Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Bab65


__ADS_3

Setelah tiba di dalam kamar, Ken pun menuntun Leta menuju ranjang king size miliknya. Leta hanya dapat pasrah dan mengikuti langkah kaki calon suami paksanya itu.


"Kamu, istirahatlah di sini. Nanti setelah makan malam sudah siap, aku akan membangunkanmu." Ucap Ken begitu lembut dan halus. Laki-laki ini begitu cepat berubah moodnya jika berhadapan dengan sang pujaan hatinya itu.


"Hmm, baiklah. Kamu bisa pergi dari sini sekarang." Sahut Leta terkesan datar membuat Ken sedikit tidak suka.


"Kamu mengusirku?" Tanya Ken sembari mengelus wajah cantik calon istrinya itu.


"Bukankah tadi kamu menyuruhku untuk istirahat?" Seru Leta sembari menyingkirkan tangan kekar itu dari wajah cantiknya.


"Ya, tapi denganku." Sahut Ken dengan santai, membuat Leta langsung membulatkan kedua bola matanya sempurna.


"Aku tidak mau, Kamu... Kamu keluar, saja." Teriak Leta membuat Ken terkejut setengah mati.


"Hey... Kamu pikir aku budeg, jangan berteriak di dekat telingaku." Ucap. Ken sambil mengusap telinganya. Rasanya gendang telinganya mau pecah akibat teriakan calon istrinya tersebut.


"Siapa suruh kamu mendekatiku." Sahut Leta santai, tanpa merasa bersalah.


"Ahh sudahlah, lebih baik kamu istirahat. Aku akan keluar." Ucap Ken membuat Leta lega.

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal itu, Ken pun langsung melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Leta yang hanya menatapnya dengan datar.


"Dasar, gila. Kenapa tidak dari tadi saja dia pergi. Bikin kesel aja." Gumam Leta sembari menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur besar itu.


"Dia tidak akan datang lagi kan? Ah sudahlah, sebaiknya aku tidur sebentar saja. Toh dia tidak mungkin berani ngapa-ngapain aku. Tapi, bagaimana kalau dia masuk lagi ke sini? Ah sialan. Hapus semua pikiran negatifmu, Leta." Batin Leta sambil menggelengkan kepalanya guna menghilangkan pikiran negatifnya tentang calon suaminya itu.


***


Saat ini Ken sedang berada di dalam ruang kerjanya. Ia memfokuskan dirinya pada pekerjaan yang belum ia selesaikan.


Tiga jam kemudian..


"Ahh dasar gadis kecil, berani sekali dia berteriak di dekat telingaku. Apa dia tidak tahu kalau aku sangat terkejut? Untung saja jantungku tidak copot." Gumam Ken sambil memegang dadanya.


"Tapi, wajah dia sangat lucu ketika sedang marah." Ken kembali bergumam sambil menyunggingkan senyumannya


Tok......tok.....tok.......


Tiba-tiba saja suara ketukan pint terdengar di gendang telinganya. Ken menghela nafasnya kasar, ia sangat kesal karena khayalannya terganggu oleh orang yang mengetuk pintu tersebut.

__ADS_1


"Masuk." Perintah Ken dingin.


Seseorang yang tak lain adalah bi Inah pun masuk ke dalam ruangan itu.


"Permisi tuan, makan malamnya sudah siap." Ucap bi Inah sopan.


"Baiklah. Apakah calon istriku sudah turun?" Tanya Ken sembari melipat kemeja putihnya hingga siku.


"Belum tuan, apa saya perlu membangunkanya?" Bi Inah berbalik nanya.


"Tidak perlu, biar aku saja yang membangunkannya." Sahut Ken sambil mematikan layar komputernya lalu bangkit dari kursi kebesarannya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu tuan." Pamit bi Inah yang mendapat anggukkan kepala dari tuan dinginnya itu. Setelah itu, bi Inah pun langsung melangkahkan kedua kakinya keluar dari ruangan itu.


"Sepertinya dia masih tidur. Dasar gadis keras kepala, selain hobinya teriak-teriak ternyata dia juga kebo." Ucap Ken sembari terkekeh pelan.


Ken perlahan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruang kerjanya dan berjalan menuju kamarnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2