
Ken yang melihat Leta hanya terdiam pun kembali bersuara.
"Jawab Letashia. Kenapa kamu menangis tadi? Apakah kamu menangisi laki-laki itu? Jawab dengan jujur karena aku tidak suka kebohongan." Ucap Ken sambil duduk di samping Leta dan menatap Leta penuh selidik.
"Aku,,,, aku tidak menangis, Ken. Dan aku sedang tidak membohongimu, kamu jangan mencurigaiku seperti ini." Sahut Leta tanpa menatap lawan bicaranya.
"Letashia!!!"
"Hilangkan kecurigaanmu itu, Ken. Atau kamu memang menginginkan aku benar-benar membohongimu, begitu." Sela Leta yang mulai menberanikan dirinya untuk menatap calon suaminya tersebut.
"Ok, baiklah. Kali ini aku akan menghilangkan kecurigaanku terhadapmu, dan aku akan mempercayaimu. Tapi, jika kamu berani membohongiku, kamu akan tahu akibatnya." Ucap Ken dengan tegas.
"Aku tahu. Yasudah kamu kerja lagi sana, biar kerjaanmu cepet selesai, dan aku bisa pulang." Perintah Leta ketus.
"Dasar gadis bodoh! Cuma kamu yang berani memerintahku seperti ini." Ucap Ken sembari mengusap pucuk kepala Leta dengan gemas, lalu setelah itu Ken pun langsung beranjak berdiri kemudian ia pun kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kursi kebesarannya. Ken kembali melakukan pekerjaannya yang tertunda, sementaea Leta, ia nampak menghela nafasnya lega.
"Laki-laki itu benar-benar seperti cenayang." Batin Leta sambil menatap Ken dari jauh.
***
Di tempat lain.
Arsha terlihat melamun tidak seperti biasanya yang selalu ceria, bahkan ia sampai tidak sadar jika Sam sang manager sudah berdiri di dekatnya .
"Kenapa kamu melamun saja, Arsha. Apakah kamu tidak takut jika aku memotong gajimu." Ucap Sam membuat Arsha sedikit terkejut.
"Astaga, pak Sam. Ngagetin aku saja." Seru Arsha seraya mengelus dadanya.
__ADS_1
"Ada apa denganmu, Arsha. Biasanya kalau kamu mendengar aku akan memotong gajimu, kamu langsung mengoceh. Apakah kamu sedang ada masalah?" Tanya Sam penasaran karena Arsha tidak seperti biasanya.
"Tidak ada kok." Sahut Arsha terlihat malas.
"Yakin? Tapi kenapa kamu melamun terus daritadi?" Tanya Ken masih penasaran.
"Astaga... Kenapa anda sangat kepo sekali pak Samuel!" Seru Arsha ketus.
"Ckkk... Aku hanya ingin tahu saja, ArshaVina. Lagian kamu ini sedang berada di tempat kerja. Bukannya kerja malah melamun, apa kamu tidak takut aku memotong gajimu, hah!" Ucap Sam kesal.
"Terserah, aku tidak perduli." Jawab Arsha singkat dan padat. Sam yang mendengarnya pun terlihat semakin kesal.
"Awas saja... Aku pasti benar-benar akan memotong gajimu bulan ini." Gerutu Sam sambil memberikan tatapan yang mengancam.
"Aaaaaaaaaarrrrgggghhhh." Tiba-tiba saja Arsha berteriak, dan itu membuat Sam sangat terkejut.
"Maaf. Aku tuh lagi kesal, kesal, kesaaaaaaal banget." Ucap Arsha setengah berteriak.
"Kesal sih kesal, tapi kamu tidak perlu berteriak di dekatku, kamu pikir telinga aku budeg hah!" Sahut Sam seraya berjalan melangkahkan kedua kakinya.
"Eh anda mau kemana pak Sam? Bukankah anda ingin tahu kalau sedang ada masalah?" Tanya Arsha menghentikan langkah kaki Sam.
"Sudah tidak ingin tahu lagi! Ceritakan saja masalahmu sama tembok!" Sahut Sam sambil menatap Arsha tajam, lalu setelah itu ia pun kembali melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan Arsha yang terlihat cemberut.
"Huh dasar aneh. Tadi penasaran sama masalahku, sekarang malah ninggalin aku dan menyuruku untuk menceritakannya sama tembok. Dia pikir tembok bisa mendengar dan bisa di ajak cerita apa. Sangat menyebalkan." Gerutu Arsha seraya merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya. Kebetulan restaurant saat ini tidak terlalu rame sehingga membuat Arsha bisa se santai seperti saat ini.
Arsha segera mencari kontak sahabatnya, Leta, kemudian ia pun langsung menghubunginya, dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
__ADS_1
"Kemana sih nih anak, gue telpon gak di angkat-angkat. Atau jangan-jangan dia lagi asik-asik sama calon suaminya? Aaargh sangat menyebalkan. Kenapa dia mengajakku coba." Gerutu Arsha ketika panggilannya tak kunjung di jawab oleh sahabatnya tersebut.
"Hmm tidak bisa gue biarin, nih. Pokoknya gue harus ganggu dia, enak saja dia asik-asik tidak mengajak sahabatnya." Gumam Arsha kembali melakukan panggilan kepada sahabatnya tersebut.
"Hallo, Sha. Ada apa? Lo udah ganggu gue tahu gak." Akhirnya panggilan Arsha pun di terima oleh Leta membuat Arsha tersenyum puas.
"Letashiaaaaa... Lo kemana aja sih, lo habis bersenang-senang sama calon suami lo ya. Telpon gue baru di angkat." Teriak Arsha membuat Leta langsung menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Astaga, Arsha. Bisa gak sih, lo tidak berteriak seperti itu, lo pikir telinga gue budeg hah!" Seru Leta terdengar kesal.
"Lagian lo gak angkat-angkat telpon dari gue. Nyebelin tahu gak sih." Omel Arsha sambil mengercutkan bibirnya.
"Gue tadi ketiduran, ArshaVina." Sahut Leta masih kesal.
"Hmm, bohong! Lo pasti habis bersenang-senang sama calon suami lo kan. Tebakkan gue pasti benar." Ucap Arsha dengan percaya diri.
"Sialan! Apanya yang bersenang-senang coba, gue tuh lagi bosen di sini. Lo tahu, dia sama sekali tidak membiarkan gue kembali ke tempat kerja dan gue harus menunggu dia sampai dia selesai dengan pekerjaannya."
"Hah! Kenapa nasib lo sangat buruk sekali, Leta. Bukannya di ajak senang-senang malah di suruh nunggu dia bekerja. Eh tapi seharusnya lo tidak merasa bosan dong." Ucap Arsha membuat Leta gemas dan ingin menceburkannya ke kali.
"Maksud lo?" Tanya Leta masih dengan nada suaranya yang kesal.
"Iya seharusnya lo tidak merasa bosan karena lo bisa melihat wajah calon suami lo yang tampan itu." Ucap Arsha dengan santai.
"Lo jangan becanda, ArshaVina. Gue tuh malas banget lihat dia, memang iya dia itu tampan, tapi dia itu ngeselin tahu." Sahut Leta membuat Arsha terkekeh pelan.
Bersambung.
__ADS_1