Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Dasar bodoh


__ADS_3

"Ya Tuhan, sayang. Kenapa bisa seperti ini kakimu?" Tanya Ken dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Apanya yang kena...pa..." Leta pun ikut terkejut ketika melihat telapak kakinya yang sudah berlumuran darah. "Astagaa.. Ada apa dengan kakiku? Kenapa bisa berdarah seperti ini?" Batin Leta seraya menutup mulutnya dengan kedua bola membulat sempurna menatap pada telapak kakinya sendiri.


Ken yang benar-benar khawatir pun langsung menggendong Leta dan berjalan menuju sofa. Leta hanya terdiam dengan keterkejutannya.


"Apakah kamu bodoh! Kenapa kakimu sudah seperti ini pun kamu bertanya apanya yang kenapa? Bahkan ,kamu tidak merasakannya saat kamu pertama kali melangkahkan kakimu." Seru Ken sambil menatap Leta dengan kesal. Bisa-bisanya gadis itu tidak merasakan sakit saat pertama kali gadis itu melangkahkan kedua kakinya. Sungguh luar biaaa.


"Kenapa kamu malah mengataiku, bodoh! Lagian ini hanya luka kecil saja." Sahut Leta kesal, sudah merasakan sakit, mendapat omelan pula.


"Lihat baik-baik Letashia! Lukamu itu cukup besar, dan kamu malah bilang luka kecil saja. Astaga... Kamu itu memang benar-benar bodoh, atau telapak kakimu itu terbuat dari kayu sehingga kamu tidak merasakan sakit sama sekali." Oceh Ken seraya merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya.


"Kamu.... Kenapa malah memarahiku? Bukannya aku yang terluka. Kenapa juga kamu yang marah, dasar nyebelin." Ucap Leta sambil.mengercutkan bibirnya kesal. Ken hanya memberikan tatapan matanya yang tajam, lalu setelah itu ia pun langsung memanggil asistennya melalui ponsel genggamnya itu.


"Aku yang terluka, mengapa dia yang kesal, tapi bagaimana bisa, telapak kakiku bisa terluka seperti ini? Bukankah tadi aku berangkat kesini baik-baik saja? Dan sepertinya ini pecahan beling... Ehh tunggu dulu, jangan-jangan ini perbuatan sekertaris Ken tadi? Astaga, Leta. Jangan berprasangka buruk terlebih dahulu, mungkin saja pecahan piring itu tidak sengaja masuk ke dalam sepatuku. Ah tapi tidak mungkin, posisinya tadi cukup jauh. Tapi, kalau dia memang yang melakukannya, untuk apa dia berbuat seperti itu? Arrgghh entahlah, aku pusing." Batin Leta pusing sendiri.


"Seth datang ke ruanganku sekarang, dan bawakan aku kotak p3k. Tidak pake lama." Perintah Ken tanpa basa-basi. Setelah memberi perintah, Ken pun langsung memutuskan sambungannya, kemudian ia kembali menaruh ponselnya itu ke dalam saku celananya.


Ken kembali menatap Leta, kali ini bukan tatapan tajam yang ia berikan, melainkan tatapan mata yang terlihat sangat khawatir.


"Sakit tidak?" Tanya Ken dengan begitu lembut berbeda dari sebelumnya.


"Emm sedikit. Kamu tidak perlu khawatir seperti itu, aku juga tidak akan mati hanya gara-gara telapak kakiku terluka seperti ini." Ucap Leta seraya menatap Ken yang masih memperlihatkan raut wajahnya yang khawatir.


"Kalau kamu mati, aku pun akan ikut mati bersamamu. Dan juga bagainamana mungkin aku tidak khawatir, jelas luka di telapak kakimu itu cukup besar seperti itu." Ken menjeda ucapannya sejenak dan memeriksa apa penyebab luka di kaki calon istrinya itu.


"Kenapa pecahan beling ini ada di dalam sepatumu?" Tanya Ken ketika ia melihat pecahan beling yang lumayan besar tertancap di telapak kaki Leta.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu. Jelas-jelas pecahan piring tadi lumayan jauh dariku." Sahut Leta ikut bingung. Sementara itu raut wajah Ken nampak berubah ketika ia mendengar jawaban yang di berikan oleh Leta barusan.


"Ana, apa mungkin ini perbuatan dia? Tapi kenapa dia bisa melakukan hal seperti ini?" Batin Ken dengan tangan yang mulai terkepal dengan kuat menahan amarah yang mulai tumbuh dalam dirinya.


Tidak lama kemudian Seth asisten Ken pun masuk ke dalam ruangan itu, ia tidak mengetuk pintu sama sekali, karena ia khawatir jika terjadi sesuatu kepada bos dinginnya itu.


"Permisi, bos. Ini saya sudah bawakan kotak P3Knya. Di bagian mananya anda terluka? Biar saya bantu obati." Ucap Seth tanpa melihat ke arah kaki Leta.


"Bukan aku yang terluka, tapi calon istriku. Jadi, kamu tidak perlu khawatir seperti itu. Kemarikan obatnya " Ucap Ken dengan wajahnya yang datar.


Seth segera memberikan kotak P3K itu kepada Ken, lalu ia melihat ke arah telapak kaki Leta yang mengeluarkan banyak darah itu. Ken nampak sangat terkejut. "Ya Tuhan, bagaimana bisa telapak kaki nona Leta terluka seperti itu." Ucap Seth panik.


"Jangan panik seperti itu, lebih baik kamu panggilkan Ana dan suruh dia datang ke ruanganku sekarang juga." Perintah Ken dengan tegas.


"Maaf bos, sepertinya Ana sudah pulang, tadi saya melihat dia naik mobil dan pergi meninggalkan perusahaan ini." Sahut Seth hati-hati. Ia memang tidak sengaja melihat Ana naik mobil ketika ia berada di tempat parkiran mobilnya.


Ken, biar aku sendiri yang mengobati lukaku." Ucap Leta berniat untuk meraih obat yang berada di tangan Ken.


"Tidak, biar aku yang mengobatinya. Kamu duduk saja, jangan membantah atau aku akan..." Ucapan Ken tercekat di tenggorokkan.


"Iya,,, iya... Baiklah, jangan membuatku takut seperti itu." Sahut Leta menyela ucapan calon suaminya tersebut.


Ken tersenyum, ia pun mulai membersihkan pecahan beling yang tertancap di telapak kaki Leta. Keta terlihat meringis kesakitan, membuat Ken langsung mendongak menatap Leta khawatir.


"Sakit, sayang? Tahan sebentar, ya." Ucap Ken sangat lembut. Leta hanya mengangguk pasrah dengan debaran jantung yang berpacu dengan sangat cepat.


"Astaga, kenapa jantungku deg-degan seperti ini?" Batin Leta sembari memperhatikan Ken yang kembali fokus mengobati luka di telapak kakinya itu.

__ADS_1


"Apakah sudah selesai?" Tanya Leta melepas keheningan yang menyelimuti ruangan itu.


"Sedikit lagi, sayang. Tunggu sebentar ya, aku akan memasang perbannya." Ucap Ken tetap fokus mengobati luka di telapak kaki calon istrinya tersebut


Seth yang sedari tadi berdiri seperti patung dan hanya memperhatikan bosnya pun tersenyum, ini adalah kali pertamanya ia melihat sang bos yang begitu perhatian terhadap seorang wanita.


"Sudah selesai, masih terasa sakit tidak?" Tanya Ken kembali mendongak menatap calon istrinya dengan hangat.


Leta tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Tidak terlalu sakit lagi. Ayo sekarang kita pulang." Ajak Leta berniat untuk berdiri.


"Kamu mau ngapain, sayang. Kaki kamu masih terluka, kamu jangan sembarangan bergerak." Ucap Ken seraya mengangkat tubuh Leta membuat Leta terkejut.


"Turunkan aku, Ken. Aku masih bisa jalan sendiri, lagian yang terluka hanya sebelah kakiku saja. Jadi, kamu tidak perlu repot-repot untuk menggendongku." Tolak Leta seraya menatap Ken.


"Diamlah, jangan banyak bergerak." Titah Ken sedikit kesal karena Leta memberontak.


"Ken, turunkan aku. Aku tidak mau jadi tontonan para karyawanmu nanti." Pinta Leta jujur.


"Tenang saja, sayang. Ini sudah jam enam lebih, mereka semua sudah pulang, jadi kamu tidak perlu khawatir ok. Diam dan biarkan aku menggendongmu, aku tidak ingin melihatmu kesakitan seperti tadi, mengerti." Ucap Ken dengan lembut seraya menatap Leta lekat.


'Yasudah terserah kamu saja." Akhirnya Leta pun hanya dapat pasrah dan tidak lagi memberontak.


"Good girls." Ucap Ken seraya melangkahkan kedua kakinya, sementara Leta mulai mengalungkan kedua tangannya di leher calon suaminya tersebut.


"Nasib jadi asisten begini amat ya. Hey bos! Apa anda tidak tahu kalau saya masih berada di sini. Sedihnya tidak ada yang menyadari keberadaanku yang jomblo ini." Batin Seth seraya melangkahkan kedua kakinya mengikuti bosnya tersebut.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2