Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Bab66


__ADS_3

Tidak lama kemudian, Ken pun sudah tiba di depan pintu kamarnya. Perlahan ia pun memegang knop pintu kamar itu, lalu memutarnya dengan pelan.


Setelah pintu itu terbuka, Ken pun perlahan melangkahkan kedua kakinya masuk, tak lupa ia juga menutup kembali pintu tersebut. Ken kembali melangkahkan kedua kakinya menuju ranjang king size miliknya. Ia tersenyum ketika ia melihat Leta masih terlelap dalam tidurnya.


Ken berdiri di samping tempat tidurnya tatapan matanya tidak lepas dari wajah cantik yang terlihat tenang dan nyaman itu.


"Kamu terlihat sangat cantik, walaupun kamu sedang tertidur pulas. Sepertinya aku harus mengabadikannya." Gumam Ken sembari mengelus wajah cantik calon istrinya tersebut.


Ken mulai merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya, ia pun mulai memotret calon istrinya yang masih saja tertidur pulas. Setelah berhasil memotretnya, Ken kembali menaruh ponsel itu ke dalam saku celananya, kemudian ia pun mulai membangunkan sang pujaan hati dengan lembut.


"Baby, bangun. Makan malamnya sudah siap." Ucapnya sembari mengelus lembut wajah cantik itu.


"Emmh..." Leta bergumam, namun matanya masih saja tertutup rapat membuat Ken kembali bersuara.


"Bangun, baby. Makan malamnya sudah siap." Ucapnya lembut, tepat di dekat wajah calon istrinya itu.


Perlahan, Leta pun mulai membuka kedua bola matanya, pandangannya masih sedikit tidak jelas, membuat Leta harus mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah pandangannya terlihat jelas, Leta pun begitu terkejut, ketika ia mendapati calon suaminya itu menatap dirinya dengan jarak yang sangat dekat. Tatapan mata itu, mampu membuat detak jantung Leta tidak sehat.

__ADS_1


"Astaga ada apa dengan mata laki-laki itu? Kenapa bisa membuat jantungku seperti ini? Tidak seperti biasanya. Ah mungkin ini pengaruh dari bangun tidurku saja. Eh,,, tunggu,,, tunggu. Bukankah ini kamar dia? Lalu! Sejak kapan dia berada di sini?" Batin Leta bertanya-tanya sambil menormalkan detak jantungnya.


"Hey, ada apa? Kenapa kamu diam?" Tanya Ken kembali mengelus wajah cantik sang pujaan hati.


"Singkirkan tanganmu. Kamu,,,, kamu sejak kapan ada di sini? Kamu tidak berbuat macam-macam kan?" Tanya Leta penuh selidik.


Ken terkekeh pelan, sepertinya gadis itu sangat takut jika dirinya berbyat macam-macam pada gadis itu. Namun, sepertinya gadis itu tidak tahu, jika dirinya bukanlah laki-laki yang akan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Apalagi pada gadis yang paling ia cintai, sangat tidak mungkin. Kecuali pemaksaan ya, Ken.


"Pikiranmu terlalu jauh, baby. Aku bukan laki-laki seperti itu. Lagian, jika aku ingin berbuat macam-macam sama kamu, tunggu kita menikah dulu, lalu...." Ucapan Ken tercekat di tenggorokkan ketika Leta menutup mulutnya dengan kedua tangan gadis itu.


"Baiklah, honey. Sekarang sudah waktunya makan malam, ayo kita turun." Ucap Ken sembari menggenggam lembut tangan calon istrinya itu.


"Bisa gak, kamu memanggilku nama saja, jangan panggil aku, honey, baby, ataupun sayang. Aku tidak suka mendengarnya." Protes Leta sambil menatap kesal calon suaminya.


"Tidak bisa, sayang. Dan kamu tidak di izinkan untuk protes. Mengerti." Sahut Ken dengan tegas, membuat Leta menghela nafasnya kasar. "Sebaiknya kita segera turun, bi Inah sudah menyiapkan makan malam untuk kita." Sambung Ken lagi.


Tanpa membalas ucapan calon suaminya itu, Leta pun langsung bangkit dari tempat tidurnya, alhasil, kepala Leta menabrak hidung mancung milik Ken, membuat Ken mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Awwh.. bisakah kamu bilang dulu sebelum kamu bangun!" Seru Ken sembari mengusap hidung mancungnya yang terasa ngilu.


"Maaf. Lagian salah kamu juga, yang terlalu dekat denganku." Jawab Leta sedikit merasa bersalah.


"Ahh sudahlah, cepetan kita turun. Nanti makanannya keburu dingin" Ucap Ken, lalu pergi sambil mengusap hidungnya yang masih terasa ngilu itu.


"Ahh sial sekali, bagaimana bisa, dia membenturkan kepalanya dengan hidungku? Kenapa juga kepalanya sangat keras seperti batu? Benar-benar sangat menyakitkan." Gerutu Ken sembari membuka pintu kamarnya.


"Sukurin. Lagian siapa suruh dekat-dekat denganku, ah tapi kasian juga dia. Untuk apa aku mengasihani laki-laki egois seperti dia. Rasa sakit yang dia rasakan tidak bisa di bandingkan dengan rasa sakit hatiku, saat aku kehilangan laki-laki yang aku cintai" Batin Leta diiringi dengan helaan nafasnya yang panjang.


"Sudahlah, Leta. Jangan ingat-ingat Ray lagi. Lupakan dia, lo pasti bisa." Leta kembali membatin sambil melangkahkan kedua kakinya menyusul calon suaminya.


Liatinnya biasa aja dong, bang.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2