
Restaurant Samudera.
Leta sudah berada di tempat kerjanya, raut wajahnya sama sekali tidak ada semangat, ia nampak murung, matanya pun terlihat bengkak membuat Arsha sahabatnya mengernyitkan keningnya bingung sekaligus khawatir.
"Leteshia! Ada apa denganmu?Apakah lo sedang sakit? Kenapa mata lo bengkak? Lo habis menangis?" Tanya Arhsa khawatir.
Leta seketika tersenyum, ia menatap sahabatnya, kemudian ia menghela nafasnya panjang. "Ya! Aku memang sedang sakit, Sha. Sangat sakit." Sahut Leta semakin membuat Arsha khawatir.
"Bagian mana yang sakit, Ta? Ayo gue antar ke rumah sakit sekarang." Ucap Arsha sambil menempelkan telapak tangannya di kening sahabatnya itu.
"Hati aku yang sakit, Sha." Jawab Leta pelan.
"Maksudmu?" Tanya Arsha bingung.
"Iya, hatiku yang sakit, Sha. Sangat sakit." Sahut leta di iringi dengan helaan nafasnya yang panjang.
Arsha masing bingung, sepertinya otaknya masih belum bisa menangkap dengan rasa sakit yang di maskud oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hubunganku dengan Ray, benar-benar sudah berakhir, Sha. Dan gue, sebentar lagi akan menikah dengan laki-laki lain." Sambung Leta membuat Arsha nampak terkejut.
"Sungguh?" Seru Arsha yang mendapat anggukkan kepala dari Leta.
"Sabar ya, Ta. Kan gue udah bilang, seberapapun kalian berusaha untuk mempertahankan hubungan kalian, jika Tuhan tidak mengkhendaki, kalian pasti akan tetap berpisah juga." Arsha mengusap punggung sahabatnya lembut, sejujurnya ia benar-benar tidak tega melihat sahabatnya itu menderita. Namun, ia juga tidak dapat berbuat apa-apa selain menguatkan sahabatnya itu.
"Gue yakin, jodoh lo itu pasti seseorang yang baik yang Tuhan berikan untuk menjaga dan melindungi lo, Ta. Jadi, lo jangan bersedih lagi, ya." Sambung Arsha sambil memperlihatkan senyuman manisnya.
Leta mendongak, ia menatap sahabatnya sendu. "Lo mau tahu laki-laki yang akan menjadi suami gue siapa?" Tanya Leta tiba-tiba.
"Ngaco aja. Mana mungkin di jaman sekarang ada seorang laki-laki yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Lo kira ini drama." Ucap Leta membuat Arsha terkekeh pelan.
"Ya! Mungkin aja, Ta. Apa sih yang gak mungkin di dunia ini. Iyakan." Sahut Arsha sambil mengedikkan bahunya.
"Eh emangnya siapa, Ta?" Tanya Arsha penasaran.
"Pemilik perusahaan Kendrick Group...." Ucapan Leta tercekat di tenggorokkan ketika Arsha dengan lantangnya menyela.
__ADS_1
"Gue juga tahu, Ta. Kan lo udah cerita."
"Ish, aku belum selesai ngomong, Arsha. Lo itu udah nyamber aja kayak petasan." Ucap Leta sambil mencubit pelan pipi chuby sahabatnya itu.
"Iya, iya sorry. Tapi gak usah cubit pipi gue juga kali." Seru Arsha sambil mengelus pipinya.
"Lanjutkan!" Sambung Arsha tidak sabaran.
"Dan ternyata pemilik perusahaan Kendrick Group itu adalah pemilik mobil mewah yang tidak sengaja gue tabrak, Sha." Ucap Leta setelah ia menarik nafasnya dalam-dalam.
"Whaaaaat... Astaga, serius lo, Ta?" Seru Arsha sambil membekap mulutnya tidak percaya. Leta hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia sudah bisa menebak, sahabatnya itu pasti akan terkejut, sama seperti dirinya.
"Berarti dia pangeran yang datang ke restuaran ini dong. Astaga... Mimpi apa lo, Ta. Bisa menjadi istrinya dia, lo sangat beruntung bisa mendapatkan laki-laki seperti pangeran gue. Udah tampan, gagah, kaya raya, dan gue lihat, dia itu calon-calon suami bucin. Ah beruntung banget sih lo, Ta." Cerocos Arsha merasa iri karena sahabatnya itu bisa mendapatkan suami seperti Ken yang ia anggap sebagai pengerannya itu.
Leta hanya terdiam sambil menatap sahabatnya, bagaimana mungkin ia bisa beruntung mendapatkan laki-laki pemaksa itu? Leta akui, Ken memanglah tampan, namun bukan berarti Leta menyukainya. Bagi Leta, Ken adalah laki-laki egois yang mementingkan perasaannya sendiri. Dan Leta sangat tidak menyukainya.
Bersambung.
__ADS_1