
Di tempat lain.
Saat ini Seth sudah berada di tempat kerja Leta. Ia pun segera memarkirkan kendaraan roda empatnya, kemudian mematikan mesin kendaraan itu lalu melepaskan seatbeltnya. Seth segera meraih pintu mobil, dan membukanya secara perlahan, setelah itu ia pun turun dari dalam mobil itu, dan berjalan memasuki restaurant tersebut.
Seth celingukan mencari keberadaa Leta, namun sayangnya ia sama sekali tidak menemukan Leta di dalam restaurant tersebut. Alhasil Seth pun langsung menghampiri Arsha yang saat ini sedang menunggu pesanan untuk pelanggannya.
"Ekhmm... Permisi nona, bisakah anda memanggilkan nona Leta sebentar?" Ucap Seth membuat Arsha langsung berbalik dan menatap ke arahnya.
"Anda ingin bertemu dengan sahabat saya, tuan?" Tanya Arsha seraya memperlihatkan senyumannya yang manis di wajah cantiknya itu.
"Betul nona. Bisakah anda memanggil sahabat anda itu?"
"Bisa, tapi sayangnya saat ini Leta tidak masuk kerja, jadi sebaiknya anda pergi saja dari sini, dan cari dia lain waktu lagi." Ucap Arsha tanpa melepaskan senyuman di wajahnya yang cantik itu.
"Tapi saya ingin bertemu dengannya hari ini juga, nona. Bisakah anda memberitahu keberadaan nona Leta saat ini?" Tanya Seth sangat sopan.
"Bisa sih. Tapi sayangnya, saya tidak tahu keberadaan Leta saat ini. Jadi, sebaiknya anda cari tahu saja sendiri." Sahut Arsha membuat Seth sedikit kesal.
"Saya tahu nona pasti mengetahui keberadaan nona Leta bukan? Beritahu saya nona, karena bos saya ingin bertemu dengan nona Leta hari ini juga." Ucap Seth mulai dengan nada suaranya yang tegas. Seth sangat yakin jika Arsha mengetahui keberadaan Leta saat ini, hanya saja gadis itu sepertinya tidak ingin memberitahu dirinya.
"Sudah saya bilang, kalau saya tidak tahu dimana Leta berada, tuan. Jadi, sebaiknya anda mencari tahu sendiri." Sahut Arsha di iringi dengan helaan nafasnya.
"Nona, anda tidak bisa membohongi saya, saya yakin anda mengetahui keberadaan nona Leta saat ini. Jadi, saya harap anda segera memberitahu saya di mana nona Leta berada sekarang." Ucap Seth dengan sorot matanya yang tajam membuat Arsha sedikit ngeri.
"Astaga... Kenapa tatapan matanya sangat menakutkan sekali? Apa aku beritahu saja keberadaan Leta saat ini? Tapi Leta kan sudah memintaku untuk tidak memberitahu keberadaannya. Aaaarghhh... Bagaimana ini?" Batin Arsha mulai gelisah. Antara memberitahu atau tidak.
"Nona, jika anda diam seperti itu, berarti anda tahu keberadaan nona Leta saat ini. Katakanlah, karena saya tidak memiliki waktu yang banyak untk meladeni kebohongan anda." Seth kembali berucap dengan nada suaranya yang semakin dingin, bahkan tatapan matanya pun terlihat semakin tajam membuat Arsha semakin ngeri melihatnya.
"Aku sungguh tidak tahu, tuan. Anda! Carilah sendiri, saya permisi dulu." Sahut Arsha berusaha untuk tetap tenang, meskipun hatinya merasa gelisah sekaligus takut.
"Nona! Apakah anda tidak tahu bos saya seperti apa? Bos saya bisa melakukan apapun jika ada seseorang yang dengan sengaja menyembunyikan calon istrinya itu. Saya yakin anda tidak mau terlibat dengan bos saya bukan? Jadi, saya harap anda memberitahu saya dimana nona Leta berada sekarang." Ucap Seth masih dengan nada suaranya yang dingin dan juga tegas membuat Arsha terdiam di tempatnya.
"Hey tuan. Anda sedang mengancam saya? Kalau anda hebat, anda pasti bisa menemukan keberadaan Leta, tanpa saya harus memberitahu anda. Mengerti!" Seru Arsha dengan kesal. Meskipun hatinya merasa takut, namun ia juga masih kekeh tidak ingin memberitahu keberadaan Leta saat ini. Karena bagi Arsha sahabatnya itu jauh lebih penting daripada dirinya sendiri.
"Astaga... Kenapa ada wanita keras kepala seperti dirinya? Benar-benar menyebalkan." Batin Seth berusaha untuk menahan kekesalannya.
"Anda sangat keras kepala nona, baiklah saya akan mencari tahu nya sendiri." Ucap Seth sembari memperlihatkan senyuman devil di wajahnya.
"Senyuman apa itu? Kenapa terlihat sangat menakutkan sekali? Aaarghh sialan! Sepertinya aku dalam masalah sekarang. Tetapi aku tidak mungkin memberitahu dia tentang keberadaan Leta. Astagaa... Bagaimana ini." Batin Arsha mulai merasa cemas terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
Sementara itu, Seth langsung pergi setelah ia memberikan senyuman devilnya kepada Arsha. Arsha yang merasa cemas hanya dapat menghela nafasnya kasar sambil menatap kepergian laki-laki tampan, namun memiliki senyuman yang menakutkan itu.
***
Di tempat lain.
Saat ini Leta terlihat sedang menonton televisi untuk menghilangkan rasa bosannya. Sesekali ia melirik ke arah ponseknua yang berada tidak jauh dari dirinya. Ia melihat ada beberapa pesan masuk yang jelas pesan itu bukan di kirim oleh calon suaminya, melainkan dari Raymond, laki-laki yang di cintainya itu.
Leta nampak menghela nafasnya kasar, ia pun segera meraih ponsel itu dan mulai membuka pesan dari Raymond tersebut.
Raymond.
Leta. Aku sangat merindukanmu, apakah kamu juga merindukan aku?
Raymond.
Leta bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak pernah lagi membalas pesan dariku, dan setiap kali aku menghubungimu, kamu tidak pernah menjawabnya. Apakah kamu sungguh sudah melupakan aku?
Begitulah sebagian isi pesan yang di kirimkan oleh Raymond kepada Leta. Leta tersenyum kecut, ia pun kembali menghela nafasnya dengan kasar. Jika di tanya apakah dia merindukan laki-laki itu atau tidak? Sudah pasti jawabannya dia sangat merindukan laki-laki itu. Karena sampai saat ini, rasa cintanya terhadap Raymond masih ada.
Leta kembali menaruh ponsel itu di dekatnya, ia kini kembali menatap layar televisi yang saat ini sedang menampilkan hiburan stand up comedy, membuat Leta sedikit terhibur.
"Siapa yang datang? Apakah orangtua Arsha sudah pulang? Tetapi kata Arsha mereka pulang tiga hari lagi? Apakah mungkin itu Arsha? Ah tidak mungkin, ini belum waktunya untuk pulang. Lalu siapa?" Leta bertanya-tanya sendirian.
"Sebaiknya aku buka sajalah, siapa tahu orang penting yang mencari Arsha." Gumam Leta seraya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu tersebut.
Perlahan Leta pun mulai meraih knop pintu itu, kemudian ia pun membukanya dengan lebar. Seketika bola mata Leta membulat sempurna ketika ia melihat Seth asisten kepercayaan calon suaminya itu sedang berdiri dan memberikan senyuman kepada dirinya.
"Akhirnya saya menemukan anda juga, nona." Ucap Seth terlihat sangat bahagia, namun tidak dengan Leta.
"Selamat siang nona, silahkan anda ikut dengan saya, karena bos saya ingin menemui anda sekarang juga." Sambung Seth tanpa melepaskan senyumannya yang kaku bin ngeselin menurut Leta.
"Bagaimana kamu tahu kalau aku ada di sini? Apakah Arsha yang membeitahumu?" Tanya Leta dengan nada suaranya yang sedikit ketus.
"Nona becanda. Sahabat nona itu sangat keras kepala sama seperti anda yang keras kepala. Jadi, sekuat apapun saya berusaha untuk mengetahui keberadaan anda dari sahabat anda itu, dia tetap tidak mau memberitahu saya." Jawab Seth terlihat sedikit kesal.
"Lalu, bagaimana kamu bisa menemukan aku di sini?" Tanya Leta masih dengan nada suaranya yang ketus itu.
"Anda tidak perlu tahu nona, lebih baik anda ikut saya sekarang, sebelum calon suami anda mengamuk dan memakan orang." Sahut Seth terlihat mulai serius.
__ADS_1
"Biarkan saja dia mengamuk, aku tidak perduli. Yang jelas aku tidak mau ikut sama kamu." Ucap Leta membuat Seth langsung merubah ekspresi di wajahnya.
"Nona anda jangan becanda. Apakah Nona tidak takut jika calon suami Nona menghancurkan perusahaan paman anda?" Tanya Seth membuat Leta terdiam beberapa saat sembari menatap Seth dengan nyalang.
"Kamu!!! Kamu mengancamku hah! Baiklah kalau begitu aku akan ikut denganmu. Tunggu sebentar, tuan pengancam yang menyebalkan." Ucap Leta kesal. Setelah itu Leta pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah Arsha untuk mengambil tas beserta ponsel miliknya.
Setelah beberapa saat menunggu,akhirnya Leta pun keluar dari rumah Arsha, Seth pun segera membukakan pintu untuk calon istri bosnya tersebut.
"Silahkan Nona." Ucap Seth kembali ramah.
"Ya. Makasih." sahut Leta yang kemudian masuk ke dalam mobil itu.
Setelah Leta masuk, Seth pun kemudian berjalan menuju pintu mobil bagian kemudi. Tanpa menunggu lama, ia pun mulai membuka pintu itu, kemudian ia pun masuk dan duduk di kursi kemudinya. Seth langsung memasang sestbelt, lalu setelah itu ia pun mulai melajukan kendaraan itu meninggalkan rumah Arsha.
"Nona, mengapa anda melarikan diri dari si bos?" Tanya Seth sembari fokus dengan setir kemudinya.
"Aku tidak melarikan diri, aku hanya menginap di rumah sahabatku. Apakah ada yang salah?" Sahut Leta seraya menatap luar jendela mobil itu.
"Tidak ada. Tapi anda tidak seharusnya pergi diam-diam dari mobil si bos. Anda sudah membuat si bos marah besar nona." Ucap Seth sekilas melirik ke arah Leta.
"Itu bukan urusanmu, tuan." Seru Leta kembali kesal.
"Itu menjadi urusan saya Nona. Karena jika anda membuat marah bos saya, maka saya pun akan terkena imbasnya. Apakah anda tahu jika pernikahan anda akan di laksanakan besok?" Ucap Seth membuat Leta terkejut.
"Apa maksudmu? Bukankah pernikahannya akan di laksanakan beberapa hari lagi? Mengapa jadi besok?" tanya Leta sembari menatap Seth melalui kaca spion mobil itu.
"Itu karena kesalahan anda sendiri Nona. Siapa suruh anda melarikan diri dan membuat calon suami anda murka, sehingga pernikahan kalian berdua di percepat menjadi besok." Jawab Seth dengan santai.
"Dasar gila. Sekarang bagaimana nasibku? Aku harus membujuk dia agar pernikahan ini terjadi sesuai dengan kesepakatan." Batin Leta dengan tangan terkepal kuat.
"Nona, jika anda berniat untuk membujuk si bos, lebih baik anda batalkan niat anda itu." Seth kembali berucap dengan santai.
"Itu bukan urusan anda tuan. Lebih baik anda diam saja."
"Saya hanya menyarankan saja Nona." Ucap Seth masih dengan nada suaranya yang santuy.
Leta hanya mendengus kesal, ia tidak lagi menjawab ucapan Seth barusan. Sementara itu Seth terlihat mulai fokus dengan setir kemudinya tanpa berniat untuk mengeluarkan suaranya kembali.
Bersambung.....
__ADS_1