Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Bab 55


__ADS_3

Di tempat lain.


Ray menatap photo perempuan cantik yang terpampang di layar ponselnya. Sesekali ia menghembuskan nafasnya kasar, lalu mengusap wajahnya frustasi. Kenangan di masa lalu bersama gadis cantik itu kini mulai menghantui dirinya, dan membuatnya merasa sangat bersalah, karena sudah meninggalkan gadis cantik itu dulu, dan pada akhirnya, ia harus kehilangan gadis itu, gadis yang paling di cintainya.


"Ini semua salahku, karena meninggalkanmu terlalu lama, andai saja aku kembali lebih awal, mungkin kamu tidak akan menikah dengan laki-laki sialan itu." Gumamnya sambil mengusap photo gadis cantik itu, yang tak lain adalah Leta.


"Tapi, aku berjanji, aku akan merebutmu kembali darinya. Tunggu aku Leteshia." Lirihnya sambil menutup kedua matanya, membayangkan wajah cantik sang pujaan hatinya itu.


Tiba-tiba saja ponsel Ray berdering, membuat Ray seketika membuka kedua bola matanya. "Dino? Tumben sekali dia menghubungiku di jam segini?" Gumamnya saat ia melihat nama Dino, asisten pribadinya.


Ray segera menggeser tombol berwarna hijau, lalu menempelkan benda pipih itu di telinga kanannya.


"Ada apa kau menghubungiku?" Tanya Ray datar.


"Maafkan saya, pak. Saya hanya ingin memberitahukan anda, bahwa perusahaan anda saat ini sedang mengalami kendala. Saya harap pak Raymond, kembali secepatnya." Ucap Dino membuat Ray langsung mengernyitkan keningnya bingung.


"Bagaimana bisa? Bukankah kemarin kau bilang semuanya baik-baik saja?" Seru Ray sambil berjalan menuju jendela kamarnya.


"Sepertinya anda telah menyinggung seseorang pak Raymond." Ucap Dino kembali membuat kening Ray berkerut.


"Maksudmu apa? Aku sama sekali tidak mengerti, dan aku tidak pernah menyinggung siapa pun." Sahut Ray terdengar dingin.


"Begini pak Raymond, perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan kita, mendadak membatalkan kerja samanya, dan alasan mereka pun semuanya sama, mereka akan bekerja sama dengan anak perusahaan yang terkenal di Negara yang sedang anda kunjungi saat ini, yaitu perusahaan Kendrick Group." Jelas Dino membuat Ray seketika mengepalkan satu tangannya.

__ADS_1


"Apa kau bilang! Anak perusahaan Kendrick Group?" Seru Ray penuh amarah.


"Betul pak Raymond. Jika anda memiliki masalah dengan pemilik perusahaan itu, sebaiknya anda segera menyelesaikannya sekarang. Kalau tidak, perusahaan yang anda bangun akan jatuh dalam sekejap." Saran Dino dengan hati-hati.


"Ya! Aku mengerti." Sahut Ray dingin.


Setelah mengatakan hal itu, Ray pun langsung memutuskan sambungannya, lalu menaruh benda pipih itu ke dalam saku celananya.


"Sialan kamu Ken! Kau sudah mengambil kekasihku dan sekarang kau mau menghancurkan perusahaanku. Dasar brengsek." Gumam Ray penuh amarah.


"Aku harus menemuinya besok." Ucap Ray sambil mengepalkan kedua tangannya kuat menahan amarah yang ada dalam dirinya saat ini.


Tok.. Tok.. Tok...


Ray segera berjalan menuju pintu kamarnya dan membuka pintu kamar itu lebar.


"Ada apa, pah?" Tanya Ray sambil menatap sang papa.


"Ray! Papa dengar, perusahaan yang kamu urus di luar negeri, sedang dalam masalah. Dan papa dengar, perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaanmu membatalkan kerja samanya. Mereka memilih untuk bekerja sama dengan anak perusahaan Kendrick Group. Apa kamu sudah menyinggung pemilik perusahaan itu? Jika kamu benar-benar sudah menyinggung perusahaan besar itu, sebaiknya kamu segera menemuinya, Ray. Jangan sampai perusahaan yang di sini kena dampaknya." Ucap pak Geraldi sambil menepuk pundak putra semata wayangnya itu.


"Aku tahu, pah. Besok siang aku akan menemuinya." Jawab Ray diiringi dengan helaan nafasnya yang panjang.


"Bagus, Ray. Tapi, papa ingin tahu, kenapa kamu bisa menyinggung pemilik perusahaan besar itu?" Tanya pak Geraldi penasaran.

__ADS_1


"Karena dia sudah mencuri kekasihku, pah." Sahut Ray jujur.


"Kekasihmu? Siapa kekasihmu?" Tanya pak Geraldi semakin penasaran.


"Papa ingat gadis yang dulu sering main bersamaku, dan gadis yang menangis ketika aku meninggalkannya pergi?" Ucap Ray yang mendapat anggukkan kepala dari sang papa.


"Dia adalah kekasihku, pah. Wanita yang aku cintai dari dulu hingga sekarang." Ucapnya terdengar sendu membuat pak Geraldi merasa bersalah karena dulu sudah membuat putranya itu berpisah dengan kekasihnya.


"Maafkan papa, Ray. Papa tidak bermaksud untuk memisahkanmu dengan gadis itu dulu, tapi, kamu tahu dulu perusahaan kita yang berada di luar negeri itu benar-benar sedang dalam masalah besar. Sementara papa harus menghandle perusahaan yang ada di sini. Jika bukan kamu yang pergi, maka perusahaan itu akan benar-benar hancur dulu." Ujar pak Geraldi sambil menatap putranya sendu.


"Tidak apa-apa, pah. Ini semua bukan salah papa. Dan aku sama sekali tidak menyalahkan papa. Mungkin ini ujian buat aku, pah."


"Ray! Jika gadis itu jodohmu, papa yakin gadis itu akan kembali sama kamu, tapi, jika gadis itu bukan jodohmu, maka lepaskanlah dia. Dan lupakanlah dia." Ucap pak Geraldi kembali menepuk pundak putra semata wayangnya itu.


"Aku tahu, pah." Sahut Ray pelan.


"Yasudah, kalau begitu papa turun dulu." Ucap pak Geraldi yang mendapat anggukkan kepala dari Ray.


Setelah mengatakan hal itu, pak Geraldi pun berbalik dan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Ray yang hanya terdiam di ambang pintu kamarnya.


"Tapi, sepertinya aku tidak akan pernah bisa melupakannya, pah." Batin Ray sambil menatap kepergian sang papa.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2