
Di tempat lain.
Ken berjalan memasuki kediamannya, wajahnya terlihat sangat bahagia, bahkan senyumannya pun tak lepas dari wajah tampannya membuat para pelayan yang ada di kediamannya bingung dan bertanya-tanya.
Pasalnya, mereka tidak pernah melihat tuannya itu tersenyum, apalagi senyum-senyum sendirian seperti orang gila, sangat aneh bukan?
"Kamu lihat tadi tuan Ken tersenyum tanpa hentinya, apakah dia kerasukan setan?" Ucap salah satu pelayan di kediamannya itu.
"Ssst.... Jangan bicara sembarangan, bagaimana kalau tuan Ken mendengarnya, bisa-bisa kita di pecat lagi." Sahut pelayan yang satunya lagi.
"Eh tapi beneran loh, tuan Ken itu seperti orang kesurupan, senyam-senyum sendirian, biasanya kan, dia tidak pernah seperti itu."
"Itu bukan kesurupan, tapi sepertinya tuan Ken sedang jatuh cinta." Seru si pelayan satunya lagi sambil mencubit gemas lengan temannya itu.
"Waah ternyata tuan kita yang dingin itu, bisa jatuh cinta juga. Semoga saja perempuan yang tuan cintai adalah gadis baik-baik."
"Iya, aku juga berharap perempuan itu bisa mengubah tuan, biar tidak dingin lagi" Sahut pelayan satu lagi.
Setelah selesai menggosipkan tuannya, kedua pelayan itu pun kembali ke tempat istirahatnya.
__ADS_1
***
Setelah tiba di dalam kamar, Ken langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, ia segera bergegas menuju walk in closet, lalu mengambil pakaian santai, kemudian ia mengenakannya dengan santai.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Ken pun berjalan menuju sofa yang berada di dalam kamarnya.
Ia kembali tersenyum seperti orang gila ketika isi kepalanya di penuhi oleh bayangan gadis cantik yang akan menjadi calon istrinya itu. Ken sungguh tidak sabar untuk menikahi gadis pujaannya itu, bahkan imajinasinya saat ini sudah terlampau jauh, dan tidak bisa di ucapkan oleh kata-kata.
"Tinggal beberapa hari lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya. Aku sangat tidak sabar menantikan pernikahaan kita, Leteshia." Gumamnya tanpa melepaskan senyuman yang manis dari wajahnya yang tampan itu.
Disaat ia sedang asik dengan khayalannya, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering, menandakan bahwa adanya panggilan masuk dari seseorang.
"Ada apa kau menelponku?" Tanya Ken dengan dingin.
"Maafkan saya bos, sudah mengganggu waktu anda. Tapi ada yang ingin saya sampaikan... "
"Katakan!" Sela Ken cepat.
"Tadi pak Raymond menghubungi saya, dia ingin bertemu dengan anda, besok siang." Ucap Seth dengan hati-hati.
__ADS_1
Ken langsung menyunggingkan senyuman jahatnya, ia sudah menduga jika Raymond atau mantan dari calon istrinya itu pasti akan menghubunginya cepat atau lambat.
"Sudah kuduga. Baiklah, suruh dia datang saja ke perusahaanku." Seru Ken tanpa melepaskan senyuman devilnya.
"Baik bos. Kalau begitu saya tutup dulu telponnya, selamat malam dan selamat beristirahat." Ucap Seth lega.
"Hmmm." Seperti biasa, Ken hanya membalasnya dengan deheman seperti Limbad.
Ken kemudian menggeser tombol berwarna merah, ia kembali menyunggingkan senyuman devilnya sambil menaruh ponselnya di atas meja.
"Ini baru permulaan, Ray! Lihat saja, jika kau masih berani menemui dan menghubungi calon istriku, jangankan perusahaanmu, perusahaan papamu pun akan aku hancurkan." Ucapnya tanpa melepaskan senyuman devil di wajahnya.
Kediaman Georgy.
Leta terlihat sangat murung, mengingat pernikahannya dengan Ken yang hanya tinggal beberapa hari lagi, sungguh membuat Leta ingin kabur sejauh mungkin, namun keadaan memaksanya untuk tetap tinggal, karena jika ia benar-benar kabur, maka keluarga pamannya akan hancur di tangan Ken.
Leta menghela nafasnya kasar, ia menatap langit-langit kamarnya sendu.
"Hanya tinggal beberapa hari lagi, aku akan menjadi istri si pria mesum itu. Dengan membayangkannya saja, sudah membuatku gila, apalagi jika aku mengingat perkataannya waktu itu, aku merasa semakin gila. Ah bagaimana dengan kehidupanku nanti? Apakah aku akan bahagia? Apakah aku bisa mencintai pria mesum itu? Apakah aku bisa melupakan Ray? Ah ntahlah." Lirih Leta sambil memejamkan kedua bola matanya.
__ADS_1
Bersambung.