
Seth yang sedari tadi berada di belakang mereka pun, langsung ikut masuk ke dalam lift tersebut, tak lupa ia juga menekan tombol liftnya, lalu mundur dan berdiri di pojokkan seperti anak tiri.
"Lepaskan tanganku, tuan. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan kabur kemana-mana." Leta kembali meminta calon suaminya untuk melepaskan genggaman di tangannya, namun bukannya melepaskan genggamannya, Ken justru semakin mengeratkan genggamannya.
"Tidak akan! Aku sudah sangat nyaman menggenggam tanganmu." Sahut Ken terdengar sangat amat lembut.
"Tapi, aku merasa tidak nyaman, apalagi disini masih ada asistenmu." Ucap Leta jujur. Ia memang merasa tidak nyaman.
"Anggap saja dia patung." Sahut Ken membuat Seth kesal.
"Terserah anda saja, bos." Batin Seth sambil menatap lurus ke depan.
"Mana mungkin... " Ucapan Leta tercekat di tenggorokkan.
"Diamlah, atau aku akan menciummu di sini!" Ucap Ken menyela ucapan calon istrinya itu.
Leta langsung terdiam, dengan satu tangan menutup mulutnya.
"Dasar mesum nyebelin." Batin Leta kesal.
Melihat Leta yang terdiam membuat Ken tersenyum senang, gadisnya itu baru di ancam begitu saja, langsung menciut seperti seekor kelinci yang sedang berhadapan dengan seekor serigala.
"Leteshia. Apa kamu tahu betapa bahagianya aku saat ini. Aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari sisiku, dan aku bersumpah, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku secepatnya." Batin Ken sambil menatap lekat wajah cantik wanita yang di cintainya sekaligus calon istrinya tersebut.
Leta yang merasa mendapatkan tatapan dari calon suaminya pun menjadi sedikit salah tingkah, apalagi tatapan mata yang di berikan oleh calon suaminya itu begitu dalam, semakin membuat dirinya salah tingkah.
"Ya, Tuhan. Kenapa dari tadi dia menatapku terus? Apakah ada yang aneh dengan wajahku? Ah sepertinya tidak. Lalu! Mengapa dia selalu menatapku?" Batin Leta sambil berusaha untuk bersikap seperti tadi.
Ken sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari wajah cantik sang pujaan hati, bahkan sampai lift itu tiba di lantai atas, (dimana ruangannya berada), Ken masih saja menatap wajah cantik calon istrinya tersebut.
"Apa kita sudah sampai?" Tanya Leta ketika pintu lift itu terbuka. Namun pertanyaan itu ia lontarkan kepada Seth yang sedari tadi berdiri di pojokkan.
__ADS_1
"Apa kamu sudah buta? Calon suamimu ada di sini, kenapa kamu malah bertanya sama dia?" Seru Ken kesal.
"Siapa suruh kamu menatapku terus, aku pikir kamu berubah menjadi patung." Gumam Leta pelan, namun masih dapat di dengar oleh Ken.
"Sudahlah, ayo kita keluar." Ucap Ken sambil menarik tangan Leta dan melangkahkan kedua kakinya keluar dari lift tersebut. Leta hanya dapat pasrah dan mengikuti calon suaminya dari belakang.
Seth yang sedari tadi di anggap patung pun seketika menggunakan jurus kaki seribu langkah dan melesat mendahului bosnya membuat Ken dan juga Leta sedikit terkejut, keduanya menatap Seth yang kini sudah berada di depan pintu berwarna cokelat tua itu.
"Silahkan bos, nona." Ucap Seth saat ia sudah membuka pintu cokelat itu lebar.
"Terima kasih." Sahut Leta sambil memperlihatkan senyumannya yang manis membuat Ken langsung mendengus kesal.
"Kenapa kamu tersenyum sama dia? Apakah kamu menyukainya?" Ucap Ken sebelum Seth membuka mulutnya untuk menjawab ucapan terima kasih calon istri bosnya tersebut.
"Astaga... Kenapa pikiranmu pendek sekali? Apakah jika aku tersenyum itu tandanya aku menyukainya?" Seru Leta sambil menggelengkan kepalanya.
"Hmm. Kamu tidak di perbolehkan tersenyum sama siapapun kecuali sama aku. Mengerti." Tegas Ken sambil menarik tangan calon istrinya dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.
"Itu karna kamu selalu membuatku kesal." Sahut Leta seadanya.
"Ohh! Jadi, bagaimana agar aku tidak membuatmu kesal?" Tanya Ken sambil mendudukkan tubuh Leta di atas sofa.
"Mudah saja." Jawab Leta enteng.
"Katakanlah." Ucap Ken sangat lembut.
"Kau tinggal batalkan pernikahan ini." Seru Leta membuat raut wajah Ken berubah seketika.
"Jangan bermimpi!" Ucap Ken dingin.
"Apakah kamu ingin memajukan pernikahan ini, menjadi besok?" Tanya Ken membuat Leta langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak."
"Kalau tidak mau, maka diamlah dan jangan pernah memintaku untuk membatalkan pernikahan ini. Mengerti. "Ucap Ken dengan tegas.
"Diam ya diam saja, tidak usah pasang wajah seperti itu, menyebalkan sekali." Gerutu Leta sambil mengalihkan pandangannya ke arah sudut ruangan calon suaminya itu.
"Apa kamu bilang!" Seru Ken sambil menatap calon istrinya itu.
"Aku tidak bilang apa-apa." Jawab Leta sambil membalas tatapan calon suaminya itu.
"Hmmm terus kamu membawaku kesini untuk apa? Bukankah kamu banyak kerjaan yang harus kamu urus?" Tanya Leta mengalihkan pembicaraannya.
"Tentu saja untuk menemaniku bekerja, atau kita bisa melakukan hal lainnya." Sahut Ken membuat Leta kembali kesal.
"Aku tidak punya waktu untuk menemanimu tuan muda yang terhormat, jadi biarkan aku pergi."
"Sudah ku bilang, kau harus patuh dengan ucapanku, jika tidak maka..." Belum sempat Ken menyelesaikan ucapannya, Leta sudah menyela dengan intonasinya yang tinggi.
"Baiklah,, baiklah terserah kau saja."
"Bagus! Sekarang kau duduk yang manis disini, jangan pernah berpikir untuk pergi dari ruanganku. Mengerti honey." Ucap Ken kembali ke nada suaranya yang lembut dan halus. Tak lupa senyumannya yang manis kembali menghiasi wajah tampannya.
"Mengerti, tuan muda yang terhormat."
"Panggil aku sekali lagi dengan sebutan itu, maka kamu akan tahu akibatnya." Bisik Ken membuat bulu kuduk Leta meremang.
Leta langsung terdiam tanpa membalas ucapan calon suaminya itu, Ken yang melihatnya pun langsung tertawa sambil mengelus pucuk kepala Leta lembut. "Aku kerja dulu, baik-baik di sini ya." Setelah mengatakan hal itu, Ken pun langsung melangkahkan kedua kakinya menuju kursi kebesarannya.
"Dasar menyebalkan.".Gumam Leta sambil menatap kepergian calon suaminya itu.
Bersambung.
__ADS_1