
Ray menghela nafasnya panjang ia masih tetap berusaha untuk menahan amarahnya yang semakin lama semakin tinggi gara-gara laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Sudahlah aku tidak mau basa-basi lagi, aku ingin kau membatalkan kerja sama perusahaanmu dengan perusahaan-perusahaan yang dulu bekerja sama dengan perusahaanku." Ucap Ray dingin.
Ken terkekeh pelan, ia menatap Ray seolah-olah ia sedang meremehkan lawan bicaranya itu. "Mengapa aku harus membatalkannya, tuan Ray? Mereka sendiri yang ingin bekerja sama dengan perusahaanku, dan itu hak mereka tidak ada hubungannya denganku." Jawab Ken tetap santai.
"Jelas semua ini ada hubungannya denganmu, Kendrick. Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka membatalkan kerja samanya denganku secara bersamaan, lalu beralih bekerja sama dengan perusahaanmu? Kau pikir aku bodoh!!!" Seru Ray geram.
Ken kembali terkekeh, ia menatap Ray dengan tatapan matanya yang tajam.
"Kau memang bodoh Ray. Kalau kau tidak bodoh, Leteshia tidak mungkin meninggalkanmu dan menikah denganku." Jawab Ken membuat Ray tidak dapat menahan emosinya lagi.
"Jangan ber imajinasi yang berlebihan, Kendrick. Leta tidak pernah meninggalkan aku, dia menikah denganmu, karena kau yang memaksa dan juga mengancamnya, dan kau harus ingat, Leta tidak pernah mencintaimu, dia hanya mencintaiku." Ucap Ray penuh penekanan.
Mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Ray, sontak saja membuat darah dalam diri Ken mendidih seketika, bagaimana pun juga, yang di ucapkan oleh Ray memang benar. Benar bahwa Ken lah yang memaksa dan mengancam Leta, supaya Leta mau menikah dan menjadi istrinya. Dan satu lagi, Leta memang sama sekali tidak mencintainya, dan laki-laki yang di cintai oleh Leta adalah laki-laki yang kini sedang duduk di hadapannya.
"Yang kau ucapkan memang benar Ray. Tetapi dengan berjalannya waktu, cepat atau lambat Leta akan menerimaku dan mencintaiku. Dan cepat atau lambat dia akan melupakanmu, tuan Ray." Jawab Ken tanpa memperlihatkan emosi dalam dirinya.
__ADS_1
"Ya! Terserah kau saja aku tidak peduli, tetapi satu hal yang harus kau tahu, sekarang ataupun nanti, aku tidak akan pernahmelepaskan Leta untukmu." Tegas Ray terlihat sangat serius.
"Silahkan, lakukan apapun yang kau mau lakukan, Ray. Tetapi, jangan salahkan aku, jika besok perusahaanmu dan juga perusahaan papamu hancur." Ucap Ken sambil memperlihatkan senyuman devilnya.
"Kau memang luar biasa Kendrick. Kau bisa mengendalikan siapa pun yang kau mau, kali ini aku akan mengalah dan membiarkan Leta menikah denganmu, namun suatu saat nanti aku pasti akan merebutnya kembali. Dan satu lagi, jangan sentuh perusahaan papaku, karena ini semua tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan papaku." Seru Ray kembali meredam emosinya.
"Dengan senang hati, aku akan menunggunya." Jawab Ken dengan senyuman penuh kemenangan.
Tok...tok....
"Masuk." Perintah Ken dingin.
Seorang perempuan cantik masuk sambil membawa nampan yang berisikkan dua cangkir kopi panas.
"Permisi pak Ken, ini kopinya." Ucap wanita itu yang tak lain adalah Ana sambil menyunggingkan senyuman manisnya.
"Apakah membuat kopi membutuhkan waktu yang sangat lama? Lain kali kau tidak usah membuatkan kopi lagi." Tegur Ken sambil menatap Ana dingin.
__ADS_1
"Ahh maafkan saya pak Ken, saya tadi..." Belum sempat Ana menyelesaikan ucapannya, Ken sudah menyela ucapannya.
"Diamlah, aku tidak menerima alasan apa pun. Sekarang kau keluarlah." Perintah Ken masih dengan nada suaranya yang dingin.
"Ba,,, baik pak Ken, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Ana gugup.
Setelah mengatakan hal itu, Ana pun langsung pergi membawa kedua kakinya keluar dari ruangan bos dinginnya tersebut.
Ray yang sudah malas berada di ruangan Ken pun memutuskan untuk pergi.
"Aku permisi." Ucap Ray singkat.
Tanpa menunggu Ken menjawabnya, Ray langsung banhkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi meninggalkan Ken yang kini tengah tersenyum sinis.
"Jangan main-main denganku Ray. Aku bukan orang yang mudah untuk di kalahkan oleh siapa pun, termasuk kau. Lihat saja jika kau masih berani mendatangi Leta lagi, aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan perusahaanmu dan juga perusahaan papamu." Ucap Ken sembari meraih secangkir kopi panasnya.
Bersambung.
__ADS_1