
Di tempat lain.
Stela sengaja datang ke perusahaan Kendrick Group. Ia berjalan dengan ciri khasnya yang elegant namun terkesan angkuh dan juga sombong, seolah-olah dialah wanita yang paling cantik dan seksi. Para karyawan saling berbisik satu sama lain, banyak di antara mereka yang tidak menyukai kedatangan Stela, namun Stela sama sekali tidak memperdulikan hal itu, ia terus saja berjalan menuju lift khusus untuk di gunakan oleh bos perusahaan Kendrick Group.
Stela langsung menekan tombol lift itu, kemudian ia masuk ke dalamnya. Setelah itu, Stela pun kembali menekan tombol lift itu, membuat pintu lift itu tertutup rapat.l dan membawanya menuju lantai di mana ruangan Ken berada.
"Siapa perempuan itu, mengapa dia menaiki lift yang di khususkan untuk pak Ken? apa dia kekasihnya pak Ken?" Salah satu karyawan bernama Mia bertanya-tanya sendirian.
"Ngapain bengong di sini? Nanti kesambet loh." Ucap Reni temannya Mia.
"Astaga, lo tuh ngagetin gue tahu gak sih."
"Sorry. Lagian, lo ngapain sih bengong di sini?" Tanya Reni penasaran.
"Tadi ada perempuan naik lift khusus untuk pak Ken, kira-kira dia siapa, ya? Apa dia kekasihnya pak Ken?"
"Ntahlah, gue tidak melihatnya. Lagian, mau dia kekasihnya pak Ken atau bukan, apa urusannya sama lo. Mendingan kita balik kerja lagi, ok." Ucap si Reni yang memang tidak melihat Stela, karena saat tadi ia sedang berada di toliet.
"Hmmm gue cuma penasaran saja. Memangnya gak boleh." Gerutu Mia yang hanya di tanggapi kekehan oleh Reni.
***
Pintu lift terbuka ketika tiba di lantai paling atas. Stela segera keluar dari lift tersebut dan berjalan menuju ruangan Ken, dan tanpa sengaja ia berpapasan dengan Ana yang kebetulan baru saja keluar dari ruangan bosnya itu.
"Cih... Perempuan ini lagi, mau apa dia kemari? Dia pasti mau menggoda pak Ken, lihat saja penampilannya seperti itu. Sangat menjijikkan." Batin Ana seraya menatap Stela sinis.
"Selamat pagi nona Stela. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa Ana langsung merubah ekpresi di wajahnya menjadi ramah.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa pergi ke ruangan Ken tanpa bantuan darimu." Jawab Stela angkuh.
"Mohon maaf nona Stela, sepertinya pak Ken sedang sibuk, dan beliau tidak bisa di ganggu." Ucap Ana masih menampilkan wajahnya yang ramah.
"Aku tidak perduli. Lebih baik kau minggur, jangan menghalangi jalanku, mengerti." Sahut Stela dengan kesal.
" Sialan, beraninya dia menghalangi jalanku, lihat saja nanti, kalau aku berhasil mendapatkan hati Ken, aku pasti akan menyuruh Ken memecatnya dan mengirimkannya ke Afrika." Batin Stela sambil menatap sinis Ana.
"Maafkan saya nona Stela, saya tidak bisa membiarkan anda masuk ke dalam, karena kalau anda masuk dan mengganggu bos saya, maka saya yang akan di marahi oleh bos saya, nona." Ucap Ana kembali menghalangi jalan Stela, membuat Stela semakin kesal.
"Itu urusanmu, lebih baik kau minggir sekarang!" Seru Stela menaikan volume suaranya.
"Maafkan saya nona Stela, saya lebih baik menghadapi anda, daripada saya harus menghadapi bos saya yang dingin itu." Ucap Ana tidak ingin ambil resiko, karena jika bosnya sudah marah, itu akan sangat menakutkan.
Mendengar ucapan Ana membuat darah dalam diri Stela naik seketika, wajah Stela terlihat memerah, tangan kanannya terkepal dengan kuat. Stela perlahan berjalan mendekati Ana, ia tersenyum sinis, lalu mendorong tubuh Ana hingga membuat Ana tersungkur di lantai.
"Sudah gue bilang untuk minggir, dasar sekertaris sialan." Ucap Stela sambil menatap Ana dengan sinis. Lalu setelah itu, Stela pun kembali berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju ruangan Ken.
Sementara itu, Stela sudah tiba di depan pintu ruangan Ken, ia langsung mengetuk pintu itu tanpa harus menunggu lama.
Tok...tok...tok...
"Masuk." Perintah Ken dari dalam.
Dengan senyuman yang mengembang, Stela pun membuka pintu ruangan itu dan berjalan masuk ke dalam. Stela tersenyum ketika ia melihat Ken yang terlihat sedang sibuk memeriksa berkas-berkasnya dengan serius.
"Ternyata kamu memang sedang sibuk, Ken." Ucap Stela seraya menghampiri Ken dan berdiri di hadapan meja kerja Ken.
__ADS_1
Ken langsung mendongak, ia menatap Stela tidak suka. "Ada apa kamu datang kemari?" Tanya Ken dingin.
"Aku terlalu merindukanmu, Ken. Makannya aku sengaja datang ke sini untuk bertemu denganmu." Sahut Stela seraya duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Ken.
"Pergilah, aku sedang sibuk." Perintah Ken tetap dingin.
"Ken, please! Aku hanya ingin bertemu denganmu, dan aku sangat-sangat merindukanmu." Ucap Stela tidak ingin pergi dari ruangan itu.
"Aku tidak perduli. Sekarang, kamu pergi, sebelum aku melemparmu keluar." Tegas Ken sambil menatap Stela dengan tajam.
"Mengapa kamu bersikap seperti ini, Ken? Aku hanya ingin bertemu dan mengobrol denganmu, tapi, kenapa kamu selalu bersikap dingin kepadaku?" Ucap Stela sambil memperlihatkan wajahnya yang sedih, sengaja ingin menarik simpati dari Ken.
"Dari dulu pun, aku selalu seperti ini, Stela. Keluarlah." Pinta Ken tanpa mengubah nada suaranya yang dingin.
"Satu lagi, jangan pernah datang ke perusahaanku atau pun ke rumah orang tua kulagi. Mengerti." Sambung Ken membuat Stela langsung mengepalkan satu tangannya di bawah sana.
"Ken, apakah kamu tahu, kalau aku sangat mencintaimu. Dan aku ingin hidup bersamamu, Ken." Ucap Stela lembut berharap Ken mau membuka sedikit hatinya.
"Oh terina kasih, karena kamu sudah mencintaiku. Stela. Tapi sayangnya aku tidak mencintaimu, dan sebentar lagi aku akan menikah. Jadi, lebih baik kamu pergi dari ruanganku, sekarang juga." Ken berkata dengan nada suaranya yang semakin dingin. Bahkan sorot matanya pun semakin tajam.
"Aku tidak perduli, Ken. Kalaupun aku harus menjadi simpananmu, aku bersedia. Asalkan aku bisa hidup bersamamu selamanya." Ucap Stela dengan sorot mata yang memohon membuat Ken semakin muak.
Oh, tapi aku tidak mau, karena aku sangat mencintai calon istriku, jadi berhenti bersikap ****** dan pergilah, sebelum aku memanggil security." Ucap Ken membuat harga diri Stela hancur.
"Sialan, bagaimana bisa dia menolakku seperti ini? Tidak bisa, aku harus mencari cara lain, agar aku bisa mendapatkannya." Batin Stela kembali mengepalkan tangannya di bawah sana, guna menahan amarah dalam dirinya.
"Kamu akan menyesal, Ken. Aku pasti akan mendapatkanmu." Ucap Stela sambil bangkit dari kursi itu dan pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruangan Ken.
__ADS_1
Ken hanya tersenyum sinis sambil menatap kepergian Stela. Lalu setelah itu, Ken pun kembali memeriksa berkas-berkasnya yang tertunda.
Bersambung.