Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Bab 15


__ADS_3

Setelah kepergian Ken dan juga Seth, barulah Emily mengeluarkan suaranya kembali.


"Papa, kenapa papa menyetujui persyaratannya Ken untuk menikahkan dia dengan anak yatim piatu itu?" Seru Emily dengan raut wajah memerah menahan amarah dalam dirinya.


"Sayang, kalau papa tidak menyetujuinya, perusahaan papa akan bangkrut, kamu harus mengerti nak." Sahut pak Antonius diiringi dengan helaan nafasnya yang panjang.


"Tapi... Bagaimana dengan aku, pah? Aku sangat menyukai, Ken. Aku tidak terima kalau Leta harus menikah dengan Ken." Ucap Emily sambil menatap papanya kesal.


"Sudahlah Emily, sekarang kita pulang dulu ke rumah, jangan buat keributan disini." Ajak paka Antonius sambil menarik tangan putrinya itu.


Emily hanya pasrah, ia pun berdiri dan mengikuti sang papa keluar dari ruangan tersebut dengan hati yang sudah di penuhi oleh amarah.


Ia masih tidak terima jika adik sepupunya lah yang akan menikah dengan Ken, seharusnya Ken menikahinya bukan Leta. Emily benar-benar tidak habis pikir, mengapa Ken mau menikahi gadis yatim piatu itu, padahal jelas-jelas dia adalah adalah anak dari pemimpin perusahaan Georgy, perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.


Bukankah di dalam novel seharusnya dia yang menikah dengan Ken? Bukankah seharusnya Ken yang meminta dia untuk menjadi istrinya? Lalu, mengapa Ken justru meminta sang papa untuk menikahkannya dengan Leta, gadis yang tidak memiliki latar sama sekali? Benar-benar sulit di percaya. Pikir Emily sambil mempercepat langkah kakinya meninggalkan restaurant tersebut.


Pak Antonius dan juga Emily sudah tiba di tempat parkir mobilnya, dengan amarah yang masih setia menyelimuti dirinya, Emily pun membuka pintu mobil itu, dan menutupnya dengan kasar membuat pak Antonius dan juga si pak supir terkejut.


"Astaga, anak ini. Sepertinya aku terlalu memanjakan dia, hingga sifatnya menjadi seperti ini." Batin pak Antonius sambil mengusap dadanya karena terkejut.


"Jalan, Din." Perintah pak Antonius saat dirinya sudah duduk si kursi penumpang berdampingan dengan pak Udin, supir pribadinya. Pak Udin mengangguk, lalu setelah itu ia pun mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota.


***


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mobil yang di kemudikan oleh si pak Udin pun tiba di kediaman Georgy.


Emily yang masih di liputi oleh amarahnya pun langsung membuka pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan langkah kaki yang cepat. Bahkan Emily tidak menghiraukan sang mama, yang kebetulan sedang menonton televisi di ruang keluarga.


"Sayang, kamu sudah pulang?" Tanya sang mama sedikit berteriak karena putri satu-satunya itu terus berjalan dengan langkah kaki yang cepat menuju anak tangga.

__ADS_1


Emily sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan sang mama, ia terus berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah tiba di depan pintu kamarnya, Emily pin langsung membuka pintu itu, lalu ia masuk ke dalam kamarnya, dan menutup kembali pintu kamar itu dengan keras membuat sang mama merasa kaget di bawah sana.


Emily langsung melampiaskan amarahnya pada semua benda yang ada di dalam kamarnya. Ia membanting benda-benda tersebut sambil berteriak.


"Argh.... Harusnya aku yang menikah dengan Ken, bukan gadis sialan itu, ini semua gara-gara papa yang membiarkan gadis itu tinggal di sini. Aku benci kamu Leta. Aku pasti akan menghancurkan hidupmu."


Emily kembali melempar barang-barang miliknya yang tersisa, ia masih belum puas melampiaskan amarahnya pada barang-barang itu.


"Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Ken. Kamu tidak pantas menjadi istrinya, kamu hanyalah seorang gadis yatim piatu saja." Emily kembali berteriak dengan cukup keras, sampai-sampai teriakannya itu terdengar oleh sang mama, membuat sang mama langsung bergegas melangkahkan kedua kakinya menuju kamar Emily.


"Emily, buka pintunya sayang, kenapa kamu marah-marah nak?" Ucap Natalia sambil mengetuk pintu kamar putrinya itu.


Emily sama sekali tidak menghiraukan ucapan sang mama, dia terus membanting semua barang-barangnya sambil berteriak penuh amarah.


"Argh sialan, kenapa semua laki-laki yang aku inginkan selalu di ambil olehnya? Apa kekurangan aku?" Teriak Emily membuat Natalia semakin khawatir.


"Ada apa dengan anak ini? Kenapa dia marah-marah dan membanting barang-barang yang ada di kamarnya? Lalu, siapa laki-laki yang dia maksud itu?" Batin Natalia bertanya-tanya.


Pak Antonius yang melihat istrinya tengah berdiri di depan kamar putrinya pun langsung menghampirinya.


"Sudahlah mah, biarkan saja dulu, Emily butuh waktu buat sendiri." Ucap pak Antonius setelah ia menarik nafasnya dalam.


"Gimana mama bisa biarin Emily sendiri pah? Papa gak dengar suara barang-barang yang di lemparkan Emily barusan? Mama sangat khawatir pah." Sahut Natalia tanpa menatap suaminya.


"Mah, Emily tidak akan menyakiti dirinya sendiri, nanti kalau dia sudah tenang, dia pasti akan keluar dengan sendirinya." Ucap pak Antonius berusaha untuk menenangkan hati istrinya itu.


Natalia langsung menatap suaminya, kemudian ia bertanya. "Pah, sebenarnya ada apa dengan anak kita? Bukankah tadi pas kalian berangkat dia terlihat sangat bahagia, karena mau bertemu dengan Ken? Lalu, kenapa dia pulang marah-marah seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi sama putri kita, pah? Papah pasti tau kan?"


Pak Antonius kembali menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan.

__ADS_1


"Sebaiknya kita turun dulu, baru papa akan beritahu mama semuanya." Ucap pak Antonius sedikit pelan. Natalia hanya mengangguk pelan, lalu setelah itu keduanya pun turun dan berjalan menuju ruang keluarga.


"Sekarang, katakan, pah. Apa yang terjadi sama Emily?" Seru Natalia setelah mereka duduk di atas sofanya masing-masing.


"Pak Ken mau menerima pengajuan kerja sama perusahaan kita, tetapi demgan satu syarat, mah." Ucap pak Antonius sambil menatap samg istri.


"Syarat apa, pah? Lalu apa hubungannya dengan putri kita?" Tanya Natalia sangat penasaran.


Lagi-lagi pak Antonius menarik nafasnya dalam, lalu membuangbya secara perlahan, kemudian ia berkata dengan nada yang terdengar berat.


"Syaratnya adalah... Menikahkan Ken dengan Leta."


"Apa pah? Ken ingin menikahi Leta? Apa papa tidak salah dengar? Leta itu bukan anak kita, kenapa Ken meminta papa untuk menikahkan dia dengan Leta, bukankah seharusnya dengan Emily putri kita, pah." Seru Natalia terlihat sangat terkejut saat mendengar panuturan pak Antonius barusan.


"Papa tidak salah dengar, mah. Pendengaran papa masih normal." Ucap pak Antonius sedikit kesal.


"Tapi... Bagaimana dia bisa mengenal Leta? Bukankah yang bertemu dengan Ken adalah Emily? Gimana bisa dia malah ingin menikahi Leta si keponakan kesayangan papa itu, mama benar-benar tidak bisa percaya ini pah?" Seru Natalia sambil mengepalkan tangannya kesal.


"Ntahlah, papa tidak tahu, mah. Tapi, percaya atau tidak itu memang kenyataannya." Sahut pak Antonius sambil meraih segelas air putih yang berada di atas meja.


"Terus papa setuju?" Tanya Natalia yang mendapat anggukkan kepala dari suaminya itu.


"Papa kan tau kalau Emily sangat ingin menikah dengan Ken, papa mau mengorbankan kebahagiaan anak kita, begitu saja." Seru Natalia sambil menatap suaminya kesal.


"Mah, kalau papa menolaknya, maka perusahaan kita akan bangkrut, dan Ken tidak akan mau bekerja sama dengan perusahaan kita. Maka dari itu, papa menyetujui syarat yang ia minta, yaitu menikahkan dia dengan Leta. Ken sama sekali tidak tertarik pada putri kita, mah. Papa tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima syarat yang di berikan oleh Ken kepada papa." Jelas pak Antonius sambil meletakkan gelas yang sudah kosong itu di atas meja.


Mendengar penjelasan dari suaminya itu, Natalia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, toh semua itu keinginan dari Ken sendiri, bahkan jika suaminya menolak, maka perusahaannya akan bangkrut dan dia bakal jadi gelandangan. Dengan hanya memikirkannya pun dia bergidik ngeri apalagi kalau sampai dia beneran jadi gelandangan, itu pasti akan membuatnya benar-benar gila.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2