
Arsha menghela nafasnya panjang, tangan kirinya mulai memainkan rambutnya yang di kuncir kuda itu.
"Lo tahu, Ta. Cinta itu bisa datang dengan tiba-tiba, gue tahu saat ini lo tidak menyukai calon suami lo yang tampan itu, tapi suatu saat nanti, gue yakin lo bakalan jatuh cinta sama calon suami lo itu. Dan lo tidak akan bisa lepas dari wajahnya yang tampan itu, secara perlahan lo bakalan melupakan Raymond dalam kehidupan lo, ingat ucapan gue ini." Ucap Arsha dengan sangat yakin.
"Hey, kenapa nada bicaramu sama persis dengan pria mesum itu? Jangan-jangan kalian berdua jodoh lagi. Wah ini sungguh sangat luar biasa." Seru Leta antusias.
"Letaaaa. Gue sedang bicara serius tahu. Tapi, boleh juga sih kalau jodoh gue memang dia. Ah tapi sepertinya tidak mungkin deh, soalnya kan sebentar lagi kalian bakalan menikah. Eh tapi bisa saja saja gue jadi istri keduanya." Ucap Arsha sambil menyunggingkan senyumannya.
"Lo yakin mau jadi istri kedua? Kalau lo yakin, dengan senang hati gue bakalan merestui lo. Atau gue langsung bilang saja sama Ken, siapa tahu dia akan setuju dan pernikahan kita di lakukan secara bersamaan, bagaimana? Apa lo setuju, Sha?" Tanya Leta terdengar serius membuat Arsha panik.
"NO.... NO! Lo pikir gue beneran mau jadi istri kedua hah? Gue cuma mau mengetes lo saja, gue pikir lo bakalan marah dan ngomel-ngomel sama gue, eh ternyata gue salah, lo malah mengizinkan gue buat jadi istri kedua suami lo nanti. Tidak seru banget." Ucap Arsha sebal.
"Lo itu ada-ada saja, Arsha. Masa ia gue harus marah dan ngomelin lo sih, sementara gue sendiri menikah sama dia karena terpaksa bukan karena cinta, jadi, untuk apa gue marah." Leta terdengar menghela nafasnya di seberang telpon sana, kemudian ia pun kembali bersuara.
"Sudahlah, jangan bahas ini lagi. Lo balik kerja sana, nanti gaji lo di potong lagi sama si pak manager."
"Yasudah kalau begitu, selamat bersenang-senang, jangan lupakan ucapan gue tadi. Bye... Bye... " Sahut Arsha dengan nada suaranya yang menggoda. Setelah itu Arsha pun langsung memutuskan sambungannya sebelum ia mendapat omelan dari sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Akhirnya hilang juga rasa kesal gue ini. Sebaiknya gue balik kerja sekarang, sebelum si pak manager itu beneran memotong gaji gue." Gumam Arsha seraya memasukan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya.
"Sayangnya sudah terlambat, ArshaVina. Gajimu tetap aku potong bulan ini, mengerti." Ucap Sam dengan tiba-tiba membuat Arsha terkejut setengah mati.
"Astaga pak Sam... Sejak kapan anda berdiri di sini? Anda sudah dua kali membuat saya terkejut." Seru Arsha sambil menatap Sam kesal.
"Sejak kamu tersenyum sendirian seperti orang gila tadi." Sahut Sam dengan kedua tangan bersidekap menatap Arsha.
"Pak Sam bisa saja. Mana ada saya tersenyum sendirian." Ucap Arsha cengengesan. "Kalau begitu saya kembali bekerja dulu pak Sam. Eemm jangan lupa gaji saya bulan ini jangan di potong ya, anda kan sangat baik hati, tampan dan juga tidak perhitungan sama pegawai cantik dan imut seperti saya ini. Iyakan pak Sam." Sambung Arsha sebelum ia pergi meninggalkan Sam yang terlihat akan mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
***
Perusahaan Kendrick Group.
Ken terlihat sedikit tidak fokus dengan pekerjaannya, sesekali ia menoleh ke arah Leta yang saat ini sudah kembali tidur dengan pulas di atas sofa. Ken terkekeh pelan, perasaan belum lama gadis itu mengomelin sahabatnya melalui telpon, dia sudah tertidur kembali. Dasar kebo.
"Gadis kebo. Cepat sekali dia tertidur. Ah sudahlah lebih baik dia tidur daripada dia merengek meminta pulang. Sebaiknya aku juga cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku sebelum gadis itu terbangun." Gumam Ken mulai mmemfokuskan dirinya dengan pekerjaannya kembali. Namun baru saja Ken mulai fokus, tiba-tiba saja telpon genggamnya berbunyi menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang.
__ADS_1
Dengan malas, Ken pun meraih benda pipih itu dari atas meja kerjanya. Ken melihat nama Stela di layar ponselnya. Laki-laki itu nampak menghela nafasnya kasar, untuk apa juga gadis itu menghubungi dirinya? Apakah gadis itu tidak tahu jika dirinya sedang sibuk.
Ken pun memilih untuk menaruh ponsel itu kembali, ia sama sekali tidak berniat untuk menjawab panggilan dari Stela. Ken kembali melanjutkan pekerjaannya, namun ponsel itu kembali berdering membuat Ken mendengus kesal. Dan pada akhirnya ia pun meraih kembali ponsel itu dan menggeser tombol berwarna hijau.
"Ada apa kamu menelponku?" Tanya Ken datar.
"Kenapa telponku baru kamu angkat, Ken. Aku hanya ingin mengabarkan jika mamamu saat ini sedang sakit, dia ingin bertemu dengan kamu." Ucap Stela terdengar panik membuat Ken khawatir.
"Mama sakit? Jangan becanda Stela, ini tidak lucu." Seru Ken terlihat cemas.
"Untuk apa aku becanda, Ken. Aku serius, kalau kamu tidak percaya sebaiknya kamu pulang dan lihat keadaan mama kamu sekarang." Ucap Stela terdengar serius.
Dengan panik Ken pun langsung memutuskan sambungannya, lalu menaruh ponsel itu ke dalam saku celananya. Ken langsung bangkit dari kursi kebesarannya, kemudian ia pun berjalan pergi meninggalkan ruangannya tersebut. Ken benar-benar merasa sangat khawatir dengan keadaan sang mama, ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada mama tercintanya itu.
Ken segera menekan pintu lift, lalu masuk ke dalam lift tersebut. Wajah Ken masih terlihat begitu cemas, bahkan ia tidak sadar jika dirinya pergi meninggalkan seseorang yang masih tertidur lelap di dalam ruangannya.
Bersambung.
__ADS_1