Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Cari sampai lubang semut


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Ken dan juga Galang langsung bangkit dari tempat duduknya, kedua sahabat itu langsung pergi meninggalkan ruangan makan, dan berjalan menuju parkiran mobilnya masing-masing.


Ken menghentikan langkah kakinya ketika ia sudah tiba di samping mobilnya. "Gue akan pergi ke perusahaan, lo mau kemana?" Tanya Ken dangan tampangnya yang datar itu.


"Gue mau pergi jalan-jalan sebentar." Sahut Galang dengan santai sembari mengeluarkan. kunci mobil miliknya dari dalam saku celananya.


"Kenapa tidak langsung pergi ke perushaan papa lo saja? Bukankah bokap lo meminta lo untuk pergi kesana langsung?" Tanya Ken sambil menatap sahabatnya yang saat ini mulai sibuk dengan ponselnya.


"Gue malas pergi kesana sekarang, gue tidak akan ada waktu lagi buat jalan-jalan dan bersenang-senang." Sahut Galang tanpa melihat ke arah sahabatnya, Ken.


"Dasar anak durhaka. Bukannya lo sudah tahu bokap lo itu sering sakit-sakitan, kenapa lo masih tidak mau segera datang ke perusahaan bokap lo? Apakah lo sudah tidak merasa kasihan lagi sama bokap lo? Lupakan untuk jalan-jalan dan bersenang-senang, segeralah berangkat ke perusahaan bokap lo, jangan sampai lo menyesal nantinya setelah bokap lo tidak ada." Nasehat Ken dengan tatapan matanya yang tak lepas dari wajah sahabatnya tersebut.


Setelah mengatakan hal itu, Ken pun segera masuk ke dalam mobil miliknya, kemudian ia memasang seatbelt, lalu melajukan kendaraan roda empat nya itu pergi meninggalkan Galang yang saat ini tengah terdiam dan merenungi ucapan yang Ken lontarkan tadi.


Setelah beberapa menit termenung, akhirnya Galang pun membuka pintu mobilnya, kemudian ia pun masuk dan duduk di kursi kemudinya. Galang segera memasang seatbelt, lalu melajukan kendaraan roda empatnya itu menuju perusahaan sang papa. Galang sadar jika apa yang di ucapkan oleh Ken itu memang benar, jangan sampai ia menyesal setelah ia benar-benar kehilangan papanya, maka dari itu, Galang pun memutuskan untuk pergi ke perusahaan sang papa dan membatalkan niatnya untuk jalan-jalan dan bersenang-senang.


***


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari kediamannya menuju perusahaan miliknya, akhirnya Ken pun tiba di perusahaan tersebut. Ia segera memarkirkan kendaraan roda empatnya itu, lalu melepaskan seatbeltnya, dan mematikan mesin kendaraannya tersebut. Ken segera meraih pintu mobil dan membukanya perlahan, setelah itu ia pun segera turun dari dalam mobilnya, tak lupa ia juga menutup kembali pintu mobil itu dan berjalan memasuki perusahaannya tersebut.


Wajah Ken nampak berbinar, bahkan senyumannya yang manis itu kini menghiasi wajahnya yang tampan membuat para karyawan menatapnya kagum, terpesona sekaligus heran. Biasanya Ken tidak pernah tersenyum seperti itu, apalagi aura yang terpancar dalam dirinya saat ini sangatlah positif, dan itu semakin menambah kadar ketampanan dirinya.


"Lo lihat gak, akhir-akhir ini si bos auranya positif banget ya, tidak seperti dulu yang selalu terlihat negatif dan sangat menyeramkan." Ucap Eva salah satu karyawan di perusahaan itu.


"Hmm bener banget, mungkin ini karena gadis yang waktu itu." Sahut Ira temannya Eva.


"Aaarghh gue sangat iri deh, dan rasanya gue ingin mencium bibir si bos yang terlihat sangat menggoda itu, andai saja posisi wanita itu di gantikan sama gue, sudah pasti gue bakalan jadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini." Ucap Eva yang mendapat toyoran dari temannya, Ira.


"Mimpi saja lo. Mana mungkin pak Ken mau sama lo yang genit ini, apalagi yang gue denger, wanita itu calon istriya pak Ken, sangat tidak mungkin posisi wanita itu di gantikan sama lo yang hanya memiliki wajah pas-pasan."


"Sialan lo! Bukannya dukung gue, malah ngehina wajah gue yang pas-pasan ini. Dasar teman gak punya hati." Dengus Eva terlihat sangat kesal mendengar ucapan Ira barusan.

__ADS_1


"Lagian lo itu mengkhayalnya terlalu ketinggian, makannya gue jatuhin lo, biar lo itu tidak gila gara-gara mengkhayal jadi wanita yang di cintai oleh pak Ken."


"Sudahlah males gue berdebat sama lo, teman gak jelas." Seru Eva sembari berjalan pergi meninggalkan Ira yang kini sedang menertawakan dirinya.


***


Ruangan Ken.


Ken sudah berada di dalam ruangannya, saat ini ia sedang duduk di kursi kebesarannya, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil sesekali meliriilk ponsel miliknya yang sengaja ia letakkan di atas meja kerjanya. Ken menghela nafasnya kasar, wajahnya terlihat mulai kesal, karena sampai saat ini Leta sama sekali tidak membalas pesan dari dirinya.


"Dasar gadis keras kepala, bahkan sampai saat ini pun kamu tidak membalas pesan dariku. Tapi lihat saja besok, kamu tidak akan bisa lari kemana-mana lagi." Gumam Ken kembali menyunggungkan senyuman di wajahnya yang tampan itu.


Ketika ia mulai membayangkan hari esok, tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang. Ken mendengus kesal, ia pun segera meraih kembali ponsel yang berada di atas meja kerjanya itu. Ken segera menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan ponsel itu di telinganya.


"Selamat pagi, bos. Sepertinya nona Leta tidak ada di kediaman Georgy. Saya sudah kesana dan saya sama sekali tidak menemukan keberadaannya. Dan pelayan Georgy bilang, nona Leta tidak pulang semalam." Lapor Seth dari seberang telpon sana.


"Apa kamu bilang! Leta tidak pulang semalam? Lalu kemana dia perginya semalam? Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus menemukan dia secepatnya, bila perlu kamu gali lubang semut dan cari keberadaan dia di dalam sana." Ucap Ken dengan tegas.


Di seberang telpon sana Seth nampak terdiam ketika ia mendengar perintah dari bosnya tersebut. Apakah mungkin seorang manusia bisa bersembunyi di dalam lubang semut? Itu sangat mustahil.


"Maafkan saya, bos. Kalau begitu saya akan segera mencari keberadaan nona Leta, dimana pun nona Leta berada." Sahut Seth terdengar semangat. Entah apa yang membuat ia semangat seperti itu, hanya Seth lah yang tahu.


"Kenapa kamu terdengar sangat semangat sekali? Ingat, Seth. Jangan cari kesempatan dengan calon istriku, atau aku akan mengirimmu ke Afrika." Ucap Ken dengan tegas.


"Astaga, bos. Mana mungkin saya berani mencari kesempatan dengan calon istri anda, anda sangat pandai sekali jika becanda."


"Aku tidak sedang becanda, Seth. Aku serius. Sekarang kau cari keberadaan calon istriku dan bawa dia langsung kehadapanku. Mengerti." Perintah Ken kembali dengan nada suaranya yang dingin dan juga tegas.


Setelah mengatakan hal itu, Ken pun langsung memutuskan sambungannya secara sepihak, ia kembali menaruh ponsel itu di atas meja kerjanya dengan kesal.


"Kemana gadis itu pergi semalam? Tidak mungkin dia kabur bersama Raymond. Aaaarghhh brengsek! Gadis itu benar-benar membuatku frustasi, apa sebaiknya aku memasangkan rantai di pergelangan kakinya agar dia tidak bisa kabur lagi. Sepertinya itu ide yang cukup bagus." Ucap Ken dengan raut wajahnya yang terlihat marah, namun hatinya sangat mencemaskan calon istrinya tersebut.

__ADS_1


Tok.... Tok.... Tok...


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Ken saat ini, dengan ekpresi serta nada suaranya yang dingin, Ken pun memperintahkan seseorang dari balik pintu ruangannya untuk masuk.


Pintu ruangan Ken terbuka, seorang wanita cantik dengan gayanya yang elegant serta pakaiannya yang seksi, masuk ke dalam ruangan Ken.


"Selamat pagi pak Ken. Saya Erin sekertaris baru anda." Wanita bernama Erin itu memperkenalkan dirinya kepada Ken.


"Apa Seth yang merekrutmu?" Tanya Ken dingin namun terdengar sangat indah di telinga Erin.


"Iya Pak Ken." Jawab Erin dengan tenang.


"Baiklah, kalau begitu kamu persiapkan berkas untuk acara metting nanti pukul satu siang. Ingat saya tidak ingin ada kekacauan sedikitpun, mengerti." Ucap Ken dengan tegas dan berwibawa.


"Baik Pak Ken. Saya akan segera mempersiapkannya." Jawab Erin dengan cepat.


"Apakah Seth tidak memberitahumu tentang cara berpakaian yang benar?" Tanya Ken masih dengan nada suaranya yang dingin.


"Maksud anda?" Tanya Erin pura-pura tidak mengerti.


"Saya tidak suka cara berpakaianmu yang seperti kekurangan bahan itu. Ini perusahaan tempat untuk orang bekerja, bukan tempat untuk memamerkan lekuk tubuhmu. Apakah kamu mengerti." Ucap Ken dengan tegas serta sorot matanya yang tajam menatap Erin.


"Maafkan saya pak Ken, saya akan segera mengganti pakaian saya." Sahut Erin sedikit gugup.


"Keluarlah." Perintah Ken masih dengan nada suaranya yang dingin itu.


"Baik Pak Ken. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Erin sedikit membungkukkan tubuhnya. Ken hanya mengangguk pelan, lalu setelah itu Erin pun langsung berbalik dan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruangan bos barunya tersebut.


Setelah tiba di luar ruangan bosnya, Erin merutuki kebodohannya sendiri, ia menyesal karena ia tidak mendengarkan ucapan Seth yang memang sudah berulang kali mengatakan bahwa dirinya harus memakai pakaian yang sopan dan tidak seperti sekarang ini, namun karena Erin yang sudah terbiasa memakai pakaian yang seksi, ia pun tidak mengindahkan ucapan Seth tersebut. Erin nekat pergi ke perusahaan Kendrick Grup dengan pakaian yang sering ia ken akan sebelumnya.


"Aaarghh kenapa bodoh banget sih gue, baru pertama mulai kerja sudah kena semprot sama si bos dingin itu. Benar-benar sangat sial." Batin Erin seraya mempercepat langkah kakinya menuju lift yang ada di depannya.

__ADS_1


Bersambung.


Novel alur lambat, harap sabarα•¦πŸ˜Œα•€ α•¦πŸ˜Œα•€ α•¦πŸ˜Œα•€


__ADS_2