
"Hal... " Ucapan Leta tercekst di tenggorokan ketika si penelpon itu sudah membuka mulutnya dan bersuara.
"Kenapa kamu tidak mendengarkan perkataanku? Aku kan sudah menyuruhmu untuk beristirahat, kenapa kamu masih tetap pergi bekerja?" Tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah Ken dengan nada suaranya yang terdengar kesal.
"Astaga... Ini pasti Ken, aish kenapa dia bisa tahu kalau aku pergi bekerja? Apakah dia cenayang? Dan lagi suaranya benar-benar membuat jantungku hampir saja copot. Dasar menyebalkan." Batin Leta seraya mengelus dadanya.
"Apakah kamu tidak bisa berbicara dengan nada yang rendah? Kamu tahu, kalau kamu itu sudah membuat jantungku hampir copot." Gerutu Leta kesal. "Lagian, aku tidak biasa bermalas-malasan di rumah, makannya aku pergi bekerja. Dan juga lukaku sudah mendingan, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, ok." Sambung Leta dengan malas.
"Kamu ini benar-benar keras kepala, Letashia. Aku akan mengirim asistenku untuk menjemputmu, sekarang." Ucap Ken terdengar masih sangat kesal. Setelah itu Ken pun langsung memutuskan sambungannya secara sepihak sebelum Leta menjawab ucapannya tersebut.
"Dasar gila. Sebentar-sebentar mau menjemputku, aarghh... Bagaimana mungkin dia bisa tahu kalau aku pergi bekerja? Apakah dia mengirimkan seseorang untuk mengawasiku? Benar-benar menyebalkan." Gerutu Leta seraya memasukan ponsel itu ke dalam tas miliknya.
"Ah bodo amatlah, daripada aku pusing mikirin dia, lebih baik aku pergi sarapan saja. Tumben nih si Arsha belum datang, biasanya jam segini dia sudah datang." Ucap Leta seraya melangkahkan kedua kakinya menuju tempat penyimpanan tas miliknya.
***
Perusahaan Kendrick Group.
Setelah memutuskan sambungannya, Ken langsung memanggil Setylh untuk segera datang ke ruangannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Seth, ia pun langsung meluncur ke ruangan bosnya dinginnya tersebut.
__ADS_1
"Iya, bos. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Seth ketika ia sudah berdiri di depan meja kerja bosnya tersebut.
"Ya, cepat kamu jemput Leta dan bawa dia kemari sekarang juga." Perintah Ken dingin, tak lupa dengan sorot matanya yang tajam.
"Baik, bos. Laksanakan." Sahut Seth sedikit cemas ketika melihat wajah bosnya yang menurutnya sangat menakutkan itu. Bagaimanapun juga, Seth lah yang melaporkan bahwa Leta pergi bekerja, dan bukan hanya itu saja, ketika anak buah Seth menelponnya, Ken langsung merebut ponsel Seth dan Ken mendengar langsung dari anak buah Seth, jika Leta memasuki restaurant itu di papah oleh seorang laki-laki, tentu saja hal itu memancing amarah dan juga rasa cemburu Ken detik itu juga.
"Dan satu lagi, jika Ana sudah datang segera suruh dia datang ke ruanganku, mengerti." Ucap Ken dengan nada suaranya yang semakin dingin.
"Baik bos, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu." Sahut Seth sedikit membungkukan tubuhnya. Ken hanya mengangguk pelan, lalu setelah itu Seth pun langsung pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Ken yang terlihat masih di selimuti oleh rasa cemburunya, sekaligus menahan emosinya agar tidak meledak saat itu juga.
"Sialan! Siapa laki-laki itu, berani sekali dia menyentuh calon istriku. Aku harus menanyakannya langsung kepada Leta. Awas saja kalau dia berani membohongiku. Aku akan memberikan hukuman nanti." Gumam Ken dengan tangan terkepal kuat.
"Masuk." Perintah Ken dingin.
Seorang wanita cantik dengan senyuman yang mengembang di wajah cantiknya membuka pintu ruangan itu, lalu masuk dan berjalan menghampiri Ken yang sedari tadi sedang menahan amarah dalam dirinya.
"Permisi pak Ken, ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita cantik itu yang tak lain adalah Ana sekertaris Ken.
"Tidak ada, aku hanya ingin menanyakan sesuatu sama kamu dan aku minta kamu menjawabnya dengan jujur, karena aku tidak suka kebohongan." Ucap Ken dengan nada suaranya yang masih dingin serta sorot matanya yang tajam menatap sekertarisnya itu.
__ADS_1
"Ah, silahkan pak Ken. Anda mau bertanya apa sama saya?" Sahut Ana sedikit gugup.
"Apakah kamu yang menaruh pecahan piring di dalam sepatu calon istriku?" Tanya Ken dingin tanpa basa-basi.
Mendapat pertanyaan itu, tentu saja membuat Ana ketakutan, karena bagaimanapun juga, yang menaruh pecahan piring di dalam sepatu Leta, memanglah dia. Namun, Ana tidak mungkin mengakuinya begitu saja. Bahkan Ana berusaha untuk tetap tenang agar Ken tidak mencurigainya.
"Tidak pak Ken. Saya tidak menaruh pecahan piring itu di dalam sepatu calon istri anda." Sahut Ana tetap berusaha untuk tenang dan tidak gugup.
"Jangan berbohong, Ana. Aku tanya sekali lagi, apakah kamu yang menaruh pecahan piring itu ke dalam sepatu calon istriku? Jawab dengan jujur. Atau aku akan menyuruh Seth untuk melemparmu ke kandang singa." Tanya Ken semakin dingin, bahkan auranya pun begitu menakutkan membuat tubuh Ana bergetar.
"Sa,,,, saya ti,,, tidak melakukannya pak Ken, sungguh." Sahut Ana terbata-bata. Bahkan hingga tahap ini pun Ana masih tidak mau mengakui perbuatannya itu.
Braaaak...
Ken menggebrak meja kerjanya sendiri, sorot matanya semakin tajam, amarah dalam dirinya kian memuncak membuat sekertarisnya itu ketakutan setengah mati.
"Kau berani membohongiku? Apa kamu pikir aku bodoh, hah!" Seru Ken dengan intonasi yang tinggi.
"Sa,,, saya tidak membohongi anda pak Ken. Sungguh bu,,, bukan saya yang melakukannya. Mungkin itu hanya trik kotor calon istri anda, supaya anda lebih memerhatikannya dan membuat anda salah paham dengan saya." Ucap Ana dengan ide liciknya. Ana berpikir dengan ia berbicara seperti itu, Ken akan mendengarkan ucapannya dan mencurigai Leta. Namun, sayangnya kali ini ucapan Ana justru membuat Ana harus merasakan sebuah tamparan keras yang mendarat di sebelah pipi kanannya yang mulus itu.
__ADS_1
Bersambung.