
Beberapa hari kemudian.
Ray sudah tiba di kota kelahirannya, dengan wajah bahagianya dia melangkahkan kedua kakinya meninggalakan bandara. Di sana sudah ada Indra yang menunggu di dekat mobil miliknya. Indra adalah putra supir pribadi, ayahnya. Sedari keduanya memang sudah akrab, hingga beberapa tahun lalu, keduanya di pisahkan oleh takdir. Dan sekarang mereka di pertemukan kembali, dimana Indra menjadi supir pribadi Ray.
"Selamat datang, bos. Silahkan masuk." Ucap Indra setelah ia membukakan pintu mobil untuk bos mudanya itu.
Ray tersenyum ramah, sambil menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Dra." Sahutnya, lalu masuk ke dalam mobilnya.
Setelah bos mudanya masuk, Indra pun berjalan memutari mobilnya lalu membuka pintu mobil bagian kemudinya. Indra masuk dan duduk di kursi kemudinya, tak lupa ia juga menutup kembali pintu mobil itu, lalu ia mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Kita pergi ke restaurant Samudera." Ucap Ray yang mendapat anggukkan kepala dari Indra, supir pribadinya itu.
Indra mulai melajukan kendaraan roda empatnya menuju restaurant Samudera tempat dimana Leta bekerja.
Sepanjang perjalanan Ray nampak menyunggingkan senyumannya, pikirannya di penuhi oleh gadis cantik yang sebentar lagi akan di temuinya. Ray sengaja tidak memberitahu Leta, bahwa hari ini ia adalah hari kepulangannya, ia sengaja ingin memberi Leta kejutan dengan cara, ia langsung mendatangi tempat kerja sang pujaan hatinya itu.
"Pasti wajah dia sangat menggemaskan kalau aku tiba-tiba muncul di tempat kerjanya. Ah aku sungguh tidak sabar untuk melihat raut wajahnya itu." Batin Ray di iringi dengan kekehannya membuat Indra seketika melirik ke arahnya.
"Anda kenapa, bos? Apakah anda sehat?" Tanya Indra membuat Ray langsung terdiam dan menatap kesal ke arahnya.
"Menurutmu? Apakah aku gila?" Seru Ray sambil bersidekap.
"Ah tidak, bos. Hanya saja, kenapa anda tertawa sendirian? Apakah ada yang lucu?" Tanya Indra kembali fokus dengan setir kemudinya.
"Mau tahu?" Ray berbalik nanya, Indra hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"KEPO." seru Ray membuat Indra menghela nafasnya kasar, setelah sekian lama mereka tidak bertemu, ternyata Ray masih sama seperti dulu. Sangat menyebalkan.
"Kamu fokus saja dengan setir kemudimu, Dra. Jangan kepo." Ucap Ray membuat Indra mendengus kesal.
"Saya daritadi juga fokus, bos. Kalau tidak fokus, saya sudah nabrak." Jawab Indra datar.
"Ckkk banyak, alesan." Seru Ray kesal.
Indra tidak menjawab, keduanya kini saling terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
***
__ADS_1
Restaurant Samudera.
Leta sedang di sibukkan oleh pekerjaannya, ia sama sekali tidak menyadari jika ada seseorang yang memakai topi masuk dan duduk di salah satu kursi yang berada dekat jendela.
"Mbak, aku mau pesan." Ucap laki-laki itu membuat Leta langsung menoleh ke arahnya.
"Mas, mau pesan apa, ya? Ini silahkan di lihat menunya." Sahut Leta selalu bersikap ramah, tak lupa senyumannya yang manis terpampang jelas di wajah cantiknya, membuat seseorang itu menatapnya tanpa berkedip di balik kacamata hitamnya.
"Boleh aku pesan, cintamu." Seru laki-laki itu dengan sangat amat lembut. Suara itu membuat Leta terdiam sejenak, sepertinya ia mengenal suara itu.
"Kenapa suaranya tidak asing, sepertinya aku sangat mengenal suara lembut ini." Batin Leta sambil menatap pelanggan yang memakai topi serta kacamata hitam itu.
"Boleh aku pesan, cintamu." Ucap laki-laki itu mengulang ucapannya tadi membuat Leta kembali ke alam sadarnya.
"Maaf, saya tidak bisa menjual cinta saya. Jadi silahkan pergi." Sahut Leta dengan tegas.
"Jika anda tidak ingin memesan makanan, saya pergi dulu, permisi." Sambung Leta kembali dengan nada suaranya yang lembut.
Leta berbalik, ia berniat untuk melangkahkan kakinya, namun niatnya terhenti ketika si laki-laki itu memanggil namanya dengan sangat amat lembut.
Deg....
Jantung Leta langsung berdegup dengan sangat kencang, wajahnya nampak berubah, ia ingat siapa orang yang selalu memanggilnya dengan sebutan Princess, sebutan masa kecilnya dulu.
"My princess, kenapa malah diam hmm." Laki-laki itu membuka topi dan juga kacamata hitamnya, ia berjalan menghampiri Leta yang masih terdiam di tempatnya.
Jantung Leta semakin berdegup dengan sangat kencang, saat tangan lembut laki-laki itu memeluk tubuhnya dari belakang tanpa memperdulikan sekitarnya.
"Aku sangat merindukanmu, Leteshia." Bisik laki-laki itu terdengar sangat lirih.
Leta masih terdiam, ia masih tidak percaya jika laki-laki yang selama ini ia rindukan sudah kembali dan memeluk dirinya dari belakang.
Ray melepaskan tangannya, lalu ia berdiri di hadapan gadis yang begitu di cintainya itu. Ia menatap gadis itu yang kini sedang menatapnya dengan sejuta kerinduan.
"Hey! Kenapa kamu malah diam saja, apakah kamu tidak suka jika aku datang... " Ucapan Ray tercekat di tenggorokkan ketika Leta memeluk tubuhnya erat.
"Ray! Kenapa kamu mengerjaiku, kenapa datang kesini tidak bilang-bilang? Kenapa kamu tidak memberitahuku? Kenapa kamu tidak menghubungiku, kamu sangat jahat, Ray." Seru Leta membuat Ray terkekeh pelan, sambil mengusap punggung sang pujaan hati.
__ADS_1
"Aku sengaja ingin memberimu kejutan, sayang. Makannya aku sengaja tidak menghubungimu, baby. Maafkan aku, karena sudah membuatmu khawatir." Ucap Ray begitu lembut dan halus.
Leta hanya terdiam di pelukan kekasih hatinya itu, ntahlah pikirannya sangat kacau, antara senang dan juga sedih saat ia mengingat janjinya kepada sang paman.
Adegan itu tak lepas dari tatapan mata para pengunjung dan juga seorang laki-laki tampan yang kini sedang mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Ingin sekali laki-laki itu memisahkan pasangan kekasih yang sedang berpelukan mesra itu, namun, ia sama sekali tidak berhak. Dan pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk pergi melangkahkan kedua kakinya menuju ruangannya.
Leta segera melepaskan pelukannya saat ia sadar bahwa saat ini ia sedang berada di tempat kerjanya.
"Emm kamu duduk dulu di sana, aku akan pergi ke ruangan menegerku untuk meminta izin hari ini." Ucap Leta yang mendapat anggukkan kepala dari sang kekasih.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama, ya." Sahut Ray sambil mengusap lembut pucuk kepala pujaan hatinya.
"Kalian pergi saja, biar aku yang minta izin sama pak meneger." Seru Arsha dengan tiba-tiba membuat Leta dan juga Ray terkejut setengah mati. Arsha benar-benar seperti jelangkung, tiba-tiba muncul tanpa ada tanda-tandanya.
"Arshaaaa, sejak kapan lo berdiri di situ? Lo bikin jantung gue mau loncat tahu gak." Ucap Leta sambil mencubit pelan tangan sahabatnya itu.
"Sejak kalian berpelukan tentunya." Sahut Arsha diirngi dengan kekehannya. "Yasudah, kamu pergi sana sama kekasihmu, biar aku yang minta izin sama pak Sam."
"Tapi,,,,, "
"Tidak ada tapi-tapian, udah sono pergi, tidak baik mempertontonkan keromantisan kalian berdua di hadapan seorang jomblo ini." Sela Arsha sambil mendorong tubuh Leta pelan.
Leta dan juga Ray terkekeh pelan, sepertinya mereka memang harus segera pergi sebelum si jomblo satu ini mengamuk dan menunjukkan taringnya.
"Ok, ok. Kita pergi, tapi gue ambil tas dulu." Sahut Leta sambil memperlihatkan senyuman manisnya.
"Ray, kamu tunggu di luar saja, nanti aku nyusul." Ucapnya kepada Ray.
"Iya, sayang. Aku tunggu, ya." Jawab Ray selalu dengan nada suaranya yang begitu lembut dan halus, membuat siapapun akan merasa iri, termasuk Arsha sendiri. Jiwa jomblonya meronta, tiba-tiba rasa ingin memiliki seorang kekasih muncul seketika. Namun, dimana ia akan menemukan kekasih seperti, Ray? Rasanya sangat amat tidak mungkin. Pikir Arsha.
Leta mulai melangkahkan kedua kakinya menuju tempat dimana ia meletakkan tas kecil miliknya, Sementara Ray. Ia langsung pergi melangkahkan kedua kakinya keluar dari restaurant tersebut.
Author. Ini si laki-laki setia, yang tampan.
Bersambung.
__ADS_1