
Pagi berikutnya.
Leta duduk terdiam di atas kursi dekat kasir. Wajahnya nampak lesu, tidak ada gairah sama sekali. Pikirannya masih melayang pada kejadian dimana sang paman memintanya untuk menikah dengan laki-laki yang ia sendiri tidak mengenalnya.
Ah mengingat dia akan menikah dengan lelaki lain, membuat semangat hidupnya menurun drastis, dia terus merenung, tanpa dia sadari, Seth asisten Ken yang sengaja datang atas suruhan bosnya itu, sudah berada di hadapannya.
"Permisi nona, bos saya ingin bertemu dengan anda, silahkan nona ikut dengan saya." Ucap Seth tanpa basa basi mengagetkan Leta.
"Astaga dia kan bawahan pemilik mobil yang aku tabrak waktu itu." Batin Leta sambil menatap si asisten berwajah datar itu.
"Nona, bos saya ingin bertemu dengan anda, silahkan anda ikut dengan saya, sekarang." Seth kembali berucap dengan intonasi yang sedikit tinggi, ia paling tidak suka membuang-buang waktunya yang berharga itu.
"Tetapi saya masih bekerja, bagaimana kalau nanti setelah saya selesai bekerja, saya menemui bos anda." Seru Leta sedikit kesal karena nada suara Seth kembali membuatnya terkejut.
"Tidak apa-apa nona! Saya sudah meminta izin kepada atasan anda, jadi mohon nona ikut dengan saya, sekarang!" Tegas Seth dengan wajah yang selalu datar.
"Baiklah, sebentar saya ambil tas saya dulu." Sahut Leta yang mendapat anggukkan kepala dari Seth.
Leta segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan menuju tempat dimana ia meletakkan tas kecil miliknya.
Setelah ia mengambil tas kecil miliknya, Leta pun kembali berjalan menghampiri Seth.
"Sudah selesai, nona." Tanya Seth yang mendapat anggukkan kepala dari Leta.
"Kalau begitu mari kita berangkat." Ucap Seth kembali mendapat anggukan kepala dari Leta.
Keduanya mulai berjalan keluar dari restaurant tersebut dan melangkahkan kedua kaki mereka menuju tempat dimana Seth memarkirkan mobilnya.
Setelah tiba di tempat parkir mobilnya, Seth langsung membukan pintu mobil untuk Leta, Leta hanya menurut, ia segera masuk ke dalam mobil tersebut, begitu pun juga dengan Seth, ia segera masuk dan duduk di kursi kemudinya. Perlahan, Seth mulai melajukan kendaraannya dan membawanya menuju perusahaan milik bosnya.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka pun tiba di perusahaan Kendrick Group. Seth segera memarkirkan mobil itu dengan hati-hati l, kemudian ia mematikan mesinnya mobilnya.
"Sudah sampai, nona." Ucap Seth sambil menatap Leta melalui kaca spion mobil dalamnya.
__ADS_1
"Oh." Hanya dua hurup yang keluar dari mulut Leta. Setelah itu, Leta pun segera meraih pintu mobik tersebut, lalu ia pin turun tak lupa ia juga menutup kembali pintu mobil itu dengan pelan.
"Kendrick Group. Ah jadi ini perusahaan yang terkenal itu, ternyata sangat besar dari yang ku bayangkan." Batin Leta sambil menatap gedung yang menjulang tinggi itu.
"Mari ikuti saya, nona." Seru Seth selalu mengejutkan Leta.
"Seperti jelangkung." Gumam Leta sembari mengikuti langkah kaki Seth yang mulai memasuki perusahaan sang bos.
Banyak pasang mata yang menatap kedatangan mereka. Selama ini mereka tidak pernah melihat Seth datang bersama perempuan manapun, jadi wajar saja jika kedatangan Leta mencuri perhatian para karyawan tersebut khususnya para karyawan perempuan yang hobinya menggosip.
"Kenapa mereka melihatku seperti itu? Apakah ada yang salah dengan pakaianku?" Leta bertanya-tanya dalam hatinya. Ia semakin mempercepat langkah kakinya karena merasa tidak nyaman mendapat tatapan penuh selidik dari para karyawan tersebut.
"Jangan pedulikan mereka, nona. Mari kita masuk." Ucap Seth setelah ia menekan tombol lift yang akan membawanya ke lantai dimana bosnya berada.
Leta mengangguk, ia pun segera masuk ke dalam lift tersebut. Keadaan di dalan lift mendadak hening seketika, Leta sibuk dengan pikirannya, sementara Seth, ia sibuk dengan ponselnya.
Sementara itu di lantai bawah, Ana yang tak sengaja melihat kedatangan Leta pun bertanya-tanya sendirian.
"Siapa perempuan itu? Kenapa dia bisa datang bersama pak Seth? Apakah dia kekasih pak Seth? Atau,,,, dia perempuan ****** yang akan menggoda Ken?" Batin Ana sambil mengepalkan satu tangannya kuat.
***
Pintu lift pun terbuka, Seth dan juga Leta langsung keluar dari lift tersebut.
"Mari ikuti saya, nona." Perintah Seth yang hanya mendapat anggukkan kepala dari Leta.
"Dari tadi juga aku sudah mengikutimu, tuan. Kenapa malah menyuruhku mengikutimu lagi. Dasar aneh!" Batin Leta sambil berjalan mengekori Seth dari belakang.
Tok....tok....tok......
Seth langsung mengetuk pintu ruangan sang bos saat dirinya sudah tiba di depan pintu berukuran besar itu.
"Masuk." Perintah Ken dari dalam terdengar dingin.
Seth segera membuka pintu ruangan itu, lalu ia pun masuk tak lupa ia juga mengajak Leta untuk masuk ke dalam ruangan bosnya itu.
__ADS_1
"Permisi bos, nona Leta sudah datang." Ucap Seth sopan.
"Kalau begitu kau keluarlah, tinggalkan kita berdua." Perintah Ken datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya..
"Baik bos, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Seth sedikit membungkukan tubuhnya. Ken hanya mengangguk pelan, sementara Seth, ia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruangan bosnya itu.
"Astaga, kenapa dia malah di suruh pergi? Bikin canggung saja." Batin Leta sambil menatap kepergian Seth dengan kesal.
Setelah Seth keluar dari ruangannya,barulah Ken mengalihkan pandangannya kepada gadis yang di cintainya itu, Ken terus menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan, membuat Leta salah tingkah.
"Astaga, kenapa dia hanya diam dan menatapku saja, bukankah dia yang ingin bertemu denganku?" Batin Leta sambil mengalihkan pandangannya pada sudut ruangan itu.
"Kenapa dia sangat cantik sekali? Apakah ini efek seseorang yang sedag jatuh cinta?" Batin Ken tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Leta.
"Tuhkan, dia malah diam terus. Apakah aku harus memulai pembicaraannya? Tapi, aku harus mulai dari mana?" Leta kembali membatin sambil memperlihatkan senyuman canggungnya kepada Ken.
"Ekhmm... Nona apa kau masih ingat denganku?" Akhirnya Ken memulai pembicaraannya membuat Leta dapat bernafas dengan lega.
"Ah tentu saja saya ingat dengan anda, tuan. Anda adalah pemilik mobil yang waktu itu saya tabrak tanpa sengaja" Sahut Leta sambil memainkan jari jemarinya guna menghilangkan rasa gugupnya karena berhadapan langsung dengan pemilik mobil yang ia tabrak waktu itu.
"Ohh bagus kalau kau masih mengingatku. Bukankah kau harus mengatakan sesuatu kepadaku, nona! Kenapa kau tidak menghubungiku?" Ucap Ken masih dengan tatapan matanya yang begitu dalam.
"Astaga,,,,pasti masalah ganti rugi itu. Mampus aku, kenapa aku busa lupa untuk menghubunginya, sih?" Batin Leta sambil berusaha untuk tetap tenang.
"Nona, Leteshia. Kenapa malah diam hmm." Seru Ken membuyarkan lamunan Leta.
"Ahh saya minta maaf tuan, saya lupa untuk menghubungi anda, tapi saya sudah berbicara dengan asisten anda, tentang masalah ganti rugi waktu itu...." Ucapan Leta tercekat di tenggorokkan ketika Ken kembali membuka mulutnya.
"Bukankah asistenku sudah bilang, kalau kau harus menghubungiku? Lalu, kenapa kamu tidak segera menghubungiku?" Tanya Ken menyela ucapan Leta.
"Aish bukankah tadi aku sudah bilang, kalau aku lupa, kenapa masih bertanya lagi." Ucap Leta tentunya dalam hati, mana berani ia berkata seperti itu kepada orang yang mobil mahalnya sudah ia tabrak, bisa-bisa ganti ruginya malah bertambah menjadi dua kali lipat.
Bersambung.
__ADS_1