Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Ada apa dengannya


__ADS_3

"Ekhmm... Kamu sangat serius sekali melihat ponselmu. Apakah kamu sedang menunggu seseorang untuk menghubungimu?" Tanya Ken ketika ia sudah berdiri di hadapan calon istrinya tersebut.


"Kamu bikin aku terkejut saja. Apakah kamu mahluk halus datang tidak ada suaranya." Ucap Leta kesal karena ia merasa terkejut dengan kehadiran Ken yang tiba-tiba itu.


"Kamu saja yang terlalu sibuk dengan ponselmu, sehingga kamu tidak menyadari keberadaanku di sini. Kamu sedang menunggu panggilan dari siapa?" Sahut Ken sekaligus bertanya sembari menatap Leta penuh dengan selidik.


"Aku tidak menunggu siapa-siapa, Ken. Aku hanya sekedar melihat-lihat ini saja, kamu tidak perlu menatapku seperti itu. Apalagi mencurigaiku." Ucap Leta seraya memperlihatkan isi ponselnya kepada Ken.


"Kamu ini seperti anak kecil saja. Apakah kamu sangat menyukai permen lolipop?" Tanya Ken sedikit penasaran.


"Hmm tidak juga. Aku hanya kebetulan saja melihatnya, jadi aku penasaran dan aku mencarinya deh." Jelas Leta tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


"Penasaran? Kamu penasaran dengan permen lolipop begitu?" Tanya Ken seraya mengerutkan keningnya.


"Emmm bukan itu maksudku, Ken... " Ucapan Leta tercekwt di tenggorokannya.

__ADS_1


"Lalu apa maksudmu, sayang?" Ken bertanya dengan penasaran.


"Seingat ku dulu waktu aku berusia sepuluh tahun, ada om-om yang memberikan aku permen lolipop. Katanya aku sudah menolongnya, lalu aku pun dengan senang hati menerimanya. Walaupun aku tidak terlalu menyukai permen lolipop itu, namun entah mengapa pada saat itu aku menerimanya dengan sangat senang." Ucap Leta sembari membayangkan kejadian di masa lalunya itu.


"Sialan! Bahkan sampai sekarang pun dia masih menyebutku om-om. Hey bocah! Apakah kamu tidak mengingatku sama sekali?" Batin Ken dengan perasaan yang kesal. Karena Leta sama sekali tidak mengingatnya.


"Ekhmm... Apakah kamu masih mengingat wajah om-om yang memberikan permen lolipop itu?" Ken bertanya dengan sangat penasaran.


"Aku tidak mengingat wajahnya, bahkan namanya pun aku sudah lupa. Lagian, untuk apa aku mengingatnya. Toh sama sekali tidak penting bagiku." JawabLeta dengan jujur. Namun, jawaban yang ia berikan justru membuat Ken semakin kesal.


"Kalau memang tidak penting bagimu, lalu mengapa kamu masih mengingat permen lolipop pemberian om-om itu, bahkan kamu sampai mencarinya tadi." Tanya Ken berusaha untuk menghilangkan kekesalan yang ada di dalam hatinya.


"Karena permen lolipop itu... " Leta menjeda ucapannya, ia menatap Ken kemudian ia berkata kembali. "Sudahlah tidak perlu di bahas lagi, lebih baik kamu kembali bekerja saja."


Mendengar hal itu tentu saja Ken merasa tidak senang. Padahal ia benar-benar merasa sangat penasaran, mengapa calon istrinya itu masih mengingat permen lolipop itu, namun tidak dengan dirinya.

__ADS_1


"Terserah kamu saja." Akhirnya Ken pun memutuskan untuk kembali ke kursi kebesarannya daripada ia harus memendam kekesalannya terhadap Leta.


Leta menatap kepergian Ken, ia pun menghela nafasnya kasar. "Karena permen lolipop itu adalah permen pertama yang aku berikan kepada Raymond. Dan Raymond sangat menyukai permen lolipop itu. Namun sayang sekali ketika aku mencari rasa permen lolipop itu di toko, aku sama sekali tidak menemukannya. Karena rasa permen lolipop itu sangat spesial." Batin Leta dengan raut wajah yang terlihat sedih ketika ia mengingat masa-masa bersama Raymond dulu.


"Sudahlah Leta, jangan memikirkan masa dulu lagi. Karena bagaimanapun juga, kamu tidak akan pernah bisa kembali ke masa itu." Leta kembali membatin seraya menaruh ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.


Ken yang sedari tadi memperhatikan Leta pun begitu penasaran, mengapa tiba-tiba raut wajah calon istrinya itu berubah? Padahal jelas-jelas tadi raut wajahnya tidak seperti itu. Apa yang sedang di pikirkan oleh calon istrinya tersebut?


Ken menghela nafasnya kasar dengan tatapan mata yang tak lepas dari Leta. "Ada apa dengannya? Mengapa dia terlihat sedih? Apa yang sedang ia pikirkan?" Ken bertanya-tanya dalam hatinya.


"Sudahlah, sebaiknya aku menyelesaikan dulu pekerjaanku, baru nanti aku tanyakan langsung sama Leta." Ken kembali membatin dengan tangan yang mulai meraih berkas yang berada di atas meja kerjanya. Setelah itu ia pun mulai memfokuskan dirinya dengan berkas tersebut.


wajah tampan si pemarah nih


__ADS_1


Bersambung


__ADS_2