
Tidak lama kemudian mobil yang di kemudikan oleh Seth pun tiba di kediaman Georgy. Seth langsung menghentikan laju kemudinya, dan bergegas turun, lalu berjalan menuju pintu bagian belakang.
"Silahkan, bos." Ucap Seth ketika ia sudah membukakan pijlntu mobil untuk bosnya tersebut.
"Hmm." Ken hanya berdehem pelan, lalu setelah itu ia pun langsung turun dari dalam mobilnya, di susul oleh Leta.
Ketika Leta mendaratkan kedua kakinya di tanah, Ken pun dengan sigap mengangkat tubuh Leta, membuat gadis itu terkejut.
"Kamu mau apa, Ken! Cepat turunkan aku, aku bisa jalan sendiri." Pinta Leta sembari memukul pelan dada bidang milik suaminya tersebut.
"Diamlah, sayang. Aku akan menggendong dan mengantarmu sampai kamarmu." Sahut Ken seraya melangkahkan kedua kakinya memasuki kediaman Georgy.
"Tapi aku bisa jalan sendiri, Ken. Jadi turunkan aku sekarang."
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendiri dengan kaki yang sakit. Jadi, sebaiknya kamu diam, ok." Ucap Ken tanpa menghentikan langkah kakinya di susul oleh Seth dari belakang.
Setelah sampai di depan pintu kediaman Georgy, dengan sigap Seth pun langsung menekan bel yang berada di dekat pintu tersebut. Tidak lama kemudian seorang pelayan pun membuka pintu itu lebar.
"Biarkan kami masuk." Ucap Ken membuat si pelayan itu menyingkir perlahan.
"Silahkan, tuan." Sahut pelayan itu ketika ia sudah berdiri di samping.
Ken dan juga Seth pun segera melangkahkan kedua kakinya memasuki kediaman Georgy.
__ADS_1
Pak Antonius yang melihat kedatangannya pun terlihat sangat terkejut, apalagi ketika ia melihat Ken sedang menggendong keponakannya itu, tentu saja membuat pak Antonius bertanya-tanya dalam hatinya.
"Selamat malam tuan Ken, tuan Seth. Silahkan duduk." Sapa pak Antonius sambil tersenyum ramah namun terlihat sedikit gugup.
"Ya, selamat malam Pak Antonius, saya kesini hanya ingin mengantarkan Leta saja. Anda tidak perlu gugup seperti itu." Ucap Ken yang melihat kegugupan pak Antonius.
"Ah iya, tuan Ken. Silahkan." Sahut pak Antonius masih memperlihatkan senyumannya yang ramah itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak Antonius." Pamit Ken yang mendapat anggukkan kepala dari pak Aantonius. Setelah itu Ken pun langsung melangkahkan kedua kakinya menuju anak tangga.
"Ken, cepat turunkan aku, aku bisa jalan sendiri." Bisik Leta membuat Ken merasa panas dingin. Padahal Leta hanya meminta Ken untuk menurunkannya, namun entah mengapa Ken merasa terangsang ketika ia mendengar bisikkan yang keluar dari mulut calon istrinya tersebut.
"Sial! Apakah dia tidak tahu kalau bisikkannya itu sudah membuatku panas dingin seperti ini? ****.. . Kenapa si tom sangat sensitif sekali." Batin Ken sambil berusaha untuk menghilangkan pikiran kotornya itu.
Seketika Ken menghentikan langkah kakinya di pertengahan anak tangga, ia menatap Leta dengan tatapan yang sulit di artikan. "Sebaiknya kamu jangan berbisik lagi, sayang. Karena itu bisa membahayakan dirimu sendiri, mengerti." Ucap Ken membuat Leta bingung tidak mengerti.
Lalu setelah itu Ken pun kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kamar Leta. Setelah tiba depan pintu kamar Leta, Ken pun langsung menghentikan langkah kakinya itu.
"Ini kamarmu, bukan?" Tanya Ken yang mendapat anggukkan kepala dari Leta. "Buka pintunya, sayang." Titah Ken dengan seulas senyuman di wajahnya yang tampan itu.
Leta menurut, ia pun meraih handle pintu dan membukanya secara perlahan. Setelah pintu itu terbuka, Ken kembali melangkahkan kedua kakinya memasuki kamar calon istrinya tersebut.
"Sudah sampai, cepat turunkan aku." Pinta Leta ketika ia sudah berada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Iya, sayang. Ini aku akan menurunkanmu." Sahut Ken seraya menurunkan Leta di samping tempat tidurnya.
"Terima kasih karena sudah mengantarku sampai kamar." Ucap Leta sambil memperlihatkan senyuman manis di wajahnya yang cantik itu.
"Sama-sama, sayang. Kamu istirahatlah, aku akan pulang dulu." Sahut Ken seraya mengelus lembut pucuk kepala Leta membuat wajah gadis itu memerah seketika dengan detak jantung yang mulai berpacu cepat.
"Emm iya hati-hati di jalan." Ucap Leta sambil berusaha untuk menormalkan detak jantungnya.
"Ciumnya mana." Pinta Ken dengan santai seolah-olah ia sedang meminta minuman saja. Leta yang mendengar permintaannya pun seketika membulatkan kedua bola matanya sempurna, bisa-bisanya laki-laki ini meminta ciuman darinya dengan wajah yang santai seperti itu. Sungguh menyebalkan sekali.
"Kamu!!! Dasar mesum." Teriak Leta membuat Ken terkejut setengah mati.
"Astaga... Kenapa kamu selalu berteriak dengan tiba-tiba? Apakah kamu itu keturunan tarzan! Menyebalkan sekali." Omel Ken kesal.
"Sudahlah, aku pergi dulu. Kamu istirahat, jangan banyak gerak, mengerti." Sambung Ken kembali mengelus pucuk kepala Leta lembut.
"Hati-hati di jalan, sekali lagi terima kasih sudah mengantarku pulang."
"Iya, sayang. Sebagai ucapan terima kasihmu, izinkan aku mencium keningmu." Ucap Ken dengan lembut. Kemudian ia pun langsung mendaratkan kecupannya di kening Leta tanpa menunggu jawaban dari calon istrinya tersebut.
"Aku pulang dulu, sayang. Good night baby. I love you." Ken kembali berpamitan kepada Leta yang saat ini masih terdiam mematung. Setelah itu Ken pun berbalik dan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Leta.
Bersambung.
__ADS_1