Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Bab 41


__ADS_3

"Tidak, Leta. Pernikahan itu pasti bisa di batalkan. Bila perlu sekarang aku akan segera datang dan menemui pamanmu... "


"Dengarkan aku, Ray. Pernikahan ini akan di adakan dua minggu lagi. Seberapa pun kita berusaha untuk membatalakn pernikahan ini, kita tetap tidak akan bisa, Ray. Jadi, aku harap kita akhiri hubungan kita, sekarang l. Aku tidak ingin membuatmu semakin menderita lagi, Ray. Maafkan aku." Seru Leta menyela ucapan sang kekasih.


"Tidak, Leteshia. Aku tidak bisa membiarkanmu menikah dengan laki-laki lain, aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu, Leteshia. Aku mohon jangan seperti ini." Ucap Ray terdengar frustasi membuat air mata Leta kembali terjatuh dengan sendirinya.


"Sekarang, aku akan datang ke rumah pamanmu, aku akan membicarakan masalah ini sama pamanmu, aku yakin pamanmu pasti akan...."


"Percuma Ray, kamu tidak akan bisa membatalkan pernikahanku dengan pemilik perusahaan itu. Jadi, kita akhiri saja hubungan kita sekarang. Maafkan aku, karena aku tidak bisa menepati janji kita. Aku mencintaimu, tetapi, takdir tidak mengizinkan kita untuk bersatu. Terima kasih karena kamu sudah hadir dalam kehidupanku."


Setelah mengatakan hal itu, Leta pun langsung memutuskan sambungannya, ia menaruh kembali ponselnya di atas tempat tidur. Air matanya kembali jatuh membasahi wajah cantiknya. Hatinya terasa sangat sakit, batinnya hancur.


"Maafkan aku, Ray. Mungkin ini memang jalan terbaik untuk kita berdua. Aku harap kamu dapat menerima semua ini, Ray. Aku mencintaimu." Batin Leta sambil menghapus air matanya. Seberapa pun ia berusaha untuk tidak meneteskan air matanya, namun ia tetap tidak bisa. Pada akhrinya ia pun kembali menangisi takdirnya yang menyakitkan itu.


***


Ray mengacak rambutnya frustasi, ia tidak bisa menerima jika gadis yang begitu ia cintai akan menikah dengan laki-laki lain. Hatinya terasa hancur, sehancur-hancurnya.

__ADS_1


"Tidak Leta. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan laki-laki itu, aku harus pergi ke kediaman Georgy sekarang juga." Batin Ray sambil beranjak dari tempat tidurnya, lalu berjalan keluar dari kamarnya.


"Leteshia. Sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkanmu menikah dengan laki-laki itu. Aku pasti dapat membatalkan pernikahan sialan itu." Ray kembali membatin sambil mempercepat langkah kakinya menuruni anak tangga.


"Ray! Kamu mau kemana? Ini sudah malam." Tanya papa Ray yang baru saja beranjak dari sofa.


"Aku akan keluar sebentar, pah." Sahut Ray tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Keluar kemana, Ray?" Tanya sang papa penasaran.


"Kediaman Georgy. Sudah ya pah, aku buru-buru."


Setelah mengatakan hal itu, Ray pun kembali melangkah kedua kakinya menuju pintu depan. Papa Ray hanya menatapnya sambil mengerutkan keningnya bingung, tidak biasanya putranya itu pergi dengan terburu-buru seperti barusan.


"Ada apa dengan bocah itu? Mengapa dia pergi buru-buru seperti itu? Apakah ada sesuatu yang sedang terjadi? Ah sudahlah sebaiknya nanti aku tanyakan saja saat dia pulang." Ucap papa Ray yang tak lain adalah Geraldi pemilik perusahaan RG group, salah satu perusahaan yang cukup besar di kotanya. Perusahaan yang nantinya akan jatuh ke tangan Raymond, putra satu-satunya itu.


***

__ADS_1


Ray melajukan kendaraan roda empatnya dengan sangat cepat menuju kediaman Georgy. Tidak peduli pada waktu yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, waktunya untuk orang isitrahat, namun dirinya nekat bertamu malam-malam demi memperjuangkan sang pujaan hatinya, agar tidak menikah dengan laki-laki lain.


Hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam, Ray pun tiba di kediaman Georgy. Pak satpam segera menghampiri pintu gerbang itu saat melihat kedatangan dirinya.


Ray langsung membuka kaca mobilnya, ia tersenyum kepada di pak satpam tersebut.


"Malam, pak. Boleh bukakan pintu gerbangnya. Saya ada perlu dengan om Antonius." Ucap Ray ramah.


Pak satpam itu mengangguk pelan, kemudian ia pun segera membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Ray untuk masuk.


"Silahkan mas Ray." Ucap si pak satpam yang memang sudah mengenali Ray sebelum Ray pergi keluar negeri.


"Terima kasih pak." Sahut Ray yang mendapat anggukkan kepala dari si pak satpam itu.


Ray pun kembali menutup kaca mobilnya, lalu melajukan kendaraan roda empatnya memasuki kediaman Georgy.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2