
Keesokan Harinya.
Gedung Pernikahan Ken dan Leta.
Leta dan juga keluarga pamannya sudah berada di salah satu gedung mewah, tempat dimana pernikahan Leta dan Ken di adakkan. Terlihat Leta sudah mengenakan gaun pengantin berwarna putih pilihan calon suaminya tersebut.
Leta menatap dirinya dari balik cermin, ia tersenyum kecut melihat wajahnya sendiri yang terlihat sangat menyedihkan. "Semalam aku masih berharap ini adalah sebuah mimpi, tapi ternyata tidak. Hari ini benar-benar hari pernikahanku dengan Ken, dan aku tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi." Ucap Leta di iringi dengan helaan nafasnya.
"Kamu, benar-benar sangat cantik sayang." Tiba-tiba saja seorang laki-laki tampan yang tak lain adalah Ken memeluk tubuh Leta dari belakang membuat gadis itu tersentak kaget.
"Ken lepaskan. Kenapa kamu sudah berada di sini? Bukankah acara pernikahannya di mulai pukul sembilan?" Tanya Leta sembari menatap Ken melalui cermin itu dan berusaha untuk melepaskan tangan laki-laki itu yang kini melingkar di pinggang rampingnya.
"Memangnya kenapa kalau aku sudah berada disini? Apakah kamu merasa sangat keberatan, sayang?" Ken berbisik di telinga Leta, membuat bulu kuduk Leta meremang seketika. Padahal Ken hanya sekedar bertanya saja, namun entah mengapa Leta merasa aneh dan merinding. Mungkinkah itu karena Ken sengaja menghembuskan nafasnya di telinga Leta? Ah entahlah.
"Emm tidak. Itu hak kamu mau datang jam berapa pun, lagian aku juga tidak bisa melarangmu kan." Sahut Leta berusaha menjauhkan dirinya dari calon suaminya tersebut. "Emm, bisakah kamu melepaskan aku? Aku merasa tidak nyaman seperti ini." Sambung Leta sedikit kesal karena tangan laki-laki ini sama sekali tidsk mau lepas dari pinggang rampingnya itu.
Ken tersenyum, ia pun dengan sengaja mengecup leher putih Leta, lalu melepaskan tangannya dari pinggang Leta. "Baiklah, aku akan mengalah hari ini. Jadi, kamu jangan kesal lagi ya sayang. Nanti aku bisa khilaf." Ucap Ken dengan membisikkan kata di belakangnya.
"Kamu!!! Dasar mesum. Sebaiknya kamu keluar sekarang." Ucap Leta setengah berteriak. Ia sungguh tidak menyangka jika Ken akan mengecup lehernya yang putih itu. Untunglah Ken hanya sekedar mengecupnya saja dan tidak meninggalkan bekas di leher putihnya itu.
"Kamu mengusirku sayang?" Tanya Ken seraya membalikkan tubuh Leta agar berhadapan dengannya langsung, kemudian ia menatap gadis itu dari jarak yang sangat dekat.
"Ok baiklah, aku akan keluar sekarang." Ken menjeda ucapannya, ia mulai menarik nafasnya dalam lalu mengeluarkan secara perlahan, kemudian ia pun tersenyum aneh. "Aku jadi tidak sabar ingin memakanmu, sayang." Bisik Ken membuat raut wajah Leta memerah seketika. Setelah membisikkan itu, Ken pun mulai melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan calon istrinya tersebut.
"KENNNN!!! KAMU SUNGGUH SANGAT MENYEBALKAN." Teriak Leta membuat Ken terkekeh pelan. Ken terus berjalan ia sama sekali tidak memperdulikan teriakan calon istrinya tersebut.
"Aaarghhh kenapa dia selalu membuatku kesal. Dasar bunglon mesum." Gumam Leta sembari mengatur deru nafasnya.
***
Pernikahan akan segera di mulai. Para tamu undangan pun sudah memenuhi aula pernikahan tersebut. Terlihat Ken sudah berdiri di dampingi oleh sang mama, dan juga Seth yang selalu berada di samping kirinya.
Ken terlihat begitu tampan dengan setelan jas berwarna hitam, berpadu dengan kemeja putih di dalamnya, tak lupa juga dasi kupu-kupu yang bertengger di lehernya.
Mama Natasha tersenyum menatap putra semata wayangnya itu. "Bagaimana perasaanmu, sayang? Apakah kamu bahagia?" Tanya sang mama dengan lembut dan halus.
"Tentu saja, mah. Aku sangat-sangat bahagia, karena hati ini adalah hari yang aku tunggu selama ini." Jawab Ken tanpa melepaskan senyuman di wajahnya yang tampan itu.
Mendengar hal itu tentu saja membuat mama Natasha tersenyum bahagia, karena pada akhirnya sang putra menemukan kebahagiaan dengan tangannya sendiri.
"Syukurlah kalau kamu bahagia, mama pun ikut bahagia sayang." Ucap mana Natasha sembari mengusap bahu putranya tersebut. "Pengantin wanitanya sudah datang, bersiap-siaplah sayang." Sambung mama Natasha ketika ia melihat Leta bersama pamannya sedang berjalan menuju ke arahnya.
Ken tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, ia menatap Leta dengan kedua bola matanya yang terlihat begitu bahagia, senyumannya terus terpampang di wajahnya yang tampan itu membuat para tamu yakin jika Ken benar-benar sangat mencintai calon istrinya tersebut.
Ken mengulurkan tangannya ketika Leta sudah berada di hadapannya, gadis itu menatap Ken sesaat lalu setelah itu, ia pun menyambut uluran tangan calon suaminya tersebut. Lalu setelah itu keduanya pun berjalan dan berdiri di hadapan pastor yang akan memberkati pernikahan keduanya.
"Sudah siap?" Tanya sang pastor kepada Leta dan juga Ken. Ken mengangguk dengan cepat, begitupun juga dengan Leta. Dan pada akhirnya acara pernikahan itu pun segera di mulai.
***
Setelah pemberkatan itu selesai, para tamu undangan pun langsung menghampiri Ken, Leta dan juga mama Natasha. Mereka semua bersalaman dan memberikan selamat atas pernikahannya Ken dan juga Leta. Banyak para pejabat tinggi, serta rekan bisnis Ken yang menghadiri acara pernikahannya tersebut.
"Selamat pak Ken atas pernikahan anda, semoga langgeng sampai tua nanti."
"Terima kasih pak Dimas atas kehadiran dan juga ucapannya."
"Selamat pak Ken."
"Terima kasih pak Angga."
__ADS_1
"Selamat pak Ken, semoga pernikahan kalian langgeng."
"Terima kasih pak Rendi."
Begitulah ucapan-ucapan selamat yang di berikan oleh para pejabat, rekan bisnis, serta tamu yang lainnya. Leta terlihat mulai lelah, is sesekali menghentakkan kakinya yang terasa pegal itu.
"Kenapa sayang? Apakah kamu lelah?" Tanya Ken sangat peka.
"Hmm."
"Baiklah kalau begitu kita istirahat dulu ya." Ucap Ken begitu lembut.
"Tapi bagaimana dengan para tamunya?" Tanya Leta sembari menatap para tamu yang terus berdatangan ke acara pernikahannya itu.
"Tidak apa-apa sayang. Kamu sama Ken beristirahatlah, persiapkan diri kalian untuk acara nanti malam." Ucap mama Natasha yang kebetulan mendengar percakapan putra dan menantunya tersebut.
"Terima kasih tante." Sahut Leta lembut.
"Ko masih manggil tante sih, mama dong sayang, sekarang kan kamu sudah menjadi menantu mama." Ucap mama Natasha seraya mengelus bahu Leta lembut.
"I-iya mah." Jawab Leta sedikit canggung membuat mama Natasha terkekeh pelan.
"Kalau begitu, aku sama Leta istirahat dulu ya mah." Pamit Ken yang mendapat anggukkan kepada dari mama Natasha. Setelah itu keduanya pun mulai melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan aula pernikannya.
***
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, terlihat Galang sudah berada di aula pernikahan sahabatnya tersebut. Ia celingukan mencari sosok sahabatnya itu, namun sayangnya ia sama sekali tidak menemukan keberadaannya.
"Cari siapa kamu, Galang?" Tanya mama Natasha dengan tiba-tiba membuat Galang tersentak kaget.
"Astaga tante, bikin aku kaget saja. Oh iya tan, di mana Ken, aku cari kok tidak ada." Tanya Galang tanpa basa-basi.
"Aku lupa, tan. Bagaimana kabar tante?" Barulah Galang bertanya sembari memperlihatkan senyuman di wajahnya.
"Tante baik-baik saja. Kamu sama siapa ke sini?"
"Syukurlah kalau tante baik-baik saja. Aku sama Stela tan, tapi dia sedang ke toilet dulu." Sahut Galang kembali celingukan.
"Oh yasudah kalau begitu kamu nikmati saja pestanya ya. Tante mau nyapa para tamu yang lainnya dulu." Ucap mama Natasha yang mendapat anggukkan kepala dari Galang. Setelah itu mama Natasha pun langsung pergi meninggalkan Galang untuk menyapa para tamu undangan lainnya.
Tidak lama kemudian, Stela pun datang menghampiri Galang. Gadis itu nampak sangat cantik me gunakan gaun berwarna merah yang sangat cocok untuk kulitnya yang putih bersih.
"Kenapa lo sendirian? Dimana Ken?" Tanya Stela sembari bersedekap menatap Galang.
"Mana gue tahu." Sahut Galang singkat.
"Aaarghh, menyebalkan. Seharusnya gue yang jadi istri Ken, bukan perempuan sialan itu." Stela mulai menggerutu kesal membuat Galang langsung menatap dirinya.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, Stela. Nanti jatuhnya sakit." Ucap Galang tanpa memperdulikan raut wajah Stela yang terlihat kesal ketika mendengar ucapannya barusan.
"Lo benar-benar nyebelin. Dasar playboy cap gayung." Sungut Stela mengejek.
"Wah lo mulai memancing emosi gue ya. Mohon maaf gue tidak suka berdebat sama perempuan. Lo ajak saja tembok itu untuk berdebat sama lo." Ucap Galang sembari menunjuk ke arah tembok.
"Galang brengsek! Gue juga tidak mau berdebat sama bajingan kecil seperti lo." Seru Stela semakin kesal.
"Hey siapa yang lo sebut bajingan kecil? Punya gue besar, apa lo mau melihatnya?" Ucap Galang dengan kedipan matanya yang nakal.
"Ckkk.... Tidak sudi. Lo liatin saja sama kambing betina."
__ADS_1
"Oh tidak masalah, asalkan kambing betinanya mirip seperti dirimu." Ucap Galang dengan santai. Sementara Stela terlihat mengepalkan satu tangannya dengan tatapan mata yang mematikan.
Setelah perdebatan itu selesai, kini tatapan mata Galang tertuju pada wanita cantik yang sedang berjalan bersama sahabatnya Ken.
"Diakan wanita itu. Kenapa dia bisa bersama Ken?" Batin Galang bertanya-tanya sembari menatap lekat wajah cantik Leta.
"Tatapan macam apa itu? Apakah dia sudah bosan hidup? Sialan, berani sekali dia menatap istriku seperti itu." Batin Ken ketika ia melihat tatapan mata yang di berikan Galang kepada istrinya tersebut.
"Ekhmm... " Ken berdehem keras membuat Galang seketika tersadar dari lamunannya. Galang terlihat menyunggingkan senyumannya, namun bukan kepada Ken, melainkan kepada Leta.
"Hay, perempuan aneh, kita bertemu lagi." Galang menyapa Leta dengan gembira, sementara Leta terlihat mengerutkan keningnya bingung. Karena ia sama sekali tidak mengingat Galang, laki-laki yang pernah bertemu dengan dirinya itu.
"Galang! Apa maksud lo manggil istri gue dengan sebutan perempuan aneh? Lo udah bosan hidup ya." Ucap Ken dengan nada suaranya yang dingin membuat Galang langsung menatap ke arahnya.
"Jadi perempuan aneh ini istrimu? Astaga... Kenapa takdir sangat menyebalkan." Tukas Galang seraya mengusap wajahnya kasar, membuat Ken bingung.
"Ya, dia istri gue. Makannya lo harus menjaga sikap dan mata lo itu. Atau gue akan mencokel dan menggantinya dengan mata buaya. Mengerti." Ucap Ken dengan tegas membuat Galang sedikit ngeri.
"Ekhmm... Selamat ya Ken atas pernikahannya, semoga kalian di berikan kebahagiaan yang berlimpah." Kini Stela mulai mengeluarkan suaranya dan berdiri di harapan Ken dan juga Leta.
"Ya terima kasih atas doanya." Jawab Ken masih dengan nada suaranya yang dingin itu. Stela hanya mengangguk dan tersenyum, ia pun kemudian mundur satu langkah ke belakang. Rasanya ia sangat tidak rela melihat laki-laki yang di cintainya itu berdiri bersama wanita lain. Sungguh membuat Stela muak, namun ia juga harus tetap menjaga imagenya.
"Lo tidak mengucapkan selamat sama gue?" Tanya Ken kepada Galang yang kini sedang terdiam dengan sorot mata yang aneh.
"Sabar bos, gue baru mau ngucapin selamat." Sahut Galang sambil menatap sahabatnya kesal. "Selamat atas pernikahan lo, semoga lo selalu bahagia dan mencintai pasangan lo seumur hidup lo." Sambung Galang seraya mengulurkan tangannya kepada Ken.
"Hmm terima kasih. Gue pasti akan selamanya mencintai istri gue, bahkan sampai matipun gue akan tetap mencintainya." Sahut Ken sembari mengecup kening Leta di hadapan Galang Dan juga Stela.
"Sialan si Ken. Dia sengaja melakukan ini di hadapan gue, sungguh menyebalkan." Batin Galang semakin kesal. Sementara Stela terlihat mengepalkan satu tangannya dengan sorot mata yang mulai berubah.
"Nikmatilah pestanys, gue mau kesana dulu." Ucap Ken yang mendapat anggukkan kepala dari Galang. Setelah itu Ken dan juga Leta pun berlalu pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Galang dan juga Stela.
"Sungguh tragis sekali nasib lo Galang. Jatuh cinta pada istri sahabat lo sendiri. Aaarghhh sialan!" Batin Galang sembari menatap Leta dari kejauhan.
***
Acara pernikahan telah selesai, semua para tamu pun sudah pergi meninggalkan aula tersebut. Saat ini Leta dan juga Ken sedang berada di dalam kamar yang sudah di decor dengan sangat indah. Kedua manusia berbeda jenis kelamin itu nampak terdiam sambil duduk di atas ranjang.
Leta terlihat menguap, rasa kantuk mulai menyerang dirinya namun ia sangat takut untuk berbaring di atas tempat tidur itu. Apalagi ketika ia melihat tatapan mata Ken saat ini, sungguh mengerikan sekali.
"Kamu ngantuk?" Tanya Ken mulai mengeluarkan suaranya.
"Hmmm sedikit." Sahut Leta pelan.
"Istirahatlah, tapi kamu harus mengganti gaunmu dulu." Ucap Ken sembari mengusap lembut wajah Leta.
"Tidak, besok saja aku menggantinya. Sekarang aku,,, aku mau tidur. Kamu,,,, kamu jangan melakukan hal aneh kepadaku." Jawab Leta sedikit gugup.
"Kamu tenang saja aku tidak akan memangsamu malam ini, tapi apakah kamu akan merasa nyaman tidur dengan gaunmu itu?" Tanya Ken sembari menatap Leta dengan lekat.
"Ya, aku merasa nyaman-nyaman saja." Jawab Leta mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang tersebut. Karena Leta benar-benar merasa sangat ngantuk dan sangat lelah, dalam sekejap ia sudah menutup kedua bola matanya itu. Ken yang melihatnya pun tersenyum, lalu ia mengusap pucuk kepala Leta dan memberikan kecupan mesranya di kening istrinya tersebut.
"Dasar gadis keras kepala. Cepat sekali kamu tertidur." Gumam Ken tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Leta.
"Terima kasih Tuhan, karena Engkau sudah menyatukan kita berdua. Meskipun istriku belum mencintai diriku, tetapi aku yakin suatu saat nanti dia pasti bisa mencintaiku sepenuhnya dan melupakan cinta pertamanya itu." Lirih Ken sambil menikmati pemandangan indah yang berada di hadapannya itu.
(TAMAT)
Buat kalian yang penasaran dengan kisah cinta setelah pernikahan Ken dan Leta, nantikan Season 2 nya ya. Thanks buat kalian yang sudah mengikuti cerita iniπππ
__ADS_1