
Setelah beberapa menit kemudian, Ana pun datang dengan membawa sapu dan juga tempat untuk membuang pecahan piring tersebut. Ia langsung bergegas membersihkan pecahan piring itu akibat ulahnya sendiri.
Ana menatap sinis ke arah Leta yang saat ini sedang tertidur pulas, tangannya nampak menggenggam erat sapu di tangannya guna menahan kekesalannya terhadap Let, gadis yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun kepada dirinya. Hanya saja rasa cemburu sudah membuat Ana membenci gadis cantik itu.
"Dasar gadis murahan! Enak sekali dia tidur di sini. Semenntara gue harus membersihkan pecahan piring sialan ini. Brengsek! Seharusnya gue yang menjadi nyonya Kendrick, bukan wanita murahan ini." Batin Ana kembali menatap sinis Leta yang masih tertidur dengan pulasnya.
Ana mulai membersihkan pecahan pring tersebut, sekilas ia melirik ke arah Sneaker Leta, ia pun tersenyum menyeringai, seolah-olah ia sedang memikirkan rencana jahat untuk Leta.
Ana melirik sekilas ke arah Ken, laki-laki itu nampak sangat fokus memeriksa beberapa berkas yang berada di atas meja kerjanya, Ana pun tersenyum menyeringai kembali, lalu ia mengambil pecahan piring itu dan menaruhnya di dalam Sneaker Leta.
"Rasakan! Wanita murahan sepertimu memang pantas mendapatkan ini." Batin Ana tanpa melepaskan seringai di wajahnya. Setelah itu Ana pun kembali membereskan pecahan piring itu dengan cepat. Selah beberapa menit, Ana pun akhirnya selesai membersihkan pecahan piring itu, dengan segera ia pun berjalan menghampiri Ken yang masih fokus dengan pekerjaannya.
"Pak Ken. Saya permisi dulu." Pamit Ana selalu memperlihatkan senyuman manisnya kepada Ken, laki-laki yang selama ini menjadi incarannya itu.
"Sudah selesai?" Tanya Ken melirik Ana sekilas.
"Sudah pak Ken." Sahut Ana cepat.
"Apakah sudah benar-benar bersih?" Ken kembali bertanya dengan nada suaranya yang dingin itu.
"Sudah pak. Jika anda tidak percaya, anda boleh melihatnya." Sahut Ana tanpa mengubah ekpresi di wajahnya.
"Baguslah. Kamu boleh pergi." Ucap Ken tanpa melihat ke arah Ana.
"Baik pak Ken. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Ana yang mendapat anggukkan kepala dari Ken. Setelah itu Ana pun langsung berbalik dan pergi melangkahkan kedua kakinya dengan senyuman licik yang kembali terpampang di wajahnya itu.
Dua jam kemudian.
Waktu menunjukkan pukul 17.35 sore. Ken sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia meregangkan otot-otot di tangannya, lalu mengambil ponsel miliknya yang berada di atas meja kerjanya. Ken segera mencari kontak Seth, lalu menghubunginya langsung dan menempelkan ponsel itu di telinganya.
"Iya, bos. Ada yang bisa saja bantu?" Tanya Seth ketika ia sudah menjawab panggilan dari bosnya tersebut.
__ADS_1
"Ya! Aku sudah selesai, kamu pergi siapkan mobil untukku." Perintah Ken datar seperti biasanya.
"Siap, bos. Ada lagi?" Tanya Seth sopan.
"Tidak ada." Sahut Ken singkat dan padat.
Seperti biasanya, Ken akan memutuskan sambungannya secara sepihak, tanpa menunggu jawaban dari asistennya tersebut.
Ken memasukan ponsel itu ke dalam saku celananya, lalu setelah itu ia pun beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan menghampiri Leta yang masih saja tertidur dengan pulas.
Ken berjongkok, ia mengusap lembut pucuk kepala Leta sembari tersenyum tipis. "Ternyata kamu lebih cantik jika sedang tertidur." Gumam Ken pelan.
"Kenapa aku bisa tergila-gila kepadamu, Leteshia? Sihir apa yang sudah kamu berikan kepadaku?" Batin Ken tanpa melepaskan senyuman di wajanya yang tampan itu.
Perlahan tangan Ken mulai terulur berniat untuk mengangkat tubuh Leta, namun niatnya terhenti ketika Leta tiba-tiba saja membuka kedua bola matanya perlahan, menatap Ken dengan nyawa yang masih belum terkumpul sepenuhnya.
Ken tersenyum, kini tangannya kembali mengelus lembut pucuk kepala Leta. "Sudah bangun, sayang." Tanya Ken begitu lembut.
"Eh,,,, astaga... Kamu sedang apa?" Seru Leta yang kini nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya.
"Ken... Jangan menggodaku, aku tidak suka." Ucap Leta seraya bangkit dan duduk di atas sofa itu.
"Baiklah aku tidak akan menggodamu lagi, sayang. Aku hanya ingin membangunkanmu saja." Sahut Ken tanpa melepaskan senyuman di wajahnya yang tampan itu.
"Huh, dasar nyebelin. Emm apa kamu sudah selesai?" Tanya Leta sambil menatap wajah Ken yang terlihat tampan itu.
"Sudah, sayang. Makannya aku membangunkanmu tidur. Ayo aku antar kamu pulang, nanti keburu malam." Ucap Ken sambil berdiri di hadapan Leta.
"Baiklah, sebentar aku pakai sepatuku dulu." Sahut Leta seraya mengenakan sepatu Sneakersnya itu.
"Kenapa kamu membuka sepatumu, sayang?" Tanya Ken heran.
__ADS_1
"Karena tadi aku merasa tidak nyaman saat mau tidur, Ken. Makannya aku sengaja melepaskan sepatuku." Sahut Leta tanpa menatap Ken.
"Yasudah, sini biar aku membantumu untuk memakaikannya." Ken berjongkok kembali dan merairh sepatu Sneaker yang berada di tangan Leta.
"Tidak perlu, Ken. Aku bisa memakainya sendiri." Tolak Leta halus.
"Tidak perlu, sayang. Biarkan aku yang memakaikan sepatumu, dan kamu hanya perlu duduk manis saja, ok." Ucap Ken seraya mendongak menatap wajah cantik Leta.
"Emm.... Terserah kamu saja." Sahut Leta sedikit salah tingkah mendapat tatapan dari Ken itu.
"Astaga... Benarkan dia seorang Jarvis Kendrick Kyler yang terkenal dingin dan juga angkuh itu? Kenapa dia bisa bersikap seperti ini kepadaku? Apakah dia benar-benar tertarik kepadaku? Oh Tuhan... Baru kali ini ada yang memakaikanku sepatu, bahkan Raymond saja belum pernah." Batin Leta sambil menatap kagum dengan apa yang di lakukan oleh calon suaminya tersebut
"Sudah selesai, sayang. Ayo kita pergi." Ucap Ken sembari berdiri dan mengulurkan tangan kanannya kepada Leta.
"Terima kasih, Ken. Sebenarnya kamu tidak perlu melakukan ini untukku." Ujar Leta sedikit lembut.
"Tidak apa-apa, sayang. Aku senang melakukan ini untukmu. Yasudah ayo kita turun, Seth sudag menunggu kita di bawah." Ucap Ken tanpa melepaskan senyuman di wajahnya yang tampan itu.
Leta tersenyum, ia pun berdiri sambil meraih uluran tangan calon suaminya tersebut. Kali ini Leta sama sekali tidak menolak uluran tangan itu, bahkan genggaman tangan Ken terasa sangat hangat di tangannya.
Setelah itu keduanya pun mulai berjalan melangkahkan kedua kakinya pergi, namun baru saja beberapa langkah, tiba-tiba saja Leta menghentikan langkah kakinya ketika ia merasakan sakit di telapak kakinya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Ken ketika calon istrinya itu berhenti.
"Tidak tahu, tiba-tiba saja telapak kakiku sakit " Sahut Leta sedikit meringis.
"Biar aku periksa, sayang." Ucap Ken yang hendak berjongkok, namun di tahan oleh Leta.
"Tidak perlu, Ken. Lebih baik kita segera pergi dari sini, kasihan jika asistenmu menunggu kita terlalu lama." Tolak Leta lembut.
"Tapi jika kakimu kenapa-kenapa bagaimana, sayang? Sudahlah, biar aku periksa sebentar, ya." Ucap Ken sembari mengusap lembut wajah cantik Leta.
__ADS_1
"Yasudah, terserah kamu saja, Ken." Sahut Leta pasrah karena ia tahu sikap Ken yang kerasa kepala dan kekeh dengan pendiriannya itu. Ken perlahan berjongkok, lalu ia pun melepaskan Sneakers dari kaki Leta. Ken nampak terkejut ketika ia melihat darah yang keluar dari telapak kaki calon istrinya tersebut.
Bersambung.