Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Saling berteriak


__ADS_3

Seth yang melihatnya pun hanya bisa terkekeh pelan, membuat Ken, langsung memberikan tatapan matanya yang tajam melalui kaca spion mobil.


"Ada apa denganmu, Seth? Jangan bilang kau sedang mentertawakanku? " Tanya Ken dingin.


"Tidak bos, saya mana mungkin berani mentertawakan anda." Sahut Seth berbohong.


"Awas saja kalau kau berani menertawaiku. Gajimu bulan ini aku potong. Mengerti." Ucap Ken dengan tegas.


"Mengerti, bos." Sahut Seth cepat.


"Berangkat sekarang." Perintah Ken dingin.


"Baik, bos." Sahut Seth seraya melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


Di dalam Restaurant.


Leta segera menghampiri Arsha yang sedang meminum air mineral nya.


"Aaaaaaaaaaaahhhhhhhh" Teriak Leta dengan tiba-tiba membuat Arsha terlonjak kaget, sekaligus tersedak air minumnya.


"Leteshiaaaaa. Bisa tidak kalau mau berteriak itu bilang-bilang dulu sama gue. Nih lihat, gue ampe kesedak air minum gara-gara lo." Teriak Arsha kesal seraya menatap sahabatnya itu.


"Astaga Arsha.... Ada apa denganmu? kenapa bajumu bisa basah begini?" Tanya Leta dengan wajah polos.


"Masih tanya ada apa? Ini semua gara-gara lo tau gak. Minuman gue tumpah dan masuk ke dalam hidung gue." Sahut Arsha semakin kesal.


"Kok gara-gara gue sih? Gue kan baru datang, Arsha." Ucap Leta semakin membuat sahabatnya itu kesal setengah mati.


"Astaga, Leteshia... Lo emang baru datang, tapi lo baru saja berteriak di depan muka gue. Lo pikir gue gak kaget, hah!" Seru Arsha seraya mengelap bajunya dengan tisu kering.


Leta terkekeh pelan, ia pun turut mengambil tisu dan membantu sahabatnya itu mengelap baju yang ketumpahan air minumannya. "Sorry, Sha. Lain kali gue bakalan bilang dulu deh sebelum gue berteriak sama lo." Ucapnya membuat Arsha seketika memelototkan kedua bola matanya dengan sempurna.


"Tidak ada lain kali, Leteshia. Lagian, lo kenapa sih, tiba-tiba berteriak begitu? Lo gak lagi kesambet jin iprit kan, Ta?" Tanya Arsha heran.

__ADS_1


"Ish mana mungkin gue kesambet jin iprit. Gue tuh lagi kesel, Arsha."


"Kesal kenapa lagi sih?" Tanya Arsha penasaran.


"Ah pokok nya gue lagi kesal, kesal, kesal......" Ucap Leta sambil *******-***** tangan sahabatnya itu dengan kencang.


"Auw... Stop! Hentikan, Leteshia. Tangan gue sakit tahu. Kalau lo mau melampiaskan kekesalan lo itu, lebih baik lo panggil mang Juned saja." Pekik Arsha sembari menarik tangannya.


"Untuk apa gue manggil mang Juned? Bikin gue tambah kesel aja." Sahut Leta seraya menatap memutar kedua bola matanya malas.


Mang Juned adalah tukang parkir yang berada di seberang jalan, ia sangat genit dan sering menggoda Leta, jika Leta sedang membeli siomay atau pun bakso di seberang jalan itu. Entahlah Leta sangat tidak menyukai tukang parkir tersebut.


"Ya untuk melampiaskan kekesalan lo lah, Ta. Kan lo bisa mukulin tuh abg tua, terus, meninjunya, atau menciumnya juga boleh. Mang Juned pasti seneng tuh." Ucap Arsha yang mendapat cubitan kesal dari sahabatnya itu.


"Ogah. Lo aja sono cium si mang Juned itu." Seru Leta membuat Arsha terkekeh pelan.


"Dih gue juga ogah, lagian si mang Juned gak bakalan mau sama gue, dia kan cinta matinya lo, Ta." Ucap Arsha sambil memperlihatkan senyuman menyebalkannya.


"Omg Leteshia! Sudah gue bilang, kalau mau berteriak itu bilang-bilang dulu sama gue. Biar gue tidak kaget. Pecah gendang telinga gue lama-lama." Ucap Arsha seraya mengusap telinganya.


"Bodo amat. Salah lo sendiri ngeselin."


"Gue cuma becanda, Leteshia."


"Gue juga cuma becanda, Arhsavina."


"Tapi becanda lo gak lucu, Leteshia." Teriak Arsha kesal.


"Becanda lo juga gak lucu, Arshavina." Keta pun kembali berteriak.


"Lo...."


"SUDAH SELESAI ADU TERIAKANNYA" Ucap Samuel dengan intonasi yang tinggi membuat dua gadis cantik itu terkejut.

__ADS_1


"Astaga, pak Sam mau ikutan juga ya?" Tanya Arsha sambil cengengesan.


"Pak Samuel sudah datang rupanya." Ucap Leta tersenyum malu.


"Kalian berdua tuh ya, bukannya siap-siap malah teriak-teriak. Apak kalian mau berubah menjadi tarsan wanita?" Seru Samuel seraya bersidekap menatap Leta dan juga Arsha secara bergantian.


"Atau, kalau kalian mau teriak-teriak, kalian bisa pergi ke sana." Sambung Samuel, serata menunjuk jalan raya.


"Ohh emang kalau di situ boleh ya?" Tanya Arsha dengan wajah polosnya.


"Tentu saja boleh, coba saja sana." Sahut Samuel kesal.


"Oh ok. Ayo, Ta kita ke sana saja." Ajak Arsha sembari menarik tangan sahabatnya itu.


"Kamu saja deh, Sha. Gue mau kerja." Sahut Leta sambil tersenyum dan melepaskan tangan sahabatnya tersebut.


"Dasar Arsha. Mau saja di bodohin sama pak Samuel. Astaga, kenapa sahabatku menjadi bodoh seperti ini sih? Apakah dia salah minum obat? Atau gara-gara tersedak air tadi?" Batin Leta sambil menatap Arsha.


"Yasudah kalau begitu sama pak Samuel saja deh." Ucap Arsha tersenyum polos.


"Ayo kalau begitu, tapi gaji mu aku potong bagaimana?" Sahut Samuel sambil memperlihatkan seringaiannya membuat Arsha sedikit takut.


"Kalau begitu lain kali saja, aku pamit kerja dulu bye,,, bye..." Ucap Arsha sambil pergi meninggalkan Samuel dan juga Leta yang sedang mentertawakan tingkah lakunya.


"Kamu tidak ikut pergi juga?" Tanya Samuel kepada Leta.


"Ah iya, kalau begitu aku permisi dulu." Pamit Leta langsung bergegas menyusul sahabatnya.


Samuel tersenyum sambil menatap kepergian Leta.


"Leta, apakah kamu tahu, kalau aku sangat mencintaimu? Namun aku sama sekali tidak bisa mengungkapkannya, karena sebentar lagi kamu akan segera menikah, dan aku hanya bisa mendoakanmu dan mencoba untuk melupakanmu, Leteshia." Batin Samuel di iringi dengan helaan nafas beratnya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2