Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Bab 18


__ADS_3

Restaurant Samudera.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, Leta sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya, ntah mengapa ia selalu teringat ucapan pamannya tadi pagi yang ingin mengajaknya berbicara setelah ia pulang kerja.


Leta benar-benar sangat penasaran dengan apa yang ingin pamannya bicarakan itu.


Drtt.... Drrt... Drrttt..


Tiba-tiba ponsel Leta bergetar menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang. Dengan segera Leta pun merogoh benda pipih itu dari dalam tas kecil miliknya, ia tersenyum saat melihat nama sang kekasih yang saat ini sedang menghubunginya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Leta pun langsung menggeser tombol berwarna hijau, lalu menempelkan benda pipih itu di telinga kanannya.


"Sayang, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Ray dengan nada suaranya yang selalu halus dan lembut.


"Sudah, Ray. Ini baru saja mau pulang." Jawab Leta diiringi dengan senyuman yang mengembang dari sudut bibirnya.


"Syukurlah kalau sudah selesai, kamu pulang bersama siapa?"


Leta menaruh ponselnya di atas meja, tak lupa ia juga mengaktifkan loudspeaker ponselnya. "Seperti biasa, sendiri." Sahut Leta sambil memakai jaket hitam yang selalu ia pakai saat mengendarai sepeda motornya.


"Bawa motor?" Tanya Ray membuat Leta terkekeh pelan, sepertinya kekasihnya itu lupa jika selama ia bekerja, ia selalu membawa motor pulang dan pergi sendirian.


"Apa kamu lupa, sayang. Bukankah setiap hari aku memang selalu bawa motor hmm." Seru Leta kembali mengambil ponselnya, lalu menonaktifkan loudspeakernya.


Terdengar helaan nafas berat dari ujung telpon sana membuat Leta langsung mengernyitkan keningnya.


"Ada apa? Kenapa kamu menghela nafas, Ray?" Tanya Leta lembut.


"Tidak apa-apa, sayang. Hanya saja aku khawatir sama kamu, aku takut kamu kenapa-kenapa, karena bawa motor sendirian, malam begini." Sahut Ray terdengar berat.


"Aku sudah biasa, Ray. Lagian! Ini baru pukul tujuh, jalanan masih sangat rame, jadi, kamu tidak mengkhawatirkan aku, ok." Ucap Leta berusaha untuk menenangkan kekasihnya itu.


"Tetap saja aku selalu khawatir sama kamu, sayang. Nanti setelah aku pulang, kamu keluar saja dari pekerjaanmu, sayang. Biar aku yang menanggung semua keperluanmu, ok." Seru Ray membuat Leta menghela nafasnya panjang.


"Tidak bisa, Ray. Aku ini masih kekasihmu, bukan istrimu. Bukankah tidak pantas kalau kamu memenuhi semua kebutuhanku, disaat aku masih berstatus sebagai kekasihmu." Sahut Leta masih dengan nada suaranya yang lembut.

__ADS_1


"Tapi, sayang....."


"Sudahlah, tidak perlu di bahas lagi, Ray. Sekarang aku mau pulang dan aku harap kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, ok." Sela Leta membuat Ray kembali menghela nafas beratnya di ujung telpon sana.


"Yasudah kalau begitu kamu hati-hati ya, sayang. Bawa motornya jangan ngebut-ngebut."


"Iya, aku mengerti. Yasudah aku tutup dulu ua telponnya." Jawab Leta sambil melangkahkan kedua kakinya menuju parkiran motornya.


"Iya, sayang. I Love you, honey."


"I love you to."


Setelah mengatakan hal itu, Leta pun langsung memutuskan sambungannya, ia menaruh kembali ponsel itu ke dalam tas kecil miliknya.


Leta mulai menyalakan mesin motornya, lalu, ia mulai mengemudikan kendaraan roda duanya dengan sangat hati-hati meninggalkan restauran tersebut.


Di tempat lain.


Setelah sang kekasih memutuskan sambungannya, Ray kembali menaruh ponselnya di atas nakas. Ia menghela nafasnya kasar sambil menatap langit-langit kamarnya. Bayangan wajah cantik sang kekasih selalu saja menghantui dirinya selama ini, jika bukan karena sang ayah, Ray sudah pasti tidak akan meninggalkan sang kekasih dulu.


"Leta, sebentar lagi kita akan bertemu, aku sudah sangat tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu, Leta." Lirih Ray, sambil memejamkan kedua bola matanya, berusaha untuk mengendalikan dirinya yang terlalu merindukan kekasih hatinya itu.


"Leta, aku sungguh tidak sabar untuk memberimu kejutan nanti, apakah kamu akan menerima lamaranku atau justru kamu akan menolaknya. Tapi, apapun keputusanmu, aku pasti akan menghormatinya. Tapi, aku berharap, kamu mau menerima lamaranku nanti, agar kita tetap bersama selamanya." Ucap Ray kembali membuka kedua matanya dan menatap langit-langit kamarnya.


Ray kembali menghela nafasnya panjang, lalu setelah itu, ia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Good nigth, honey. Semoga kamu hadir dalam mimpi indahku. I love you." Gumamnya saat ia ingin menutup kedua matanya.


Perlahan, Ray pun mulai memejamkan kedua matanya, rasa kantuknya muncul membuatnya langsung terlelap dalam hitungan detik.


***


Kediaman Georgy.


Leta sudah tiba di kediaman pamannya, ia pun segera memarkirkan kendaraan roda duanya, lalu turun dan berjalan memasuki kediaman pamannya tersebut.


Melihat Leta yang sudah pulang, pak Antonius pun langsung menyambutnya dengan hangat.

__ADS_1


"Leta, kamu sudah pulang."


"Iya, paman. Aku baru saja sampai." Jawab Leta selalu di iringi dengan senyumannya yang manis.


"Yasudah, kalau begitu kamu bersihkan dulu tubuhmu, nanti kamu turun, karena ada hal penting yang ingin paman bicarakan sama kamu." Ucap pak Antonius terlihat begitu serius membuat Leta kembali di landasi rasa penasarannya.


"Iya, paman. Yasaudah kalau begitu aku ke atas dulu, paman." Sahut Leta yang mendapat anggukkan kepala dari pamannya itu.


Leta pun kembali melangkahkan kedua kakinya menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarnya. Sementara pak Antonius, ia berjalan menuju sofa yang berada di ruang keluarga.


***


Setelah Leta selesai membersihkan dirinya, ia pun bergegas turun ke bawah menghampiri paman dan juga bibinya yang terlihat sedang asik mengobrol di ruang keluarga.


Leta berdiri di hadapan sang paman dan juga bibinya, membuat paman dan nuga bibinya langsung menghentikan obrolannya.


"Paman, apa yang mau paman bicarakan sama aku?" Tanya Leta sangat penasaran.


"Duduk dulu, nak." Perintah sang paman yang mendapat anggukkan kepala dari Leta.


"Jadi, apa yang ingin paman bicarakan sama aku?" Leta kembali bertanya setelah ia duduk si atas sofa.


Pak Antonius mulai menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan.


"Jadi begini, Leta. Perusahaan paman akhir-akhir ini mengalami sedikit masalah, dan mungkin saja perusahaan paman sebentar lagi akan bangkrut." Pak Antonius menjeda ucapannya sejenak, kemudian ia berkata kembali.


"Saat ini hanya perusahaan Kendrick Group lah yang dapat membantu perusahaan paman. Dan paman ingin kamu membantu paman, Leta."


Leta mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


"Aku? Bagaimana aku bisa membantu paman?" Tanya Leta bingung. Ia sama sekali tidak mengerti soal bisnis, lalu bantuan apa yang di inginkan oleh pamannya itu.


"Jadi begini, Leta. Pemilik perusahaan Kendrick Group mau bekerja sama dengan perusahaan paman, tetapi ada syarat yang harus paman setujui, yaitu menikahkan dia dengan kamu. Paman mohon sama kamu, Leta. Tolong bantu paman dan menikahlah dengannya." Ucap pak Antonius langsung pada intinya.


Leta langsung terdiam seribu bahasa, ia begitu terkejut ketika mendengar ucapan pamannya itu. Leta sama sekali tidak menyangka jika hal penting yang ingin di bicarakan oleh pamannya itu adalah tentang pernikahaan dirinya dengan seseorang yang Leta sendiri itdak kenal.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2