Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Kamu egois


__ADS_3

Mendengar hal itu tentu saja membuat Leta marah sekaligus kesal, bahkan soal kerajaannya pun kali ini Ken ikut campur, padahal Leta masih belum menjadi istrinya. Sungguh menyebalkan.


"Kamu selalu seperti ini, Ken. Apakah kamu tahu sikapmu itu terlalu berlebihan? Bahkan aku belum menjadi istrimu saja, kamu sudah mengatur seluruh kehidupanku. Kamu sangat egois, Ken." Ucap Leta dengan raut wajahnya yang memerau menahan amarah dalam dirinya.


"Aku tidak perduli. Selama kamu tidak patuh kepadaku, apapun akan aku lakukan, termasuk mengurungmu, agar kamu tidak bisa pergi kemana-mana dan agar tidak ada yang bisa mendekatimu. Ingat! Kamu itu milikku, selamanya kan menjadi milikku. Mengerti." Ucap Ken dengan tegas, bahkan tatapan matanya pun jauh lebih tajam daripada sebelumnya.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Ken. Apakah kamu tahu, kamu itu sangat menyebalkan dan menjengkelkan." Geram Leta dengan sorot matanya yang tak kalah tajam dari Ken. Namun, Ken sama sekali tidak memperdulikan ucapan sang pujaan hatinya itu.


Ken justru semakin mendekati Leta, bahkan tubuhnya kini sudah menghimpit gadis itu, membuat gadis itu sulit untuk bergerak. "Menjauh dariku." Pinta gadis itu masih dengan sorot matanya yang tajam.


Ken sama sekali tidak memperdulikan permintaan sang pujaan hatinya tersebut, ia semakin merapatkan tubuhnya dengan Leta, bahkan tangan kanannya sudah mengelus wajah gadis itu dengan lembut, sementara tangan kirinya mencekal kedua tangan Leta dan menaruhnya di atas.


"Lepaskan aku, Ken. Kamu itu sangat menyebalkan, menjengkelkan, aku benci sama kamu." Seru Leta sambil memberontak berusaha untuk melepaskan diri dari kungkungan Ken saat ini.


"Kamu jangan berbicara seperti itu, sayang. Karena aku sangat yakin suatu saat nanti kamu akan tergila-gila kepada laki-laki yang kamu sebut menyebalkan dan menjengkelkan ini." Bisik Ken seraya menghembuskan nafas yang beraroma mint itu tepat di telinga Leta, membuat bulu kuduk Leta meremang seketika.


"Kamu terlalu percaya diri." Seru Leta singkat.


"Bukankah sangat wajar jika aku terlalu percaya diri seperti ini? Toh, pada kenyataannya kamu memang akan tergila-gila kepadaku." Ucap Ken dengan seulas senyuman yang tersungging dari sudut bibirnya.


"Sebaiknya kamu duduk ya, apa tidak pegal berdiri terus dari tadi?" Sambung Ken seraya melepaskan cekalan tangannya membuat gadis itu terbebas.


"Kamu sendiri yang tidak membiarkan aku duduk. Dasar rese." Gerutu Leta pelan.


"Maaf sayang, ayo kita duduk, aku mau melihat kakimu yang terluka." Ucap Ken kembali dengan nada suaranya yang lembut. Bahkan senyumannya pun tidak pernah lepas dari wajahnya yang tampan itu. Ken menggenggam hangat tangan Leta dan berjalan menuju sofa yang berada di ruangan itu.

__ADS_1


"Sepertinya dia sangat pantas mendapat julukan King Drama. Lihat saja ekpresi di wajahnya yang begitu cepat berubah, seperti bunglon saja." Batin Leta seraya mengikuti langkah kaki Ken dengan pelan.


"Duduklah, sayang." Perintah Ken masih dengan nada suaranya yang sangat lembut itu. Leta tidak menyahur, ia hanya menuruti perintah laki-laki yang seperti bunglon itu.


Perlahan Ken mulai membungkuk, lalu ia pun berjongkok di hadapan Leta. Setelah itu ia pun meraih kaki Leta yang terluka. Dengan sangat hati-hati, Ken pun melepaskan sepatu pujaan hatinya tersebut, lalu membuka perban yang menutupi luka di bawah telapak kaki Leta dengan sangat hati-hati.


"Sudah lumayan kering lukanya, tunggu sebentar biar aku kasih obat lagi ya."Ucap Ken penuh perhatian.


Leta hanya terdiam sembari menatap calon suaminya itu, jujur saja Leta benar-benar merasa sangat penasaran, mana sikap Ken yang sesungguhnya.


"Kamu sebenarnya orang seperti apa, Ken? Kenapa kamu sangat mudah sekali berubah." Batin Leta tanpa melepaskan pandangannya dari Ken.


Sementara itu, Ken mulai memberikan obat di telapak kaki Leta dengan sangat hati-hati, ia tidak ingin sang pujaan hatinya itu merasakan sakit lagi seperti hari kemarin. "Sakit tidak sayang? Kalau sakit bilang ya." Ucap Ken sembari mendongak menatap Leta dalam.


"Tidak, sama sekali tidak sakit." Sahut Leta dengan senyuman yang mulai tergambar dari sudut bibirnya.


"Sebentar ya, biar aku pasangkan perbannya lagi." Ucap Ken yang mendapat anggukkan kepala dari Leta.


Ken mulai memasangkan perban baru pada telapak kaki Leta, lalu setelah itu ia pun mengangkat kaki Leta dan meletakkannya di atas sofa.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu di sini, jangan sampai kakimu lebih terluka lagi. Atau aku akan menghukummu jika kamu tidak patuh, mengerti sayang." Ucap Ken kembali mengelus wajah cantik Leta.


"Iya aku mengerti, dan terima kasih karena sudah mengobati lukaku lagi." Sahut Leta sedikit lembut.


"Sudah sewajarnya aku membantumu, sayang. Bagaimanapun juga kamu adalah calon istriku dan kelak kamu akan menjadi istriku, aku tidak mau melihatmu terluka lagi, mengerti." Ucap Ken dengan tatapan matanya yang semakin dalam dan hangat.

__ADS_1


"Iya aku atu dan aku sangat mengerti." Sahut Leta seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


Ken terkekeh pelan, ia pun mengusap pucuk kepala Leta dengan sangat lembut. "Apakah kamu haus, sayang?" Tanya Ken masih dengan nada suaranya yang lembut itu.


"Sedikit." Sahut Leta singkat dan padat.


"Biar aku panggilkan Office Girls di sini ya. Kamu mau minum apa sayang?"


"Aku mau jus alpukat saja deh." Sahut Leta sambil memperlihatkan wajahnya yang menggemaskan di mata Ken, tak lupa tatapan matanya yang seperti anak kucing itu.


"Baiklah-baiklah, kamu tidak perlu memperlihatkan wajah yang menggemaskan seperti itu sayang, nanti bisa-bisa aku khilap dan menciummu." Ucap Ken sembari memperlihatkan senyuman devil di wajahnya yang tampan itu.


"Kamu!!! Selalu saja begitu. Dasar nyebelin." Gerutu Leta sambil memperlihatkan wajah cemberutnya.


"Maafkan aku sayang, tapi wajahmu memang membuatku sangat gemas." Kekeh Ken seraya mencubit lembut wajah cantik Leta.


"Ish nyebelin banget sih." Gerutu Leta seraya mengusap wajahnya yang bekas di cubit calon suaminya tersebut.


"Jangan marah, sayang. Aku hanya becanda saja. Sekarang kamu duduk yang manis, aku akan memanggil Office Girls dulu, ok." Ucap Ken yang kemudian berdiri lalu berjalan menuju kursi kebesarannya.


Ken segera meraih gagang telpon yang berada di atas meja kerjanya, lalu ia pun langsung menghubungi salah satu karyawan perusahaan itu.


"Selamat siang Pak Ken ada yang bisa saya bantu?" Tanya karyawan tersebut dengan ramah.


"Suruh office girls untuk membuatkan jus alpukat, dan bawa ke ruanganku. Tidak pake lama." Perintah Ken datar.

__ADS_1


Seperti biasanya, setelah memberi perintah Ken akan memutuskan sambungannya tanpa menunggu jawaban dari si penerima itu. Ken kembali menaruh gagang telpon itu di tempatnya, kemudian ia pun kembali berjalan menghampiri Leta yang saat ini sedang menatap layar ponselnya.


Bersambung.


__ADS_2