama kemudian, Seth pun mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk." Perintah Ken sambil melonggarkan dasi yang bertengger di lehernya.
"Permisi bos, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Seth ketika ia sudah berada di dalam ruangan bosnya dan berdiri di depan meja kerja sang bos.
"Ya! Kau pesankan makanan untuk dua orang. Lalu setelah itu, kau jemput Leta dan bawa dia ke sini." Ucap Ken sembari menatap asistennya datar.
"Baik, bos. Ada lagi?" Tanya Seth sopan.
"Tidak ada, pergilah." Ucap Ken masih berwajah datar.
"Baik, bos. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Seth yang mendapat anggukkan kepala dari Ken. Setelah itu, Seth pun berbalik dan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruangan bosnya tersebut.
Setelah kepergian asistennya, Ken pun berjalan menuju jendela yang berada di dalam ruangannya tersebut, ia menatap langit siang itu yang terlihat sangat cerah.
__ADS_1
"Leta sebentar lagi kamu akan resmi menjadi milikku. Aku sungguh tidak sabar menantikan hari pernikahan kita. Kamu pasti akan sangat cantik mengenakan gaun pengantin itu." Gumam Ken sembari menyunggingkan senyumannya membayangkan hari pernikahannya bersama gadis pujaannya tersebut.
Ken benar-benar tidak sabar menanti hari pernikahannya yang hanya tersisa beberapa hari lagi, jika dia bisa mempercepat waktu, mungkin hari ini akan menjadi hari pernikahannya, namun sayangnya, ia tidak bisa mempercepat waktu, dan ia hanya bisa menunggu dengan sabar.
***
Restaurant Samudera.
"Leta, tolong kamu antarkan pesanan ini, ya. Aku mau ke toilet dulu, kebelet." Ucap Arsha seraya memberikan nampan berisi makanan kepada sahabatnya, Leta.
"Ok." Sahut Leta sambil menerima nampan itu dari tangan Arsha. Arsha tersenyum, ia langsung bergegas menuju kamar mandi, sementara Leta, ia langsung mengantarkan pesanan pelanggannya.
"Permisi, tuan. Ini pesanan anda. Silahkan di nikmati." Ucap Leta sambil meletakan makanan yang di pesan oleh pelanggan tersebut di atas meja.
"Terima kasih, cantik." Jawab si pelanggan laki-laki setengah baya itu sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
Leta sedikit membungkuk, lalu ia pun berbalik dan berniat untuk melangkahkan kakinya, namun niatnya terhenti ketika si pelanggan genit itu mencekal tangan kirinya.
"Maaf, tuan. Ada yang anda butuhkan lagi?" Tanya Leta tetap tenang, meskipun sikap pelanggan itu sedikit kurang ajar kepada dirinya.
"Ya! Aku membutuhkanmu, untuk menenamiku makan di sini." Sahut si pelanggan itu tanpa melepaskan cekalannya.
"Mohon maaf, tuan. Saya tidak bisa menemani anda makan. Karena saya hanya bertugas untuk mengantarkan pesanan para pelanggan yang berkunjung ke restaurant ini. Dan mohon, lepaskan tangan saya." Ucap Leta masih bernada halus meskipun hatinya sangat kesal terhadap pelanggan genit satu ini.
__ADS_1
"Kalau aku bilang kau harus menemaniku, itu berarti kau harus menemaniku. Aku ini pelanggan, dan kau pasti tahu bukan, kalau pelanggan itu adalah raja. Jadi, sekarang kamu duduk di sampingku, atau aku akan menghancurkan restaurant ini." Ancam si pelanggan genit itu setengah berteriak.
"Astaga... Apakah dia baru keluar dari rumah sakit jiaa? Aku pikir yang gila hanya si dingin itu saja, tapi ternyata, pelanggan ini jauh lebih gila dari dia." Batin Leta seraya menatap si pelanggan itu kesal.
"Ada apa ini? Tolong lepaskan tangan pegawai saya sekarang juga." Tiba-tiba saja suara dingin Sam terdengar di telinga Leta dan juga si pelanggan genit itu. Leta langsung menoleh ke arah Sam, ia tersenyum, bersyukur karena managernya itu datang tepat waktu.
Sam memang kebetulan sedang berada di dekat pintu, ia berniat untuk pulang lebih awal karena mendapat panggilan telpon dari ibunya. Namun, saat ia akan keluar dari pintu restaurant tersebut, ia tidak sengaja mendengar keributan dan juga suara Leta. Lantas, Sam pun langsung berjalan melangkahkan kakinya menghampiri Leta.
"Siapa, kau! Berani sekali kau menyuruhku!" Seru si pelanggan genit itu dengan wajah sombongnya.
"Sudah ku bilang dia adalah pegawaiku, itu artinya aku pemilik restaurant ini. Jadi, lepaskan tangan pegawaiku sekarang juga." Ucap Sam dengan nada suaranya yang dingin, seraya menepis kasar tangan si pelanggan genit itu.
"Leta, kamu pergilah, biar aku yang urus pelanggan gila ini." Ucap Sam kepada Leta.
"Terima kasih, pak Sam. Kalau begitu saya permisi, dulu." Pamit Leta yang mendapat anggukkan kepala dari managernya tersebut.
Leta langsung melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan Sam dan juga pelanggan gila itu.
"Sialan! Hey, kau kembali. Atau aku akan mrnghancurkan restaurant ini." Teriak si pelanggan gila itu kepada Leta, namun, Leta sama sekali tidak menghiraukannya. Leta terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
"Sebaiknya kau pergi dari sini sekarang juga. Atau aku akan panggilkan polisi untuk membereskanmu." Ucap Sam dengan tatapan matanya yang terlihat sangat menyeramkan.
"Sialan!!! Tunggu saja kau, aku pasti akan membuat perhitingan denganmu." Seru si pelanggan itu." Ucap si pelanggan gila itu, sambil menggebrak meja, lalu pergi meninggalkan Sam yang kini sedang mengepalkan satu tangannya menahan amarah dalam dirinya.
__ADS_1
Jujur saja, Sam ingin sekali memukul pelanggan gila itu karena sudah berani menyentuh tangan gadis yang di cintainya dan juga membuat keributan di restaurant miliknya. Namun, Sam harus menahannya karena ia tidak ingin memperlihatkan amarahnya kepada Leta.
Bersambung......