
Natalia datang menghampiri suaminya, ia nampak mengerutkan keningnya ketika ia tidak melihat keberadaan Ken dan juga asistennya itu.
"Pah tamunya sudah pulang?" Tanya Natalia sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, samping suaminya.
"Sudah, mah." Sahut pak Antonius sembari menghembuskan nafasnya pelan.
"Jadi, bagaimana pernikahannya, pah?" Tanya Natalia sangat penasaran.
Ya! Natalia memang pergi membawa putrinya meninggalkan ruang tamu itu, saat putrinya hampir saja melempar secangkir teh yang berada di atas mejanya. Emily masih tidak dapat menerima, jika Leta akan menikah dengan laki-laki kaya dan juga tampan itu.
Untung saja Natalia berada di sampingnya, sehingga ia dapat mencegah perbuatan Emily sebelum Seth mengetahui sifat buruk putrinya tersebut.
"Pernikahannya akan di adakan dua minggu lagi, mah. "Sahut pak Antonius sambil meraih secangkir kopi hitamnya.
"Dua minggu lagi? Kenapa buru-buru sekali? Ah tapi, baguslah kalau begitu, lebih cepat lebih baik." Ucap Natalia tidak perduli, karena yang terpenting bagi dirinya adalah, perusahaannya tidak jadi bangkrut dan dirinya tidak akan menjadi gelandangan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan putri mama itu? Apakah dia sudah tenang?" Tanya pak Antonius sambil meletakan cangkir kopi itu di atas meja.
"Dia juga putrimu, pah." Dengus Natalia sambil menatap kesal suaminya. "Dia sedikit mulai tenang, hampir saja tadi dia melempar secangkir teh mama, untungnya mama dapat mencegahnya, kalau tidak, bisa-bisa pak Seth menganggap putri kita gila." Ucapnya sambil memijit keningnya.
"Mama terlalu memanjakan dia, makannya dia bisa bersikap seperti itu. Emily selalu menganggap bahwa apapun yang ia inginkan pasti akan dia dapatkan, namun pada kenyataannya tidak." Seru pak Antonius membuat Natalia kembali mendengus kesal.
"Papa kok nyalahin mama, sih. Semuanya juga gara-gara papa, selama ini papa selalu bilang kalau putri kita yang paling cantik, putri kita bisa mendapatkan laki-laki manapun yang dia inginkan. Itukan yang selalu papa ucapkan sama Emily dulu."
"Mah, papa berkata seperti itu, karena dulu Emily selalu merasa iri terhadap Leta. Apa papa salah kalau papa mengatakan hal itu agar Emily tidak merasa iri lagi terhadap Leta." Seru pak Antonius sembari menatap kesal istrinya itu.
***
Leta menangis sambil memeluk gulingnya, ia benar-benar tidak menyangka jika sebentar lagi dirinya akan menjadi istri orang lain. Dan itu artinya ia akan segera meninggalkan sang kekasih yang saat ini sedang berjuang untuk membebaskannya dari pernikahaan yang tak di inginkannya itu.
Di tengah kesedihannya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang. Leta segera menghapus air matanya, kemudian ia pun meraih benda pipih itu yang berada tidak jauh dirinua.
__ADS_1
"Ray! Apa yang harus aku katakan sama kamu, Ray? Maafkan aku karena aku tidak bisa menepati janji kita." Lirih Leta sambil menatap panggilan dari kekasih tercintanya itu beberapa saat.
Leta mulai menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan, kemudian ia bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya. Dengan ragu ia pun mulai menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinga kanannya.
"Sayang, kamu kemana saja? Kenapa telponku baru kamu angkat? Apa kamu tidak tahu kalau aku itu sangat mengkhawatirkanmu? Tadinya kalau kamu tidak menjawab panggilanku juga, aku akan datang ke tempatmu sekarang juga." Seru Ray terdengar sangat khawatir membuat Leta tesenyum sendu.
"Maafkan aku, aku baru saja selesai makan malam." Sahut Leta berusaha untuk tetap lembut seperti biasanya.
"Tidak apa-apa, sayang. Yang penting kamu baik-baik saja." Ucap Ray kembali membuat Leta tersenyum sendu.
"Aku tidak baik-baik saja, Ray. Aku sangat menderita sekarang." Batin Leta berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya.
"Oh iya, sayang. Aku berencana besok siang aku akan pergi ke perusahaan pamanmu, aku akan mengajak pamanmu untuk bekerja sama dengan perusahaanku. Asistenku sudah mencari tahu semuanya tentang perusahaan pamanmu. Dengan begitu pernikahaanmu dengan pemilik perusahaan itu akan batal." Ucap Ray terdengar sangat bahagia sekali.
"Kamu sudah terlambat, Ray. Pernikahaanku dengan pemilik perusahaan itu tidak akan pernah batal dan tidak akan bisa di batalkan." Lirih Leta membuat Ray seketika terdiam dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
Bersambung.