Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Bab 48


__ADS_3

Setelah lama terdiam, akhirnya Leta pun membuka mulutnya, "Ray! Hubungan kita sudah berakhir, aku harap kamu tidak menemuiku lagi."


"Tidak, Leteshia. Sampai kapanpun hububgan kita tidak akan pernah berakhir. Aku mencintaimu, dan kamu juga mencintaiku. Tidak akan ada yang memisahkan kita berdua, Leteshia." Ucap Ray kekeh dengan pendiriannya.


Leta menghela nafasnya panjang, kemudian ia keluar dari mobil Ray, dan berdiri di hadapan Ray.


"Ray! Seberapa pun kita berusaha untuk mempertahankan hubungan kita, jika Tuhan tidak menghendakinya, maka kita akan tetap berpisah, Ray." Seru Leta tanpa melepaskan pandangannya dari wajah mantan kekasihnya itu.


"Aku akan membawamu pergi dari sini. Dengan begitu, kita akan tetap bersama selamanya." Ucap Ray putus asa.


"Tidak, Ray! Aku mohon jangan seperti ini. Aku memang mencintaimu, Ray. Tetapi, aku tidak bisa melanggar janjiku kepada pamanku. Atau hidup keluarga pamanku akan hancur. Aku mohon jangan berpikiran seperti itu lagi, dan jangan temui aku lagi, sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa bersama." Seru Leta sambil mengusap wajah Ray lembut. Usapan lembut itu mungkin akan menjadi usapan terakhir yang ia berikan kepada Ray.

__ADS_1


"Tapi, aku tidak sanggup kehilanganmu, Leteshia. Aku sangat mencintaimu, selama beberapa tahun aku selalu mencintaimu. Aku.... "


"Ray! Please. Jika kamu terus seperti ini, hatiku akan semakin sakit." Sela Leta terdengar sangat sendu membuat hati Ray semakin hancur dan sakit.


Ray mengusap wajahnya frustasi, apakah cintanya harus benar-benar berakhir? Apakah penantiannya selama beberapa tahun harus sia-sia? Mengapa Tuhan sangat tidak adil padanya? Selama ini Ray selalu menjaga cinta dan kesetiaannya hanya untuk satu perempuan, yaitu Leta. Namun disaat ia benar-benar sudah membulatkan tekadnya untuk menikahi gadis yang paling di cintainya itu, Tuhan justru malah memisahkannya.


Ray menatap dalam kedua bola mata sang pujaan hatinya, keduanya saling berpandangan dengan hati yang sama-sama hancur. Air mata Leta mulai terjatuh membuat Ray langsung mengulurkan tangannya dan menghapus langsung kristal bening itu.


"Aku,,, aku tidak ingin menangis, Ray. Tetapi, air mataku jatuh dengan sendirinya." Sahut Leta sangat sendu.


Ray membawa mantan kekasihnya itu ke dalam pelukannya, Leta hanya diam, ia tidak mendorong Ray sama sekali, Leta berpikir ini adalah pelukan terkahirnya bersama laki-laki yang di cintainya itu.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi, ini semua salahku, karena aku terlambat membawamu pergi, seandainya aku tidak pergi terlalu lama, mungkin kamu tidak akan semenderita ini, mungkin kita akan hidup dengan bahagia, dan semua ini tidak akan terjadi." Ucap Ray yang sangat menyesali kepergiannya sendiri.


"Tapi, aku tetap tidak akan menyerah, Leteshia. Aku pasti akan merebutmu kembali dari laki-laki itu." Batin Ray sambil mengelus lembut pucuk kepala Leta.


"Ini bukan salahmu, Ray. Ini semua sudah takdir kita." Seru Leta sambil membalas pelukan terakhirnya itu.


"Pelukan ini, mungkin akan menjadi pelukan terakhir kita, Ray. Semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku. Aku harap kamu bahagia." Batin Leta sambil menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik mantan kekasihnya.


Kini keduanya saling berpelukan, tanpa adanya suara, keduanya saling melepaskan perasaannya masing-masing, perasaan yang sangat sakit luar biasa karena harus berpisah dengan orang yang paling mereka cintai.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua sedari tadi sambil mengepalkan tangannya..

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2